Meningkatkan Engagement Sosial Media


Dalam menjalankan sosial media organisasi tidaklah semudah menjalankan sosial media akun pribadi. Jangankan untuk mendapatkan subscribers atau followers dan like, untuk mendapatkan viewers saja, itu susah sekali.


Karena media sosial itu sifatnya suatu keterikatan secara emosi, dimana penonton hanya mau melihat apa yang sesuai minatnya. Maka ketika ia menimbang-nimbang untuk melihat keseluruhan konten, di saat itulah mulai proses filterisasi penonton.


Salimah sebagai organisasi yang memfokuskan diri kepada isu-isu perempuan, anak, keluarga dan dunia islam, tidak perlu berkecil hati, bila penontonnya tidak sebanyak konten-konten hiburan misalnya. Justru konsistensi di bidang tersebut bisa dijadikan kekuatan, memperlihatkan kita ahli di bidang tersebut.


Karena itu perlu sekali seorang humas mengetahui visi misi organisasi agar bisa membuat ragam konten sesuai karakteristik masing-masing media sosial. Kita perlu langkah-langkah khusus untuk meng-create konten untuk menterjemahkan visi misi organisasi. Humas memiliki tantangan bagaimana menjadikan teknologi bisa menjawab kebutuhan media sosial kita.


Ada empat prinsip utama dari media sosial, yaitu keterbukaan, kolaborasi, sharing, acting globally. Bagaimana kita melihat, sebenarnya evaluasi  tampilan media, itu lebih penting. Apakah media sosial yang kita miliki sudah bisa dimanfaatkan dengan baik oleh anggota-anggotanya untuk kemudian di-share  ke  jejaringnya sendiri.


Platform WhatsApp bisa dimanfaatkan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. WhatsApp menawarkan potensi untuk menciptakan interaksi dan memperkuat ikatan emosional. Satu poin utama, kita tahu target kita itu siapa. Ketika ini sudah kita tahu maka kita akan mendapatkan langkah-langkah lain.


Prinsip dasar media sosial salah satunya adalah kolaborasi, artinya kita bekerjasama /bermitra dengan lembaga-lembaga sosial, misalnya. Kita bisa membuat konten bersama, seperti Live Streaming. Ini dapat meningkatkan user engagement dengan melakukan siaran langsung terkait kegiatan yang sedang dilaksanakan.


Penyusunan jadwal dengan menggunakan kalender konten, merupakan alat yang efektif untuk mengkoordinasikan pembuatan konten.
Manfaat kalender konten diantaranya untuk menjaga kinerja organisasi, membuat jadwal konten yang konsisten, dan memusatkan perencanaan konten.


Untuk meningkatkan engagement media sosial, selain harus mengenali target audiens, buat konten yang tidak hanya menarik (sudah banyak juga akun yang  menggunakan AI untuk kreasi kontennya), tapi juga bernilai, dan konsisten memposting konten. Jangan lupa gunakan berbagai format konten.


Berinteraksi jugalah dengan para pengikut. Bisa dengan mengadakan sesi tanya jawab, memberikan kuis berhadiah, mengisi polling, atau meminta komentar. Dapatkan masukan dan saran dari audiens secara real-time untuk membantu peningkatan brand.


Terakhir, gunakan hashtag yang relevan. Sejatinya, tidak ada aturan pasti mengenai berapa banyak hashtag yang disertakan dalam postingan. Dari sisi audiens, penggunaan hashtag memungkinkan pengguna menemukan konten dengan topik tertentu sesuai keinginannya. Dari sisi organisasi atau perusahaan, penggunaan hashtag memungkinkan konten mereka mudah ditemukan.


Platform media sosial masih menjadi wadah untuk dukungan terhadap gerakan sosial dan isu tertentu. Penggunaan media sosial sebagai alat aktivisme dan advokasi diprediksi akan terus berkembang. Organisasi perlu mempertimbangkan dampak sosial dan moral dari keputusan penggunaan teknologi, serta memastikan keberlanjutan yang bertanggungjawab.


(Emy, Humas Salimah PW Jakarta)

Leave a Comment