UJIANKU JALAN SURGAKU “Sehat dulu atau bahagia dulu?” “Disayang suami baru bahagia atau bahagia dulu baru disayang suami?” “Bahagia dulu baru hutang lunas atau lunas hutang dulu baru bahagia?”Demikian pertanyaan yang disampaikan narasumber, coach Faisal Ramli, di awal materi pada webinar Sehat Bahagia dengan Asma’ul Husna. Acara yang juga merupakan soft launching Mubalighah Salimah Indonesia (MSI) Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (PW Salimah) DKI Jakarta ini berlangsung interaktif sesuai keinginan coach agar peserta lebih bisa memahami dan memiliki niat yang kuat untuk mempraktikkan materi.Faisal menjelaskan mengapa kita harus bahagia dulu. Sebab, seperti itulah yang Allaah perintahkan di QS. Yunus 58 yang artinya “Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allaah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”“Ketika ada masalah, jangan terlalu lama fokus pada masalahnya, tapi fokus perbaiki hubungannya. Fokus kepada yang memberi masalah, yaitu Allaah SWT. Diri kita, perilaku kita atau orang lain, situasi yang kita hadapi, adalah perantara untuk datangnya masalah. Innalillahi wainnailaihi roji’un, semuanya datang dari Allaah dan kembali kepada Allaah,” jelasnya.Selain dengan Allaah, perbaiki hubungan dengan orangtua, pasangan, dan orang-orang di sekitar. Jadi, tidak hanya fokus pada inti masalah.“Kenapa sih kita sulit bahagia? Coba simak 3 ENG ini : NGeribetin hidup sendiri (misalnya sudah punya makanan, tapi menginginkan makanan yang lebih enak). NGgak terima takdir (percaya akan takdir Allaah tapi sulit menerimanya). Dan NGambil urusan Allaah (misalnya memaksakan anak sesuai keinginan kita). Kita harus tahu batasan, mana yang menjadi wilayah wewenang Allaah,” terang Faisal.Ia juga berpesan, ketika bermasalah dengan suami, jangan hanya berdoa agar Allaah mengubah suami saja. Tetapi berdoa jugal agar Allah mengubah diri dan melembutkan hati kita. Bisa jadi energi negatif dari diri kita yang menjadi pantulan dari orang lain yang kembali kepada kita.“Makna kebahagiaan, menurut imam Al Ghazali, adalah orang yang bisa membuka hatinya, telah membuka hijabnya terhadap Allaah, sehingga ia merasa dirinya dikendalikan oleh Allaah di manapun dan kapanpun. Mantapkan dalam hati kita: Ujianku Jalan Surgaku! Walau masalah belum selesai, putuskan untuk bahagia detik ini juga! Jangan pernah merasa sendirian, ingat ada Allaah yang senantiasa menemani,” pesannya.(ED-Humas PW Salimah DKI Jakarta)

Dokumentasi :

AGAR ISI RILIS BERITA ‘GA GITU-GITU AJA’, SALIMAH EDUKASI PARA HUMAS

Flyer acara


Jakarta (23/6/24)-Sebagai pintu gerbang organisasi, peran humas sangat penting untuk menyampaikan berita terkini tentang kegiatan Salimah. Hanya saja dikarenakan kegiatan yang hampir sama di seluruh Indonesia, mengakibatkan berita yang tersiar menjadi tidak jauh berbeda. Hal ini tentu dikhawatikan akan menimbulkan kebosanan bagi pembaca, karena sudah bisa menebak seperti apa isi beritanya.

Karena itulah, Humas Pimpinaan Pusat Salimah merasa perlu  memberikan edukasi/pelatihan, agar para humas yang tersebar di berbagai daerah, bisa lebih kreatif dalam penulisan naskah berita.

“Sebagai departemen yang mengurusi sosial media, personil humas perlu terus meningkatkan skill. Itulah sebabnya mengapa diadakan webinar kelas Coaching Humas. Materi yg diberikan akan terintregasi selama satu semester ini. Humas harus siap membuka wawasan dan rajin mengasah skill karena dunia digital terus berkembang,” ungkap Iin Indar dalam kata sambutannya sebagai ketua departemen Humas Pusat.

Pembicara utama webinar, Agung Sasongko, seorang jurnalis berpengalaman media nasional Republika, memberikan pandangan mendalam mengenai teknik penulisan berita yang efektif. Agung menyoroti pentingnya struktur piramida terbalik dalam menulis berita, di mana informasi pokok diberikan pada bagian awal untuk menarik perhatian pembaca.

“Media sosial itu tidak memiliki filter, maka tugas seorang jurnalis/humas untuk melaksanakan kode etik dalam menyampaikan konten,” kata Agung di awal materi. “Kini satu kegiatan bisa diangkat dalam berbagai variasi konten yang menarik, tidak hanya rilis berita, namun juga dalam bentuk foto dan video. Apalagi sekarang banyak platform media sosial tersedia, memberikan peluang makin luasnya berita kegiatan tersebut tersebar.”

Peserta webinar juga diajak untuk memahami cara yang tepat dalam membuat judul yg menarik dan gaya bahasa yang dipakai di lead (inti berita).

Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan judul berita.


Agung memberikan contoh judul yang biasa dan merubahnya menjadi lebih menarik.

Contoh judul yang biasa saja
Setelah judul diubah, akan membuat pembaca ingin tahu lebih lanjut.



Kegiatan diikuti oleh puluhan humas Salimah. Beberapa kendala disampaikan seperti ingin menampilkan berita seutuhnya namun terhalang oleh terbatasnya jumlah karakter, bagaimana merangkai kalimat, dan tips agar berita bisa tembus ke media cetak.

Webinar ini diakhiri dengan harapan bahwa peserta dapat mengimplementasikan pengetahuan yang didapat, baik dalam mempublikasikan berita melalui media internal organisasi maupun dalam berkontribusi pada media massa secara lebih luas.

Webinar ini tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan jurnalisme, tetapi juga sebagai wujud komitmen dalam membangun pemahaman yang lebih baik dan memberdayakan perempuan muslimah dalam menyuarakan berita yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.


(ED-Humas PW DKI Jakarta, 082213630747)