Membentuk Ketahanan Keluarga : Antara Janda, Otak, dan Ngorok

Jakarta (15/08/24)-“Keluarga sakinah itu dambaan semua orang, bu. Melalui keluarga sakinah akan dilahirkan generasi yang berkualitas. Beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Sekaligus mampu mewujudkan ketahanan keluarga dari persoalan dan permasalahan yang dihadapi.”

Demikian tausyiah yang disampaikan oleh Hj. Nur Elliza, pada kegiatan pemberian santunan bagi para janda, binaan Pimpinan Daerah Persaudaraan Muslimah (PD Salimah) Jakarta Utara, Rabu, 14 Agustus 2024.

Acara yang digelar di ruang ibadah Conversation Hall, Jakarta Islamic Centre tersebut, merupakan kegiatan rutin kajian per dua pekan. Dihadiri oleh para pengurus dan anggota majelis taklim. Ada 50 orang janda binaan, dan kali ini sebanyak 25 orang terpilih karena keaktifannya, untuk mendapatkan santunan dari Salimah.

Di antara para tamu, hadir pula ketua Pimpinan Wilayah (PW) Salimah Jakarta, humas PW, dan pengurus depdiklat PD Jakarta Selatan, yang memberikan arahan dan berbagi pengalaman tentang pembentukan Sekolah Lansia (Salsa) Salimah.

Selain kata sambutan, dr. Yulia Andani Murti, selaku ketua PW, sekaligus menyampaikan bagaimana merawat nikmat otak di masa usia senja. Menerapkan pola makan sehat, melatih otak dan mengkaryakan kerja otak, adalah tips yang disampaikan.

“Kita harus sering melatih otak, agar tidak gampang lupa. Salah satu caranya adalah dengan sering mengaji dan menghafal Al Qur’an,” kata Yulia.

“Ibu tahu nggak, kenapa ada orang sering ngorok saat tidur? Kebiasaan ngorok dapat dikurangi bila membiasakan mengucapkan makhroj huruf dengan benar kala mengaji.”

“Salah satu sebab ngorok kan karena posisi lidah di mulut, menghalangi keluar masuknya udara ke kerongkongan. Relatif masih aman kalau suara ngoroknya teratur. Tapi waspadai ngorok yang disertai jeda, ini bisa mengakibatkan kematian dalam tidur.”

Ibu-ibu disarankan untuk tetap semangat belajar tahsin, walau sudah tua. Ketika berlatih mengucapkan huruf tebal, saat itulah lidah kita dilatih agar selalu berada di posisi yang tepat. Hingga bisa terhindar dari suara ngorok saat tidur.

Acara juga dimeriahkan dengan lantunan syair-syair islami dari group hadroh, bentukan Salimah Jakarta Utara. Barakallahu.

(Emy, Humas PW Jakarta)

WALAU BERBEDA GAYA, KITA TETAP SAUDARA

Jakarta (12/8/2024)-Ahad pagi yang cerah di kota Jakarta. Matahari bersinar cukup terik. Langit biru hanya dihiasi gumpalan kecil awan-awan putih. Birunya langit hampir sama warnanya dengan birunya atap mesjid Pondok Indah, Kebayoran Baru.

Kali ini mesjid diramaikan oleh kehadiran ibu-ibu dari berbagai organisasi muslimah, anggota Majelis Taklim, dan pengurus Persaudaraan Salimah (Salimah) dari Jakarta dan sekitarnya. Ibu-ibu akan memperingati tahun baru Hijriyah 1446 H atas undangan Pimpinan Pusat (PP) Salimah.

Acara bertemakan Hijrah dan Semangat Baru, Menguatkan Persaudaraan dan Kepedulian ini, digelar dalam bentuk talkshow, bersamaan dengan santunan anak yatim, tebar jilbab dan tutorial pemakaian jilbab yang modis namun tetap syar’i dari Hijabers Community.

Menampilkan tiga narasumber, Dr. Nur
hamidah, Lc, M.Ag dari Salimah, Nurjannah Hulwani, S.Ag, ME dari KPIPA, dan artis Dewi Sandra. Mereka berbicara tentang hijabnya kaum muslimah alias jilbab, dari berbagai wawasan dan situasi.

“Kalau kita melihat muslimah memakai baju dan jilbab yang modis, jangan langsung menghakiminya tidak syar’i. Karena busana demikian termasuk yang disebutkan dalam surah An Nur,” jelas Nur Hamidah.

Ia lalu melanjutkan, “Dan kalau kita melihat muslimah memakai jilbab dari kepala bersambung sampai ke badan dan kaki, itu berarti ia mengamalkan surah Al Ahzab.”

Para peserta manggut-manggut, mendapat wawasan baru, agar kita jangan suka menghakimi orang lain, tanpa tahu dasar hukumnya. Apalagi pemaparan dilengkapi dengan layar yang menampilkan gambar contoh aneka pakaian dan jilbab muslimah.

PW Jakarta dan PW Banten

Sementara itu Nurjannah yang berkecimpung di bidang kePalestinaan menceritakan bagaimana muslimah di sana tetap berupaya menutup aurat di tengah situasi terbatas karena perang.

Adapun Dewi Sandra mengungkapkan bagaimana persaudaraan itu diamalkan tanpa kenal lelah, terkait dengan pengalaman sendiri.

“Selama setahun saya terus dikirimi chat berisikan tausyiah oleh seorang ibu. Walau kadang saya tidak ada respon, ia tetap melakukannya. Hingga suatu saat, saya tergerak untuk mengikuti kajian. Walau saya hadir dengan memakai celana jean robek-robek, pakai selendang yang naik turun, duduk paling depan, namun tak seorang pun yang menatap saya dengan sinis. Semuanya ramah, bahkan meminta saya untuk datang kembali. Saya merasa dirangkul,” ungkap Dewi mengenang awal hijrahnya dulu.

Dewi yang kini sudah berbusana syar’i, meminta agar tidak difoto. Karena ia sedang membatasi diri untuk tidak tampil hanya dengan membawa keartisannya. Ia ingin belajar agama lebih lanjut, agar bisa menyampaikan sesuatu yang lebih bermakna bagi ummat. Ia tak ingin kehadirannya hanya sekedar sebagai penarik massa untuk hadir.

Salimah PD Jakarta Utara
Bersama PC Cengkareng

Acara semakin semarak dengan iringan hadroh, bazar dan pembagian hadiah doorprise. Dilengkapi dengan pertemuan sesama pengurus dari berbagai daerah, sungguh menyenangkan dan penuh keberkahan.

Humas se Jabodetabek

(Emy-Humas PW Jakarta)

BERSINAR MELALUI SEMINAR

Ibu-ibu mengikuti seminar bisnis

Mengikuti seminar, seperti seminar bisnis  sangat penting bagi kaum ibu, karena memberikan peluang untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam dunia usaha.

Seminar bisnis menawarkan berbagai informasi tentang strategi pemasaran, manajemen keuangan, dan tren industri terbaru yang dapat membantu ibu-ibu dalam merencanakan dan menjalankan usaha mereka dengan lebih efektif.

Dengan mengikuti seminar, kaum ibu dapat mengakses berbagai sumber daya, alat praktis, dan panduan yang dapat meningkatkan peluang kesuksesan bisnis mereka.

Suasana seminar

Selain itu, seminar bisnis usaha juga memberikan kesempatan bagi kaum ibu untuk membangun jaringan dan menjalin hubungan dengan pengusaha lain serta mentor yang berpengalaman. Interaksi ini tidak hanya memperluas wawasan mereka tetapi juga dapat membuka peluang kolaborasi dan dukungan yang berharga.

Dengan berbagi pengalaman dan mendapatkan inspirasi dari sesama peserta, ibu-ibu dapat lebih percaya diri dalam mengatasi tantangan bisnis dan memanfaatkan peluang yang ada.

Di seminar pula kita dapat mengajukan berbagai pertanyaan secara langsung kepada narasumber. Seperti pertanyaan tentang bagaimana mempertahankan usaha.

Dunia usaha tidak bisa selalu berhasil berada terus di posisi atas. Sesuatu yang di atas, suatu saat akan turun. Demikian juga yang di bawah, suatu saat akan naik. Untuk bisa tetap bertahan di atas, senantiasa diperlukan pembaharuan. Menyesuaikan dengan zaman, atau mencoba hal baru. Tidak mengapa untuk turun sejenak, berganti haluan, mencoba lagi semua dari awal.

Foto bersama selesai seminar

Pertanyaan seperti, “Saya ingin memulai usaha. Tapi belum yakin mau usaha apa. Ingin iseng-iseng coba dulu. Bagaimana usaha yang dimulai dari keisengan?”

Kita bisa mendapatkan jawaban dengan jangan remehkan keisengan. Bisa jadi ilham untuk melakukan keisengan tersebut merupakan awal jalan terbukanya pintu kesuksesan. Berapa banyak orang yang sukses menjalani usaha dimulai dari keisengan untuk mencoba-coba.

Walau ilham yang didapat bagai tak berarti, kondisi serasa tak memungkinkan, padahal impian begitu besar. Lakukan saja. Bisa jadi impian terwujud bukan dari keuntungan menjual produk, namun didapat dari bantuan orang lain yang melihat integritas diri kita.

Dunia usaha sangat luas. Banyak yang harus digali dan dicermati. Jadi, jangan ragu untuk terus belajar. Ayo ikut seminar!

GA PUNYA BUDGET UNTUK NGEREKRUT, MAU GIMANA?

Seorang peserta seminar bertanya

“Saya ingin mengajak orang lain untuk membantu usaha. Saya punya usaha Rumah Belajar. Tapi usaha ini belum besar, belum menghasilkan banyak keuntungan. Saya mengerjakan sendiri semuanya. Bagaimana saya bisa merekrut orang untuk membantu saya, agar lebih punya waktu untuk keluarga, sedangkan dana untuk memberi gaji tidak ada?”

Demikian pertanyaan seorang ibu peserta seminar Wanita Berdaya, Keluarga Sejahtera, yang diadakan oleh departemen ekonomi Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (PW Salimah) Jakarta pada Ahad, 28 Juli 2024 di The H Tower, Jl. Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Rendy Saputra sebagai narasumber seminar, balik bertanya kepada para peserta, apa bedanya dakwah terencana dengan dakwah yang tidak terencana? Sama-sama mengadakan pengajian. Tapi bagi seorang dai yang memiliki rencana, ia akan mengajak jemaahnya untuk melakukan sesuatu bersama.

“Setelah ini jemaah akan aku mentoring, akan aku tarbiyah, setelah ini akan aku gerakkan menjadi penggerak, akan aku buka kesempatan menjadi relawan,” ujar Rendy memberi contoh.

” Yang lain juga melakukan kajian, tapi tidak ada kelanjutan. Hanya ceramah, hanya membangun ketokohan, sudah puas bila memiliki massa yang banyak. Tidak ada pengkaderan.”

“Milikilah suatu rencana walaupun saat ini belum bisa berbuat banyak. Itu akan merubah sikap kita. Ketika kita berpikir untuk melakukan hal yang lebih besar dan keluar dari kesibukan rutinitas mengajar, maka kita bisa mengajari keponakan misalnya, untuk jadi seorang pengajar,” ungkapnya.

Kita harus mulai percaya kepada orang lain, harus mulai berlatih untuk bisa mendelegasikan. Harus mulai bicara ke pasangan perihal pendelegasian tugas ini, agar suami juga punya bayangan bagaimana nanti.

Jadi semuanya terencana. Mulai belajar membangun sistem. Itu yang membedakan orang yang memiliki rencana dengan orang yang tidak memiliki rencana. Itu akan membedakan kita dengan orang lain.

Its okey start from zero. Nggak papa dari nol dalam bisnis, tapi milikilah visi yang jauh ke depan. Jangan puas dengan hanya mengajar. Jangan puas hanya dikenal di lingkungan terdekat,” sulut Rendy lagi.

“Buat group WA, ini jemaah mau diapain, arahkan, himpun dana, bikin kegiatan sosial, bikin rumah Qur’an kalau belum bisa bikin pondok pesantren. Tunjukkan konsisten. Bila punya value, sumber daya akan datang.”

Ice breaking di seminar

Jadilah komando suatu saat nanti. Harus istiqomah, terus belajar, dan jangan baperan (terbawa perasaan). Tidak semua orang suka dengan apa yang kita lakukan. Tapi tetaplah bergerak, miliki rencana besar. Ingat kisah nabi SAW ketika memecah batu di perang Khandak.

(Emy, Humas PW Salimah Jakarta)

TIGA MITOS BISNIS YANG HARUS DIHILANGKAN

Rendy Saputra, narasumber seminar bisnis

Dalam menjalankan usaha, kita semua pasti punya mindset yang kita sebut dengan pola pikir. Jadi sebetulnya, sebelum seseorang berbuat, pasti ia punya pola pikir dulu. Maka kalau pola pikirnya positif, ia akan menghasilkan hasil yang positif, sedangkan kalau ia memiliki pola pikir yang negatif maka akan menghasilkan sesuatu yang negatif.

Ketika kita ingin mengubah result (hasil), maka yang kita sikapi pertama kali itu mindset nya. Di tarbiyah kita menyebutnya fikroh. Fikroh melahirkan perbuatan amal, dimana amal kemudian melahirkan hasil. Jadi ini yang harus kita pahami ketika membicarakan enterpreneurship.

Yang dibombardir pertama kali adalah pola pikirnya. Bukan cara jualan, bukan cara menyapa di whatsapp, dan bukan pula menyiapkan program. Tapi yang harus diberesin dulu adalah cara berpikir. Karena pikiran terkadang diracuni oleh mitos-mitos tidak benar, sehingga menghambat diri dan usaha untuk berkembang.

Berikut tiga mitos dalam berbisnis :

  1. Uang menciptakan uang.
    Sering orang berpikir, kalau tidak ada modal, bagaimana mau berbisnis?
    Bisnis pasti melayani market (pasar). Lalu bagaimana agar market bisa menghasilkan uang?

Mengapa kita mau mengeluarkan uang untuk membeli suatu produk atau membayar sekian ratus ribu untuk suatu pelatihan? Karena ADA NILAInya. Karena produknya bernilai sesuatu. Yang bernilai pasti kita mau bayar.

Uang dalam kamus bahasa Indonesia disebut sebagai alat tukar nilai. Berarti uang itu menukarkan yang bernilai.
“Ibu, ini ada skincare yang akan membuat wajah ibu menjadi glowing,” kata si sales. Karena bernilai glowing, maka kita mau membeli skincare tersebut.

Uang itu mengalir karena ada nilainya. Ketika bernilai, uang datang. Maka bukan uang yang menciptakan uang tapi value (nilai) yang menciptakan uang.

Ada orang yang tidak punya modal, tapi karena ia terkenal jujur dan amanah, maka itu menjadi value dari dirinya, sehingga orang mau membayar di depan untuk memesan produknya.

Banyak orang yang memiliki banyak modal, tapi tidak menghasilkan. Punya ruko (rumah toko) tapi hanya kosong, tentu tidak menghasilkan uang. Tapi ketika ruko tersebut diisi dengan value berupa usaha penjualan produk, maka ruko itu akan menghasilkan uang.

Mobil kalau tidak dipakai, tidak menghasilkan uang. Tapi ketika mobil tersebut dipakai untuk antar jemput laundry atau antar jemput anak sekolah, maka mobil itu jadi menghasilkan uang.

Ada sebuah perkumpulan bisnis baru yang isinya hanya mengobrol dengan santai. Karena harus membayar 2,5 juta bagi anggotanya, tentu bagi sebagian orang tidak berminat. Untuk apa bayar sebegitu mahal hanya untuk mengobrol. Tapi yang dilakukan pengelola perkumpulan tersebut sebenarnya adalah mempertemukan beberapa pelaku usaha. Mereka lalu saling menghubungkan usaha yang terkait, sehingga tentu itu sangat menguntungkan. Dalam waktu satu bulan, anggotanya sudah 30 orang. Luar biasa.

Jadi, ketika perkumpulan yang hanya mengobrol tersebut memiliki value, maka orang tidak keberatan untuk membayar. Maka mengalirlah uang.

Ingat, orang-orang akan mendukung kalau kita punya nilai atau produk kita memberikan nilai kepada mereka. Apa beda produk kita dengan produk yang lain? Berikan nilai, maka uang akan datang.

  1. Makin lama kerja keras, makin banyak uang masuk.
    Jangan menganggap banyak bekerja banyak uang, tapi bekerjalah dengan efektif. Delegasikan pekerjaan ke orang lain. Kita cukup memikirkan pekerjaan inti yang paling penting.

Biarkan orang lain yang mengerjakan pekerjaan seperti menyetir, menerima pesanan, membuat jadwal, dan sebagainya. Maulah berbagi tugas, agar bisa punya banyak waktu untuk kita sendiri, untuk anak dan pasangan. Permudahlah semua yang bisa dipermudah.

  1. Manusia adalah beban.
    Banyak orang yang menganggap, merekrut orang lain untuk membantu adalah beban. Karena pasti harus mengeluarkan uang untuk membayar jasa mereka. Akhirnya semua dikerjakan sendiri. Ya urusan usaha, ya urusan rumah tangga.

Banyak yang tidak bisa menerima orang lain. Semua merasa harus memegang sendiri, handle sendiri semua pekerjaan. Mulai dari belanja bahan, memproduksi, memasarkan, mengantar, dan sebagainya, padahal itu akan menyulitkan diri sendiri.

Memasak, mencuci, menyapu, ingin pula dikerjakan sendiri semua. Jangan ingin jadi wonder woman agar banyak pahala. Keletihan akan memicu amarah. Tidak ada waktu untuk anak, kemesraan dengan pasangan berkurang.

Habiskan waktu untuk memikirkan atau melakukan yang terpenting. Jangan sibukkan diri dengan hal-hal sepele. Biar orang lain saja. Biarkan diri didukung oleh orang lain. Diri kita adalah aset, orang lain juga aset. Manusia itu adalah aset, bukan beban, asalkan tepat. Itulah sebabnya mengapa nabi senang umatnya banyak.

(Emy, Humas PW Jakarta – dari seminar ekonomi Salimah : Wanita Berdaya, Keluarga Sejahtera, 28/7/2024).

TEMUKAN KEKUATAN UNTUK MASUK KE DUNIA USAHA

Kita tahu, terkadang memulai untuk memiliki usaha bagi ibu rumah tangga, bisa sangat sulit. Kita mungkin sering meragukan diri sendiri, takut terhambat oleh anak-anak,  dan terlalu memikirkan setiap keputusan. Ketika kita merasa seperti itu, tanyakan dengan lembut pada diri sendiri : “Mengapa saya perlu memilik usaha?”

Sebelum mengambil tindakan, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan apa yang memotivasi kita. Entah itu mencari stabilitas keuangan, ingin membantu keluarga, atau mengembangkan keterampilan anda.

Dengan memahami “alasan”, kita dapat membantu diri tetap fokus dan berkomitmen. Ketika tantangan muncul, “alasan” kita akan memberi kekuatan untuk terus bergerak maju.

Personil Dept. Ekonomi sedang rapat

Oleh sebab itu, Salimah merasa perlu menuntun para muslimah agar bisa mewujudkan alasan impian usaha mereka untuk menjadi nyata. Kiat bagaimana mengatasi banyak tantangan, dan cara menemukan jalan untuk memiliki usaha tanpa meninggalkan keluarga.

“Kami mengajak semua muslimah agar bergabung bersama kami dalam seminar WANITA BERDAYA, KELUARGA SEJAHTERA,” ungkap Ninik Riwahayuanti, ketua departemen ekonomi Salimah Jakarta, saat survey lokasi acara.
“Kita akan mendengarkan kisah inspiratif dan mempelajari tips praktis untuk membantu perjalanan membangun usaha sendiri.”

Survey lokasi

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada Ahad, 28 Juli 2024, bertempat di
The H Tower, lt.15D, Jl. HR. Rasuna Said Kav. C20, Jakarta Selatan ini, menargetkan minimal 100 orang peserta untuk hadir.

Dengan menampilkan Rendy Saputra, seorang pakar motivator bisnis, peserta akan mendapat berbagai ilmu, seperti bagaimana belajar mengatasi rasa takut untuk memulai usaha, bagaimana mantan pekerja kantoran beradaptasi dengan lingkungan usaha, mencari tahu cara memulai usaha  dengan keahlian saat ini, dan mendapatkan inspirasi dari kisah-kisah bertahan menjalankan usaha dan pentingnya selalu belajar.

Diskusi stand bazar, dsb

“Yuk jangan lewatkan kesempatan emas ini! Bergabunglah dengan kami dan mulailah perjalanan anda menuju dunia usaha sekarang!” ajak ketua panitia, Ferra Trisiana dengan penuh semangat.
“Silakan hubungi 08111155900 atau 081399690690 untuk pendaftaran. Biayanya hanya infak terbaik seikhlasnya.”


Menemukan keseimbangan antara bisnis dan keluarga yang disertai dengan kesehatan mental dan emosional, merupakan impian banyak orang. Hal tersebutlah yang ingin diwujudkan dalam mengikuti seminar ini.

(Emy, Humas PW Salimah DKI Jakarta)

AKIBAT SULIT AIR, MINUM PIL ANTI HAID DAN BOTAKIN KEPALA

Perang di Palestina masih berlanjut hingga kini. Jangan kendurkan keingintahuan tentang nasib saudara kita di sana. Laporan pada 27 Mei 2024, telah jatuh korban syahid 36 ribu jiwa dan luka parah mencapai 81 ribu orang. Dalam sehari, pembantaian bukan hanya terjadi sekali, tapi bisa sampai belasan kali. Sehingga dalam satu keluarga besar bisa kehilangan  puluhan anggotanya. Bahkan di Gaza sudah terhapus 132 silsilah (marga) keluarga.

Gaza luasnya separuh dari Jakarta. Dibombardir sedemikian rupa selama sembilan bulan lebih. Hingga hari ini kita saksikan genosida (penghancuran tubuh) berlangsung terus di sana, dan menjadi update berita sehari-hari. Ada yang kepalanya sudah putus, ada anak yang memunguti tubuh ibunya yang sudah hancur, dikumpulkan walau hanya dikafani dengan kain putih kecil. Demikian juga sebaliknya, seorang ibu yang memunguti sisa  potongan tubuh anaknya.

Sisa pertahan umat, hanya tinggal di Gaza. Target zionis Israel adalah untuk menghacurkan Masjidil Aqsa. Tanah sudah mereka ambil, mesjid sudah 70 tahun lebih mereka nodai. Bila warga Gaza mengibarkan bendera putih dan tidak kuat lagi dengan penyiksaan sedemikian rupa, maka zionis akan mudah menghancurkan Masjidil Aqsa. Bila ini terjadi, maka fardhu kifayah penjagaan Masjidil Aqsa akan batal. Kita semua umat muslim seluruh dunia akan dibebani kewajiban menjaga Masjidil Aqsa. Bayangkan mahalnya biaya karena jaraknya yang jauh dengan resiko menghadapi baku tembak pula.

Maka kita harus menguatkan saudara-saudara kita di Palestina. Kita titipkan posisi kita kepada warga Gaza dan jangan sampai mereka mengeluh. Hancurnya Gaza adalah hancurnya Palestina secara keseluruhan.

Kita tahu Masjidil Aqsa itu masjidnya umat Islam. Allahnya sama, nabinya sama, Qur’annya sama. Sehingga kalau masih ada yang berpendapat untuk apa membantu  Palestina, sementara kita masih banyak yang susah, itu berarti belum paham, bahwa membebaskan Palestina adalah bagian dari akidah.

Warga Palestina mengatakan, “Kami tidak membutuhkan air mata kalian, seharusnya air mata kalian itu untuk diri kalian sendiri, yang belum juga bergerak untuk membantu kami. Yang perlu ditangisi itu diri kalian sendiri.”

Semua kita akan diminta pertanggungjawaban. Allah akan tanya kita semua. Minimal kirimkan doa dan recehan yang bisa diberikan kepada saudara-saudara kita. Karena bukan hanya Al Aqsa, negeri Syam yang Allah janjikan sebagai tanggul kekuatan umat dan menjadi pusat kekuatan umat, kini yang tersisa  hanya Palestina. Yordan sudah kerjasama dengan Israel, Lebanon dan Suriah sudah sibuk dengan tanah airnya sendiri.

Membantu Gaza sama dengan membantu mengembalikan kekokohan bumi Syam. Ada 20 dalil berupa ayat dan hadist yang menyatakan kita wajib untuk ambil bagian membebaskan Masjidil Aqsa.

Hanya saja kita ini istilahnya ‘anget-angetan’. Kalau ada peristiwa bombastis, semua bergerak ingin ikut berperan. Begitu mulai terbiasa mendengar kabar Palestina, sekarang  mulai lemah lagi semangatnya. Isu boikot kini menelurkan banyak argumen, seperti mau kerja di mana, penghasilannya dari situ saja (enggan berpindah kerja dari produsen produk yang berasimilasi dengan zionis).

Israel didukung oleh berbagai macam kekuatan. Kekuatan politik dan kekuatan dana. Bertahun-tahun kita selama ini mengkonsumsi produk yang hasil bisnisnya  untuk membantai dan menghancurkan Masjidil Aqsa. Jadi jika zioinis membantai setiap hari, mestinya kita juga tidak perlu istirahat, sebagaimana tidak istirahatnya saudara-saudara kita di Gaza sana.

Ada kisah ketika seorang ibu perlu mendapatkan susu dan dia harus keluar rumah. Ketika kembali, anak dan satu keluarganya sudah syahid semua. Aturan internasional menyerang sipil saja sudah salah, ini malah sampai mematikan.

Kehancuran rumah, sekolah, mesjid, dan rumah sakit membuat kita menangis. Dulu semuanya masih utuh, sekarang sudah rata dengan tanah. Sudah berbulan-bulan anak-anak tidak sekolah. Mereka tidak memiliki rumah lagi, tidak ada pakaian, tidak ada makanan dan tinggal di tenda-tenda. Satu tenda ditempati beramai-ramai.

Coba bayangkan, dalam satu tenda semua berkumpul. Ada yang sakit, ada yang mau melahirkan. Yang  sudah diperkirakan akan melahirkan dengan caesar, tidak ada obat bius. Mereka melahirkan tanpa obat bius dan itu di tenda.

Ketika berkesempatan bertemu dengan orang-orang  yang sedang berobat ke Istanbul, ada seorang ibu yang sejak dibombardir tidak pernah berganti baju, tidak pernah mandi dan tidak pernah melepas kerudung selama satu bulan. Setelah sampai di Istanbul, itu pertama kalinya dia membuka kerudung dan mengganti bajunya. Ikatan rambutnya langsung terlepas dari kepala. Ia mengatakan, banyak perempuan di tenda, sengaja membotaki kepala dan minum pil anti haid karena pembalut tak tersedia dan air tidak ada.

Bantuan yang mau masuk dihalangi, tujuannya hanya satu, supaya warga menyalahi para pejuang dan mereka menyerah. Sudah ada ‘woro-woro’nya. “Ayo kasihan itu anak-anak dan ibu-ibu Gaza. Kami siap menampung.”
Itu adalah seruan komplotan Israel dan sekutunya. Sekali saja satu warga keluar dari Palestina, selamanya tidak akan kembali lagi. Tapi apa yang dijawab oleh warga di sana? “Kami lahir di Gaza, dan akan syahid di Gaza!”

Apa yang dilakukan saudara-saudara kita di Gaza, fisiknya itu mewakili fisik kita. Hancurnya rumah mereka adalah hancurnya rumah kita. Terhinanya harga diri mereka adalah terhinanya harga diri 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia.

Bayangkan lampu mati saja 24 jam kita sudah tidak tahan, air nggak ada kita sudah tidak tahan. Ini sudah sembilan bulan lebih Palestina merasakannya. Bagaimana mereka bisa menjadi orang-orang yang teguh? Kehilangan keluarga, kelaparan dan kehausan.

Di saat yang lain, seorang ibu dikeluarkan dari puing-puing dengan  tangan  menggenggam secarik tulisan : Ya Allah, ambillah sebagian darah-darah kami, asal Engkau ridho. Di tengah puing lainnya, ditemukan tulisan : Israel mempunyai Amerika, Inggris, rudal dan pesawat terbang. Dan kami hanya mempunyai Allah yang menjaga kami.

Seorang wartawan yang anak, istri, dan dua cucunya syahid, ketika diwawancarai oleh Al Jazirah, jawabannya atas pertanyaan apa rahasia umat hingga bisa bertahan dari segala kesulitan dan penderitaan adalah ridho dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah.

Perempuan-perempuan Palestina yang penuh semangat, dalam satu waktu melakukan tiga hal. Bersegera menyembuhkan lukanya sendiri, mengurus anak-anaknya yang syahid, dan berfardu kifayah  bersama-sama mengurus yang lain.

Yang akan melahirkan, menuju ke rumah sakit dalam keadaan gelap. Gerakan mobil yang dinaiki berbarengan dengan dentuman bom. Rasa tegang menghadapi tengah malam di tengah bunyi bom lebih menyakitkan daripada sakitnya nyeri karena kontraksi. Sesampai di rumah sakit, semuanya sudah hancur, padahal dia harus dicaesar. Akhirnya ia dioperasi tanpa dibius karena hanya ada gunting dan kain kasa serta sedikit cahaya dari lampu handphone. Si ibu sudah pingsan karena menahan sakit yang luar biasa, namun Allah mentakdirkan ia selamat agar bisa menyampaikan kisahnya kepada dunia.

Seorang anak yang menuntun adiknya untuk mengucapkan kalimat syahadat padahal si adik sudah berdarah-darah, sudah bisa dipastikan akan mati syahid, tapi tetap dituntun untuk mengucapkan kalimat syahadat di akhir hidupnya oleh sang kakak. Anak lainnya terluka parah  menganga, harus segera dioperasi. Maka caranya untuk mengurangi rasa sakit adalah dengan mengulangi hafalan Qur’annya.

Dokter juga sudah melampaui batas kemampuannya. Bayangkan, di sela-sela ia harus mengobati banyak pasien, ia mendapat kabar, anak dan istrinya sudah syahid.  Sang dokter hanya masuk ke ruang jenazah, memastikan kesyahidan keluarganya, lalu lanjut nenyelamatkan yang masih hidup.

Walau negara-negara Arab ikut membantu Israel dan situasi di Gaza seperti akan kiamat, mereka antri untuk mati syahid atau terluka parah. Ketika menemukan potongan kertas bertuliskan ayat Qur’an di tengah reruntuhan, memberikan mereka semangat lagi. Tetap berusaha tenang walaupun dunia diam dan tidak memiliki rasa kemanusiaan. Ada Allah, ada malaikatNya.

Bumi Gaza adalah negeri para anbiya, negeri orang-orang soleh. Pamannya nabi dikubur di Gaza, Imam Syafi’i dikubur di Gaza. Jangan katakan bahwa orang-orang itu mati, sesungguhnya mereka hidup tetapi kita tidak menyadari.

Keteguhan Gaza adalah keteguhan yang digambarkan oleh Khalid bin Walid saat rasulullah mengatakan,  “Aku datangkan kepadamu satu kaum yang mencintai kematian sebagaimana kamu mencintai kehidupan.” 

Penduduk Palestina sudah tahu bagaimana istimewanya kedudukan mati syahid itu. Yang mati syahid tidak akan  mendapat siksa kubur, tidak merasakan sakit sakratul maut yang bagaikan 300 pecutan bagi  orang yang meninggal biasa. Bahkan dia bisa membawa 70 orang keluarganya untuk masuk surga dan mendapatkan surga tertinggi. Ini mengajarkan bagaimana kita mendapatkan kematian dengan cara terhormat.

Lalu, siapa sajakah warga Gaza itu? Ahlul Quran! Mereka mewakili kita dan mereka dihancurkan. Bumi Gaza sudah di blokade hampir 17 tahun, listrik terbatas tapi menghasilkan penghafal Quran yang luar biasa. Rahasia keteguhan mereka adalah kedekatan dengan Al Qur’an.

Tiga bulan sebelum di bombardir, Gaza menghasilkan para penghafal Qur’an yang akan diwisuda. Ada program setahun sampai tiga tahun untuk menghafal. Sebelum diwisuda, mereka harus menyetor hafalan Qur’an  dari sesudah subuh sampai menjelang Isya. 30 juz Al Qur’an dites dari awal sampai akhir. Banyak para ibu muda datang sambil membawa bayi. Bahkan ada bayi berusia 20 hari digendong sang ibu sambil menyetor hafalan. Kebiasaan mereka dekat dengan Al Qur’an memberikan keteguhan kepada mereka.

Dengan keteguhan tersebut, dunia bangkit membantu Palestina. Tiidak sedikit public figur yang menyatakan keislamannya. Karena  mendapat informasi tentang keteguhan warga Palestina itu didapat dari Al Qur’an, mereka lalu berbondong-bondong membacanya. Setelah itu mereka masuk Islam termasuk orang Yahudi sendiri.

Palestina sudah menjadi sejarah dunia. “Kami sudah terbiasa dari  tahun 2008 dibombardir,  hanya kali ini dosisnya lebih besar. Pembantaian lebih sadis. Kalau kekuatan, kami akan selalu kuat,” ungkap warga Gaza.

Di akhirat nanti apa yang akan kita jawab? Di saat para penghafal Al Qur’an dikurung dan disiksa, tidak mendapatkan makan dan minum. Padahal mereka menjalankan tugas. Satu orang warga Gaza itu mewakili 34 orang umat Islam.

Kita juga bisa seperti warga Palestina, bila kita teguh dan sabar dengan ujian-ujian kehidupan. Bukan saja Allah akan dekat dengan kita, atau malaikat dekat dengan kita, namun keteguhan kita itu bisa menguatkan anak dan keluarga kita dalam urusan rumah tangga.

Bisa saja ujian kita terjadi ketika pasangan kita terpuruk, kesulitan ekonomi, atau ujian kesehatan. Ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit, jangan mengeluh. Jadilah sebagai ibu garda terdepan selayaknya sebagaimana perempuan-perempuan di Gaza.

Yang sudah syahid mereka sudah kelar urusannya. Sekarang kita berjuang menuju kesyahidan versi kita. Jangan gampang menangis. Kita  harus memantaskan diri agar Allah mematikan kita dalam keadaan syahid. “Sesungguhnya tentara Kami, itulah yang pasti menang.”

Kata nabi sebaik-baik sedekah adalah di saat kita susah. Palestina telah mengajarkan kita agar jangan banyak mengeluh dan jangan menjadikan gaya hidup sebagai tuhan. Mari belajar dari keteguhan Palestina. Perbanyak interaksi dengan Al Qur’an daripada dengan setan gepeng bernama handphone. Mari evaluasi diri!


(Dari kajian Muharram 1446 H, dengan tema Keteguhan Dalam Menghadapi Cobaan, Inspirasi dari Anak dan Perempuan Negeri Para Nabi, bersama ustadzah Nurjannah Hulwani, S.Ag, M.E, ketua Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsa [KPIPA])

KESULITAN BERINTERAKSI? ADA PELATIHANNYA LHO..

Jakarta (8/7/24)-Manajemen diri merupakan modal penting dalam berinteraksi. Agar interaksi bisa lancar dan mudah dipahami, maka perlu kiat-kiat bagaimana menyamakan visi, membaca pikiran dan bahasa tubuh.

Dalam berinteraksi perlu pula dibekali dengan ilmu tentang bagaimana cara seseorang merespons setiap kejadian, bagaimana supaya ia merasa diperhatikan ketika berada di titik terendahnya.
Selain itu kita pun perlu ilmu bagaimana menjadi pendengar yang baik, bukan hanya mendominasi pembicaraan.

Karena itulah, Salimah merasa perlu untuk meningkatkan pemahaman pengurusnya dalam hal manajemen diri ini. Pelatihan yang disebut Neuro Linguistik Programming (NLP), diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting (Pra) Salimah Tegal Parang, pada tanggal 29 Juni dan 6 Juli 2024, diikuti oleh pengurus tingkat wilayah hingga ranting di rumah salah seorang pengurus di Jakarta Selatan.

Adalah Ir. Dini Aksarni, M.Pd, CPS, CPDPE, seorang pakar NLP, mengupas bagaimana sisi kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, hubungan antar sesama manusia atau hablumminannaas, tanpa melupakan ajaran-ajaran dari Rasulullah sebagai teladan.

“NLP bisa didefinisikan sebagai studi praktis antara pikiran, perasaan (intuisi) yang dinamikanya tampak di sistem neurologi kita, yang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sistem bahasa kita ( linguistik),” jelas Dini. “Dan hubungan antara keduanya adalah untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat.”

NLP merupakan pendekatan komunikasi, pengembangan diri, dan psikoterapi yang diciptakan oleh Richard Bandler dan Jhon Grinder. Mereka mengklaim bahwa ada hubungan antara Neuro dan Linguistik (Bahasa) dan pola perilaku yang di pelajari melalui Programming ( pengalaman) yang bisa diubah untuk mencapai goals atau tujuan tertentu dalam hidup.

Dalam kehidupan, kita pasti memiliki tujuan-tujuan yang ingin kita capai.
Training NLP ini menjawab semua yang kita butuhkan dalam berkehidupan sehari-hari.

UJIANKU JALAN SURGAKU “Sehat dulu atau bahagia dulu?” “Disayang suami baru bahagia atau bahagia dulu baru disayang suami?” “Bahagia dulu baru hutang lunas atau lunas hutang dulu baru bahagia?”Demikian pertanyaan yang disampaikan narasumber, coach Faisal Ramli, di awal materi pada webinar Sehat Bahagia dengan Asma’ul Husna. Acara yang juga merupakan soft launching Mubalighah Salimah Indonesia (MSI) Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (PW Salimah) DKI Jakarta ini berlangsung interaktif sesuai keinginan coach agar peserta lebih bisa memahami dan memiliki niat yang kuat untuk mempraktikkan materi.Faisal menjelaskan mengapa kita harus bahagia dulu. Sebab, seperti itulah yang Allaah perintahkan di QS. Yunus 58 yang artinya “Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allaah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”“Ketika ada masalah, jangan terlalu lama fokus pada masalahnya, tapi fokus perbaiki hubungannya. Fokus kepada yang memberi masalah, yaitu Allaah SWT. Diri kita, perilaku kita atau orang lain, situasi yang kita hadapi, adalah perantara untuk datangnya masalah. Innalillahi wainnailaihi roji’un, semuanya datang dari Allaah dan kembali kepada Allaah,” jelasnya.Selain dengan Allaah, perbaiki hubungan dengan orangtua, pasangan, dan orang-orang di sekitar. Jadi, tidak hanya fokus pada inti masalah.“Kenapa sih kita sulit bahagia? Coba simak 3 ENG ini : NGeribetin hidup sendiri (misalnya sudah punya makanan, tapi menginginkan makanan yang lebih enak). NGgak terima takdir (percaya akan takdir Allaah tapi sulit menerimanya). Dan NGambil urusan Allaah (misalnya memaksakan anak sesuai keinginan kita). Kita harus tahu batasan, mana yang menjadi wilayah wewenang Allaah,” terang Faisal.Ia juga berpesan, ketika bermasalah dengan suami, jangan hanya berdoa agar Allaah mengubah suami saja. Tetapi berdoa jugal agar Allah mengubah diri dan melembutkan hati kita. Bisa jadi energi negatif dari diri kita yang menjadi pantulan dari orang lain yang kembali kepada kita.“Makna kebahagiaan, menurut imam Al Ghazali, adalah orang yang bisa membuka hatinya, telah membuka hijabnya terhadap Allaah, sehingga ia merasa dirinya dikendalikan oleh Allaah di manapun dan kapanpun. Mantapkan dalam hati kita: Ujianku Jalan Surgaku! Walau masalah belum selesai, putuskan untuk bahagia detik ini juga! Jangan pernah merasa sendirian, ingat ada Allaah yang senantiasa menemani,” pesannya.(ED-Humas PW Salimah DKI Jakarta)

Dokumentasi :

AGAR ISI RILIS BERITA ‘GA GITU-GITU AJA’, SALIMAH EDUKASI PARA HUMAS

Flyer acara


Jakarta (23/6/24)-Sebagai pintu gerbang organisasi, peran humas sangat penting untuk menyampaikan berita terkini tentang kegiatan Salimah. Hanya saja dikarenakan kegiatan yang hampir sama di seluruh Indonesia, mengakibatkan berita yang tersiar menjadi tidak jauh berbeda. Hal ini tentu dikhawatikan akan menimbulkan kebosanan bagi pembaca, karena sudah bisa menebak seperti apa isi beritanya.

Karena itulah, Humas Pimpinaan Pusat Salimah merasa perlu  memberikan edukasi/pelatihan, agar para humas yang tersebar di berbagai daerah, bisa lebih kreatif dalam penulisan naskah berita.

“Sebagai departemen yang mengurusi sosial media, personil humas perlu terus meningkatkan skill. Itulah sebabnya mengapa diadakan webinar kelas Coaching Humas. Materi yg diberikan akan terintregasi selama satu semester ini. Humas harus siap membuka wawasan dan rajin mengasah skill karena dunia digital terus berkembang,” ungkap Iin Indar dalam kata sambutannya sebagai ketua departemen Humas Pusat.

Pembicara utama webinar, Agung Sasongko, seorang jurnalis berpengalaman media nasional Republika, memberikan pandangan mendalam mengenai teknik penulisan berita yang efektif. Agung menyoroti pentingnya struktur piramida terbalik dalam menulis berita, di mana informasi pokok diberikan pada bagian awal untuk menarik perhatian pembaca.

“Media sosial itu tidak memiliki filter, maka tugas seorang jurnalis/humas untuk melaksanakan kode etik dalam menyampaikan konten,” kata Agung di awal materi. “Kini satu kegiatan bisa diangkat dalam berbagai variasi konten yang menarik, tidak hanya rilis berita, namun juga dalam bentuk foto dan video. Apalagi sekarang banyak platform media sosial tersedia, memberikan peluang makin luasnya berita kegiatan tersebut tersebar.”

Peserta webinar juga diajak untuk memahami cara yang tepat dalam membuat judul yg menarik dan gaya bahasa yang dipakai di lead (inti berita).

Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan judul berita.


Agung memberikan contoh judul yang biasa dan merubahnya menjadi lebih menarik.

Contoh judul yang biasa saja
Setelah judul diubah, akan membuat pembaca ingin tahu lebih lanjut.



Kegiatan diikuti oleh puluhan humas Salimah. Beberapa kendala disampaikan seperti ingin menampilkan berita seutuhnya namun terhalang oleh terbatasnya jumlah karakter, bagaimana merangkai kalimat, dan tips agar berita bisa tembus ke media cetak.

Webinar ini diakhiri dengan harapan bahwa peserta dapat mengimplementasikan pengetahuan yang didapat, baik dalam mempublikasikan berita melalui media internal organisasi maupun dalam berkontribusi pada media massa secara lebih luas.

Webinar ini tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan jurnalisme, tetapi juga sebagai wujud komitmen dalam membangun pemahaman yang lebih baik dan memberdayakan perempuan muslimah dalam menyuarakan berita yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.


(ED-Humas PW DKI Jakarta, 082213630747)