Dulu, saya juga berpikiran sama seperti sebagian besar orang. Idul Adha itu harusnya sama di seluruh dunia, karena patokannya wukuf di Arafah. Kalau jamaah haji sedang wukuf, itu berarti tanggal 9 Dzulhijjah, bagi yang tidak berhaji disunahkan puasa, namanya Puasa Arafah.
Namun, setelah saya menulis buku “Dalam Naungan Cinta Al Haramain” sepulang ibadah haji tahun 2015, saya tersadarkan bahwa ternyata saya keliru.
Sebelum menulis, saya membaca buku-buku sejarah pelaksanaan ibadah haji, salah satunya kisah penamaan hari di bulan Dzulhijjah.
Jadi, Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijah itu ada sejarahnya. Yakni, sejarah Nabi Ibrahim ketika diperintahkan mengurbankan putranya, Ismail.
Nabi Ibrahim AS diberi mimpi secara berturut-turut selama tiga malam.
Malam tanggal 8 Dzulhijjah, beliau mimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih Ismail, tapi tak langsung dilaksanakan esoknya. Beliau merenung, benarkah itu mimpi dari Allah. Maka malam 8 Dzulhijjah di sebut malam Tarwiyah (perenungan). Tanggal 8 disebut Hari Tarwiyah.
Malam tanggal 9 Dzulhijjah, beliau mimpi lagi, barulah beliau mengetahui dan memahami bahwa mimpi itu datang dari Allah, maka tanggal 9 Dzulhijah disebut Arafah (Mengetahui/meyakini).
Malam tanggal 10 Dzulhijjah, beliau bermimpi ketiga kali, akhirnya esoknya beliau menyampaikan mimpi itu kepada Ismail dan istri beliau, Hajar. Dilaksanakanlah pengurbanan (Nahar) maka tanggal 10 disebut Hari Nahar.
Hal kedua yang saya tahu, Syariat puasa Hari Arafah itu ditetapkan pada tahun 2 H ketika Nabi Muhammad SAW hijrah di Madinah, jadi sebelum Idul Adha, Rasulullah mencontohkan puasa sunah ini kepada para sahabat.
Ada pun wukuf yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy saat berhaji (haji sebagai ritual peninggalan Nabi Ibrahim AS) ternyata tidak di Padang Arafah suka-suka mereka tempatnya.
Barulah, ketika Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji yang disebut Haji Wada pada tahun 10 H, wukuf secara syariat dan kemudian diajarkan dengan manasik (tata cara) oleh beliau dilaksanakan di Padang Arafah. Jadi wukuf Arafah merujuk pada nama tempat. Di sana beliau menyampaikan khutbah wukuf atau khutbah haji.
Padang Arafah sendiri secara sejarah merupakan tempat pertemuan Nabi Adam AS dan Hawa setelah diturunkan dari surga. Arafah di sini bermakna pertemuan (kembali) atau mengenal. Maka ada duo pemaknaan Arafah di sini merujuk nama hari (waktu) dan merujuk nama tempat.
Satu lagi fakta yang menunjukkan bahwa hukum Puasa Arafah itu lebih dulu daripada Wukuf Arafah adalah hadits yang diriwayatkan istri Rasulullah SAW, Maimunah r.a:
“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Logikanya kalau Puasa Hari Arafah patokannya wukuf, nggak akan ada hadits riwayat di atas. Buat apa tengah berpanas-panas di Padang Arafah malah ada pertanyaan “Rasul puasa apa enggak ya?”
Dan kenyataannya waktu haji dulu, saya pun nggak kepikiran Puasa Hari Arafah, karena fokus pada aktivitas wukuf yang walaupun berdiam diri tapi betul-betul perlu stamina kuat, karena panasnya Padang Arafah.
Dari hadits itulah, Imam Syafii menyimpulkan para jamaah haji disunahkan tidak melaksanakan Puasa Hari Arafah. Kebalikannya yang tidak wukuf, sunah berpuasa Arafah.
Akhirnya, saya pun mengambil kesimpulan diri setelah menulis. Ya Allah betapa pentingnya orang belajar sejarah agar tidak mudah merasa benar sendiri.
Idul Adha dan ibadah Haji secara sejarah memang sama-sama berkaitan sebagai peninggalan Nabi Ibrahim AS, akan tetapi setelah datangnya Nabi Muhamammad SAW keduanya memiliki syariat masing-masing, berdiri sendiri meskipun pelaksanaanya bersamaan secara waktu.
Karena Hari Arafah merujuk waktu, maka penentuannya berdasarkan terbitnya bulan sebagai tanda pergantian hari di masing-masing tempat.
Dari laman Rumah Fiqih Indonesia (Ust. Ahmad Sarwat), saya membaca justru Fatwa resmi ulama Kerajaan Saudi Arabia yang menjelaskan, dari para fatwa ulama negeri lainnya terkait Puasa Arafah, penentuan puasa dan Idul adha diserahkan ke masing-masing negara.
Salah satu ulama besar di Saudi adalah Syeikh Al-Ustaimin rahimahullah menyampaikan petikan berikut:
“Begitu juga bila ditetapkan hasil rukyat negara itu tertinggal dari Mekkah, sehingga tanggal 9 di Mekkah menjadi tanggal 8 di negara itu, maka penduduk negara itu puasanya pada tanggal 9 menurut negara itu, walaupun itu berarti sudah tanggal sudah tanggal 10 di Mekkah. (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin).
Dari sini kesimpulannya, penentuan Puasa Arafah dan Idul Adha diserahkan kepada keputusan negara masing-masing dalam penentuan awal Dzulhijjah.
Akhirnya kita akan dikembalikan pada keyakinan yang berbasis penggunaan metode, apakah Rukyatul Hilal ataukah Hisab.
Jika dengan metode hisab meyakini hari ini tanggal 9 Dzulhijjah maka hari ini Puasa Arafah, besok Idul Adha lanjut berkurban.
Namun, kalau berdasarkan rukyatul hilal ternyata hari ini diyakini masih 8 Dzulhijjah, maka puasa hari arafahnya besok, dan sholat Id nya hari Kamis, 29 Juni 2023.
Kalau sudah yakin, istiqomahlah. Misal hari ini puasa, maka besok sholat Ied, jangan dicampur, maksudnya sholat ied-nya ikutan hari Kamis.
Wallahu ‘Alam.
Wikan Rusdi, penulis buku Dalam Naungan Cinta Al Haramain.
(dikutip dari WAG)