APA SIH SAKINAH ITU?

Saat ini banyak terpampang di media sosial, baik tulisan atau video, tentang suami kekinian yang jadi idaman para wanita. Sang suami digambarkan tidak hanya getol mencari nafkah tapi juga piawai mengerjakan urusan rumah tangga. Dengan ungkapan kalau istri bukanlah pembantu, istri tidak wajib memasak, bukan tugas istri untuk beberes di rumah, dan sebagainya.

Hingga seorang pria bertanya, “Apa gunanya peran istri? Jika suami jaman sekarang dituntut untuk harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dan tetap harus mencari nafkah juga.”

Peran istri itu untuk membuat suami tenang. Merasa SAKINAH.

Sakinah itu artinya tentram, damai, dan nyaman di dekat istrinya.

Setiap rumah tangga berbeda keadaannya. Beda kulturnya, beda ekonominya. Ada yang saling berbicara dengan keras, ada yang tidak. Ada yang kekurangan, ada yang tajir melintir.

Karena itulah, takaran sakinah pada tiap pasangan tidak bisa disamakan. Ada suami yang membiarkan istrinya bekerja. Karena kalau di rumah saja, istrinya malah bisa stress, karena biasa aktif di luar sejak dulu. Merasa tidak tertantang secara intelektual, misalnya. Selama suaminya ridho, senang, nggak apa-apa kalau suami pulang nggak dipijitin karena istri sudah capek juga, malah rebahan bareng di lantai depan TV. Selama mereka bahagia, itu SAKINAH. Tak perlu diberi nasihat, “Istana istri adalah di rumah suaminya. Bla.. bla.. bla..”

Ada istri yang sukanya di rumah saja. Senangnya masak, bebenah, main sama anak, membuat rumah terasa nyaman bagi semua penghuninya. Suami pulang kerja dielus-elus sampai ketiduran. Biarkan saja, mereka berdua bahagia. Itu namanya SAKINAH. Jangan diceramahin tentang perempuan harus mandiri, punya karir, kesetaraan gender, bla..bla..bla..

Tidak semua istri ingin pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh suaminya. Ada yang mau mengerjakan sendiri, ada yang mau pakai asisten, atau mau beli peralatan canggih agar cepat selesai.

Tidak ada yang menuntut suami harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Wajibnya suami itu, memastikan pekerjaan di rumah kelar dengan baik. Bisa bayar asisten atau sesuai permintaan istri. Yang tidak boleh, memaksa istri membereskan semuanya dan bilang itu tugas istri. Tugas istri itu membantu suami memastikan semua berjalan dengan baik.

Tidak ada juga yang memaksa seorang suami mencari nafkah. Itu perintah Allah SWT. Dzalim dia kalau tidak dilaksanakan. Tapi kalau suami butuh bantuan istri dan anak-anak, dan mereka mau atas dasar cinta dan ridho Allah, maka mereka sudah SAKINAH.

Kalau mereka jadi bertengkar karena termakan nasihat yang tidak tepat sasaran, lalu menjadi tidak sakinah lagi, maka niat baik bisa menjadi dosa. Bila suami istri sudah tidak sepakat dalam banyak urusan, yang menyebabkan salah satu pihak tidak ridho, maka solusinya adalah menaikkan atau menurunkan standar, bila dirasa perlu. Itulah sebabnya mengapa mencari pasangan disuruh yang sekufu. Biar setiap bahasan dirundingkan berdua, ada kesepakatan. Bila mereka senang, maka yang lain harus diam.

Kasih sayang itu sifatnya timbal balik. Ketika istri ingin membuat masakan untuk suaminya, maka suami memberinya uang untuk belanja. Bisa menemaninya pergi ke pasar atau sampai mencuci piring selepas istri selesai masak. Dasarnya adalah kasih sayang dan ingin saling menyenangkan.

Di luaran orang bisa berteori apa pun tentang peran suami istri. Selama pasangan itu ridho, tercukupi, bahagia, akhirnya SAKINAH.

Pasangan menikah untuk membuat surga mereka sendiri di dunia, agar keterusan sampai akhirat.

Leave a Comment