Akibat Penyalahgunaan Antibiotik

Diperkirakan Sepuluh Juta Kematian Akibat Resistensi Antimikroba pada 2050

Jakarta (13/11/24)-Dunia saat ini sedang mengalami terjadinya ancaman resistensi antimikroba. Dimana salah satu penyebabnya adalah penyalahgunaan antibiotik di masyarakat. Sering mendiagnosis sendiri penyakit, membeli obat tanpa resep dokter, dan tidak mengikuti aturan cara pakai obat yang benar, membuat virus dalamย  tubuh jadi kebal terhadap obat, sehingga mempersulit datangnya kesembuhan.

Hal tersebut disampaikan oleh Sukra Tampubolon, dari Badan Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), pada saat penyuluhan edukasi kesehatan dengan tema Cerdas Menggunakan Antibiotik, Bersama Kita Cegah Resistensi Antimikroba, pada Selasa (12/11), di hotel Grand Mercure Harmoni, Gambir, Jakarta Pusat, di hadapan peserta yang terdiri dari utusan organisasi masyarakat dan kader PKK seJakarta.

“Kalau kita sekedar batuk pilek, jangan langsung minum antibiotik. Jangan mendewakan antibiotik,” ujar Sukra.


Data hasil pengawasan BBPOM di Indonesia, 70% pembelian antibiotik dilakukan tanpa resep dokter. Adapun tiga antibiotik paling banyak dibeli bebas adalah _amoxillin, cefadroxil, dan ceffixime.

Bila memang harus minum antibiotik, teruskan minum sesuai arahan dokter. Jangan berhenti karena sudah merasa enakan. Karena sebenarnya saat itu virus di badan hanya bagai pingsan saja, belum mati total. Bila antibiotik dihentikan, virus akan bangkit kembali dan menganalisa cara kerja obat, sehingga bisa menangkal manfaat obat pada proses penyembuhan berikutnya. Tubuh menjadi kebal sehingga butuh obatย  dengan dosisย  yang lebih tinggi.

Bila resistensi antimikroba tidak dapat dikendalikan, maka diperkirakan pada tahun 2050, Indonesia akan mengalami sepuluh juta kematian karena hal ini, lebih besar daripada ancaman karena kanker.

Selain sektor manusia, penyebab dan faktor yang mempengaruhiย  pengendalian resistensi mikroba, juga meliputi sektor hewan. Penyalahgunaan antibiotik tidak hanya melibatkan manusia, namun kini banyak ternak peliharaan yang juga disuntik obat dalam pengembangbiakannya, seperti ayam, sapi, dan ikan. Sayuran pun tak luput dari pestisida.

Dan sektor lainnya adalah sektor lingkungan. Bagaimana manusia menangani aneka limbah, seperti pemusnahan sisa obat dan obat kadaluarsa.

Lebih lanjut Sukra menghimbau agar jangan membuang sisa obat sembarangan. Keluarkan obat dari kemasan, agar tidak disalahgunakan oleh oknum tak bertanggungjawab. Bisa juga membawa sisa obat dan obat kadaluarsa ke apotik Kimia Farma dan apotik K24, untuk dimusnahkan. Kemasan odol, sampo, skincare, dan masker, baiknya dirusak dulu sebelum dibuang.



Bila menemukan distributor obat yang melanggar peraturan, masyarakat bisa melapor ke BBPOM. Identitas si pelapor akan dirahasiakan. Pemerintah dapat menarik izin operasional bila menemukan apotik nakal, misalnya.

Kedepannya nanti, BBPOM akan menentukan aturan batas recedu (batas minimal) antibiotik dalam ayam potong.
Dalam penerapan teknologi, BBPOM sedang dalam proses persiapan data kesehatan masyarakat yang terintegritas. Sehingga setiap warga yang memiliki KTP, bisa diketahui aktivitas kesehatannya. Sehingga akan mengurangi pembelian obat tanpa resep dokter.
BBPOM juga sudah masuk ke ranah marketplace untuk menertibkan pembelian obat tanpa resep dokter.

Lebih dari sekedar pemahaman tentang antibiotik, yang lebih penting adalah mengubah perilaku diri sendiri dalam menjaga kesehatan.

(Emy, Humas PW Salimah Jakarta)

Bedah Buku

Bedah Buku Thufan Al-Aqsa dan Keteguhan Gaza

Dalam memperingati satu tahun terakhir perlawanan Palestina, Nurjanah Hulwani, S.Ag., M.E, seorang aktivis kemanusiaan khusus Palestina , merasa perlu menuliskan bagaimana kondisi Palestina terkini dalam sebuah buku, agar peristiwa ini tidak berlalu tanpa makna.

Buku ini menceritakan realita yang terjadi karena penulis telah berulangkali melakukan perjalanan kemanusiaan ke Palestina. Ini merupakan buku ketiga yang penulis tulis tentang Palestina. Membaca buku ini seolah-olah kita diajak melihat langsung perjuangan rakyat Palestina dari dekat.

Buku ini diawali dengan mengenal nama Gaza karena nama Gaza bersumber dari berbagai macam asal muasal. Dipaparkan tentang letak geografisnya dan nama-nama kota yang ada di jalur Gaza.



Kemudian di bab berikutnya digambarkan bagaimana penderitaan masyarakat Gaza sebelum 7 Oktober 2023. Warga Gaza hidup dalam blokade. Ada dua alasan utama kenapa Gaza diblokade. Pertama alasan politik Israel sebagai hukuman bagi warga Gaza yang telah memenangkan Hamas pada pemilu Januari 2006. Kedua alasan untuk melemahkan kemampuan perlawanan dan menggagalkan upaya bersenjatanya Hamas.

Banyak penderitaan yang tercatat dalam sejarah Gaza, setelah dilakukan blokade. Seperti terjadinya kemerosotan signifikan dalam standar hidup, layanan kesehatan, pendidikan, bahan bakar, dan listrik. Hanya ada tiga penyeberangan yang diperbolehkan oleh Israel yaitu penyeberangan Erez untuk orang, penyeberangan Kerem Shalom untuk barang, dan penyeberangan Rafa Mesir di selatan jalur Gaza, yang biasanya diandalkan oleh warga Gaza untuk melakukan perjalanan ke dan dari Gaza sebagai alternatif dari penyeberangan Erez.

Walaupun ketiga penyeberangan ini dibolehkan tetapi warga Gaza tidak bisa bebas keluar masuk menggunakannya. Penjajah zionis Israel membuat aturan yang ketat melalui prosedur yang panjang. Mulai dari tindak lanjut birokrasi untuk mendaftarkan nama mereka, untuk perjalanan dan pemeriksaan keamanan, hingga masa tunggu yang bisa memakan waktu hingga beberapa minggu atau bulan untuk mendapatkan izin Israel. Hidup dalam agresi Israel menambah penderitaan rakyat Gaza. Serangan demi serangan berlangsung hingga bertahun-tahun.



Gaya penulisan Nurjanah sangat runtun dan terinci dalam menggambarkan penderitaan rakyat Palestina. Seperti terlihat di halaman 76. “Kami tidak bisa tidur sepanjang malam. Kami tenggelam oleh hujan, suara guntur menakutkan, dan kami tidak dapat lagi membedakan antara suara pesawat dan guntur,” ungkap Abeer Al-Shaer, yang mengungsi dari kota Khan Younis dan saat ini tinggal di tendaย  kota Rafa. “Karena parahnya penderitaan yang kami alami, anak-anak menjadi takut terhadap suara apapun.”

Tenda-tenda di Rafa memiliki satu toilet untuk 850 orang, sementara standar kemanusiaan mengatakan satu toilet per 20 orang. Kondisi kesehatan yang memprihatinkan, kasus diare yang mempercepat dehidrasi, dan kekurangan gizi yang mana 31% kasus terjadi pada anak di bawah 5 tahun. Ini terjadi karena setiap pengungsi hanya meminum kurang dari 1 liter air per hari dan 1,1 juta orang mengalami kelaparan.

Seorang ibu di Gaza menyampaikan kisahnya tentang 20 keluarganya yang syahid dalam waktu bersamaan. Seorang ibu lain yang tak berdaya berdiri di atas puing-puing rumahnya yang di bawahnya sebagian besar anggota keluarganya meninggal.ย  Saat menyaksikan kesedihan yang mendalam, kedua ibu tersebut mengatakan, ” _Hasbunallah wani’mal wakil_, cukuplah Allah menjadi penolongย  bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Selain kisah para pengungsi, buku ini pun sarat dengan kisah para pejuang Palestina yang pernah menjadi tahanan Israel.

Kunci keteguhan rakyat Palestina adalah kekuatan iman mereka.
“Kunci rahasia untuk bertahan dalam segala kesulitan dan penderitaan apapun adalah dengan ridho dan menyerahkan urusanmu hanya kepada Allah SWT,” ucap seorang jurnalis Palestina, Wael Al-Dahdouh, yang istri, anak-anak dan cucunya menjadi syahid.

Bab tiga buku ini menjelaskan tentang apa itu Thufan Al Aqsa. Thufan memiliki makna banjir yang sangat besar. Istilah
thufan disebutkan dalam Al Qur’anย  ketika berbicara tentang kehancuran kaum nabi Nuh, setelah mereka bersikeras bertahan dalam sifat kekafiran dan keras kepala mereka. Terlepas dari nabi Nuh a.s sudah 950 tahun berdakwah untuk kaumnya.


Adapun kata Al Aqsa adalah nama masjid di Al-Quds. Meletakkan kata Al Aqsa setelah thufan adalah gambaran tentang kedudukan masjid Al Aqsa sebagai pusat perjuangan bangsa Palestina dan umat Islam, yang sampai saat ini dinistakan dan diserang zionis Israel.

Banjir Al Aqsa diberikan pada operasi militer darat, laut, dan udara yang tujuan utamanya ditujukan untuk mendukung masjid Al Aqsa. Menandakan bahwa ini merupakan kelanjutan dari operasi pedang Al Quds (Saif Al-Quds), yang telah terjadi pada tahun 2021.

Apa yang dilakukan pejuang Palestina pada tanggal 7 Oktober adalah akumulasi kemarahan atas kejahatan dan penjajahan yang dilakukan zionis Israel kepada bangsa Palestina yang tidak pernah berhenti sejak tahun 1948 sampai saat ini, sudah 78 tahun.ย 

Disebutkan salah satu alasan terjadinya thufan Al Aqsa adalah penistaan di masjid Al Aqsa. Penistaan ini memiliki satu tujuan utama agar penduduk yang tinggal di sekitar masjid Al Aqsa merasa tidak nyaman dan meninggalkan kota Al Quds. Alasan lainnya, penodaan masjid Al Aqsa juga merupakan bagian dari proses untuk menghancurkan masjid Al Aqsa dan menggantikan menjadi kuil Haikal.

Kondisi penistaan masjid Al-Aqsa yang terus berlangsung sampai saat ini membuat pejuang Palestina tidak mungkin tinggal diam. Perlawanan tanggal 7 Oktober 2023 adalah salah satu bentuk upaya untuk menghentikan penistaan dan mengembalikan kehormatan dan kesucian masjid Al Aqsa ke tangan Palestina dan umat Islam.

Dipaparkan pula bagaimana normalisasi negara-negara Arab terhadap Palestina. Beberapa negara disebutkan sudah melakukan normalisasi dengan Israel.

Apa yang dilakukan pejuang Palestina semata-mata untuk mengambil tanah Palestina yang sudah dirampas, menghentikan blokade Gaza, mengeluarkan tahanan Palestina yang ditahan, mengembalikan pengungsi Palestina di berbagai negara sejak tahun 1948 ke tanah Palestina. Dan yang paling utama dari perlawanan 7 Oktober 2023 adalah mengembalikan kesucian dan kepemilikan masjid Al-Aqsa ke tangan umat Islam.
Negara manapun akan melakukan hal yang sama jika rakyatnya diusir, ditahan, tanah airnya dijajah, hingga rumah ibadahnya dinistakan.

Setelah serangan 7 Oktober 2023, zionis Israel tidak bisa menerima kekalahan dari Palestina. maka mereka menyebarluaskan fitnah yang ditujukan kepada pejuang Palestina. Ini akan menambah kekejaman zionis Israel yang sudah melakukan pembantaian terus-menerus kepada warga sipil Gaza. Dengan dukungan Amerika Serikat dan ditambah dengan diamnya negara-negara Arab yang sudah menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel.

Pada bab ke empat buku ini dijelaskan tentang klarifikasi Hamas terhadap tuduhan Israel. Dimana penyelidikan internasional yang tidak memihak, padahal Palestina adalah anggota dari pengadilan kriminal internasional dan menandatangani statuta Roma di tahun 2015.

Ketika Palestina meminta penyelidikan atas kejahatan yang sedang dilakukan di wilayahnya, Palestina malah menghadapi arogansi dan penolakan Israel terhadap langkah tersebut serta mereka menghukum orang-orang Palestina karena hal itu. Sayangnya negara-negara terbesar yang mendengungkan slogan-slogan keadilan terlihat memihak kepada penjajah dan menghalangi perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan keadilan. Mahkamah pidana internasional ingin Israel tetap menjadi negara di atas hukum dan agar para pejabatnya terhindar dari tanggung jawab dan akuntabilitas


Setelah penggambaran air mata kemanusiaan Gaza,ย  lalu digambarkan bagaimana keteguhan iman itu begitu memukau, disebabkan mereka berada di pihak yang benar dan adanya kedekatan dengan Alquran.



Anak-anak Palestina sejak dulu terbiasa mengamalkan menghafal Alquran karena adanya lingkungan sekitar yang mendukung. Dalam lingkungan di masjid-masjid dan pusat-pusat Al Qur’an dan sunnah, dan tentu saja lingkungan keluarga, tanpa adanya gangguan.

Ketika seorang ibu ditanya apakah menghafal mempengaruhi tingkat akademis anak-anak mengingat waktu dan usaha yang diperlukan, ibu tersebut berkata yang terjadi justru sebaliknya.

“Semua anak saya berprestasi di sekolah. Jadi mengaji tidak menyita waktu belajar mereka, tapi menyita banyak kesibukan lain, seperti sibuk dengan game ponsel atau situs jejaring sosial,” ungkapnya.

Walaupun berbagai negara memihak kepada Israel tapi belum tentu dengan penduduknya. Banyak penduduk dunia yang berperan sebagai pembela kemanusiaan walaupun pemerintahan di negaranya mendukung Israel.

Diceritakan dalam buku ini tentang berbagai warga, rakyat sipil dan militer, yang mendukung warga Palestina. Para _youtuber_ menceritakan tentang awal mula mereka merasa penasaran dengan keteguhan warga Palestina. Lalu mereka mencari tahu apa penyebabnya. Ketika diketahui bahwa mereka teguh karena Al Qur’an, maka mereka mulai mencari danย  membaca Alquran. Tidak sedikit di antara mereka yang kemudian masuk Islam.

Di bab terakhir buku ini memaparkan tentangย  bagaimana sikap Indonesia dalam membela Gaza. Bagaimana sikap pemerintah Indonesia, bagaimana fatwa MUI tentang boikot produk Israel. Kemudian digambarkan tentang berbagai orasi penulisย  di aksi bela Palestina.
“Kami ingin mengatakan kepada anak dan perempuan Gaza, kami selamanya bersamamu sampai hadirnya kemerdekaan Gaza dan Palestina. Kami akan tetap bersamamu hingga kita berkumpul bersama di pelataran masjid Al Aqsa dalam keadaan merdeka,” seru Nurjanah.



Buku ini sangat singkat, padat, jelas, dan enak dibaca. Menggambarkan momen titik balik yang sangat penting bagi perjuangan rakyat Palestina untuk merebut kemerdekaannya.ย  Nurjanah ingin mengabadikannya lewat buku ini dan mengajak kita agar paham apa di balik penyerangan pejuang Palestina di Gaza pada tanggal 7 Oktober 2023.

Menjadi penting untuk kita baca bagaimana Nurjanah dalam prioritas perjuangan bersama anak-anak dan perempuan Gaza di Palestina bisa menjadi inspirasi bagi para ustad dan ustadzah di setiap majelis taklim Indonesia.
Karena setiap individu yang memiliki rasa empati perjuangan di Palestina mencerminkan kesempurnaan iman kepada Allah dan Rasulullah Saw.

Buku setebal 124 halaman ini dijual seharga 55 ribu rupiah dan dapat menghubungi Koalisi Perempuan Peduli Al Aqsa (KPIPA)-dimana Nurjanah sebagai ketuanya-untuk memiliki buku ini.


Dari peristiwa 7 Oktober 2023 banyak hikmah yang bisa kita ambil, di antaranya ; seleksi kepedulian atas pribadi, masyarakat, dan negara, yang masih memiliki rasa kemanusiaan dan yang tidak.ย 

Gaza telah mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kita bisa hidup dan mati secara terhormat. Gaza juga mengajarkan kita tentang keteguhan dan ridho terhadap ujian yang Allah SWT berikan, seperti kehilangan keluarga, kehancuran rumah, dan hidup dalam keadaan lapar dan haus di waktu bersamaan.

Madrasah keteladanan, jejak ketabahan, jejak keteguhan, dan jejak keberkahan dari bumi Gaza, akan selalu menjadi rujukan bagi yang merindukan kehidupan yang mulia dan akhir hidup yang indah.

Semoga melalui buku ini umat Islam di Indonesia memahami apa yang terjadi di Gaza dan memahami persoalan Palestina secara keseluruhan. Dan dengan pemahaman ini diharapkan semakin banyak yang bergerak untuk membantu Gaza dan Palestina.

(Emy, Humas PW Salimah Jakarta)

Webinar Kolaborasi

Jakarta (06/10/24)-Untuk meningkatkan skill atau keterampilan para pengurus Salimah, departemen Bangda dan SDM, Sekre, dan Humas, menyelenggarakan kegiatan kolaborasi dalam bentuk webinar berupa pelatihan Host Zoom.

Pelatihan diikuti oleh para pengurus dari tingkat wilayah hingga pimpinan ranting. Dipandu oleh Emy, Humas PW DKJ, sebagai MC dan Tri Kurnia dari Sekre PW sebagai coach/pelatih. Membersamai pula Lailia, Sekre PD Jaksel, sebagai co host.

Tri membagi pelatihan menjadi tiga sesi. Sesi pertama adalah pembahasan tentang apa saja persiapan seorang host zoom sebelum acara dimulai.

“Ada beberapa hal yang harus disiapkan. Host harus menjadikan seseorang sebagai co-host, untuk membantunya selama acara berlangsung,” ujar Tri.

“Berikutnya host harus menyeting agar tidak ada suara tingtong ketika peserta memasuki webinar, karena ini cukup mengganggu. Bila diperlukan, host juga akan membuat waiting rooms, breakout rooms dan menghentikan fitur chat. Semua ini akan disampaikan sebagai materi kepada peserta,” jelas Tri lebih lanjut.

Selain hal-hal di atas, peserta juga akan diajarkan cara memasang virtual background dan menutup suara peserta yang bocor di ruang webinar.

Sesi ke dua, akan diisi dengan materi apa saja yang bisa dilakukan seorang host ketika acara inti berlangsung. Seperti merekam, menampilkan video, berbagi layar, mengetik/mengedit di layar, membuka file, mengirim file ke chat, mematikan kamera dan suara peserta, mengeluarkan peserta nakal, hingga foto bersama.

Dan di sesi terakhir, peserta akan diajarkan tentang bagaimana cara mengakhiri zoom, menyimpan chat dan menjadikannya PNG, serta mengubah hasil rekaman zoom, lalu mengirimnya ke YouTube.

Tidak hanya teori, setiap materi langsung dipraktikkan oleh peserta. Hal ini menyebabkan materi tidak bisa disampaikan semuanya karena terbatasnya waktu. Selama tiga jam acara berlangsung, ternyata tidak cukup memfasilitasi semangat para peserta untuk belajar.

Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, Salimah Jakarta makin memiliki lebih banyak pengurus yang bisa memberi jasanya menjadi host atau co-host saat kegiatan dalam jaringan dan mahir menjadi operator slide/layar kala kegiatan luar jaringan.

(Emy-Humas PW DK Jakarta)

Agar Lebih Memahami Ormas, Salimah Jakarta Ikuti Kursus Singkat


Jakarta(30/9/24)-Ruang demokrasi di Indonesia terbuka untuk siapapun menyampaikan pendapat. Demikian juga untuk organisasi masyarakat (ormas). Saat ini ada 593.000 ormas tercatat di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) RI.
Di sisi lain, ada batasan-batasan, agar ketertiban terjaga dan terasa nyaman saat menyampaikan pendapat.

Untuk itu, pemerintah merasa perlu memberikan edukasi sebagai kegiatan rutin terkait dinamika ormas. Salah satunya adalah webinar Penguatan Ideologi dan Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan pada Senin(30/9). Acara diikuti oleh 200an peserta dari Kesbangpol tingkat provinsi dan kabupaten kota se-Indonesia, serta berbagai organisasi anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani), termasuk Persaudaraan Muslimah (Salimah) Jakarta.

Abdul Ghofur dari Kesbangpol menyampaikan dalam kata sambutannya, bahwa banyaknya organisasi bukan dianggap sebagai beban, namun Kesbangpol menangkap ini sebagai tantangan. Bagaimana menciptakan kolaborasi antar organisasi, dan antar organisasi dengan pemerintah, agar sumber daya manusia di dalam organisasi tersebut dapat ditingkatkan.

“Ruang demokrasi memang tidak bisa ditutup. Perselisihan antar ormas harus dicermati dengan arif bijaksana. Setiap ormas pasti memiliki potensi. Dan pemerintah sudah membuat kanal-kanal mekanismenya, bagaimana meningkatkan daya saing organisasi ke arah yang positif,” ujar Abdul.

Ormas harus melihat ini sebagai peluang. Bagaimana pun, ada gap (jarak) yang cukup mengkhawatirkan antara ormas yang sudah berskala nasional/di kota, dengan ormas di daerah. Ormas di kota bisa mendapat info lebih cepat dan kesempatan bekerjasama dengan ormas dari luar negeri, misalnya, bisa diperoleh. Ini yang belum bisa dikejar oleh ormas di daerah.

Sementara itu, Tri Santoso, dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI, mengungkapkan tentang peran ormas dalam penguatan ideologi dan wawasan kebangsaan. Ormas harus siap menghadirkan solusi terhadap isu-isu sosial, berperan sebagai penangkal radikalisme, dan disintegrasi, serta memberi penguatan ekonomi kerakyatan dalam bingkai kebangsaan.

“Adapun strategi dalam meningkatkan ideologi, salah satunya adalah revitalisasi peran keluarga dalam pendidikan karakter,” jelas Tri.
“Kembalikan peran keluarga sebagai pilar utama dalam pendidikan. Dengan demikian, pembinaan komunitas multikultural di berbagai daerah akan memunculkan toleransi sebagai implementasi dari nilai Bhinneka Tunggal Ika.”

Adapun Iwan Herniwan, Plh. Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah (LKPP), mengajarkan Swakelola, yaitu cara memperoleh barang/jasa yang dikerjakan sendiri oleh lembaga, ormas, atau kelompok masyarakat.

“Kolaborasi pemerintah dan ormas dalam Swakelola tipe lll sudah diresmikan dalam Perpres No.12/2021, tentang skema pengadaan barang/jasa oleh pemerintah yang melibatkan ormas secara kelembagaan,” ungkap Iwan.

Peluang ini bisa bermanfaat sebagai alternatif pendanaan dan pengembangan portofolio ormas. Membuka kesempatan meningkatkan inovasi dalam riset, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan teknologi.
Pada 2021, potensi peningkatan skala kolaborasi dengan APBN mencapai hingga dua triliun rupiah.

Adalah kewajiban ormas untuk mengikuti peraturan, menjaga ketertiban/perdamaian, mengelola keuangan secara transparansi dan akuntabel, agar bisa mendapatkan dana hibah.

Perlu diberikan pemahaman kepada ormas untuk tidak hanya meningkat dalam jumlah saja. Upgrade diri bagi setiap pengurus penting adanya. Kreatiflah dalam hal manajerial dan digitalisasi. Agar organisasi bisa bertahan hidup, memiliki kegiatan rutin, dan menjalankan roda kegiatan demi meningkatkan bakti kepada masyarakat.

(Emy-Humas PW Salimah Jakarta)

Tidak Ada Kepemimpinan Terbaik

Jakarta(22/9/24)-Tugas pemimpin yang utama adalah menghasilkan pemimpin berikutnya. Untuk itu Ketua Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (PW Salimah) Jakarta, dr. Yulia Andani, merasa perlu untuk menyiapkan pengganti dirinya.

Hal tersebut disambut baik oleh departemen Pengembangan Daerah (Bangda) dan SDM dengan menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Pengurus Salimah (PKPS) III, pada Sabtu(21/9), di Sekolah SMPIT Insan Mandiri, Jagakarsa.

Kegiatan diikuti 48 peserta yang terdiri dari para pengurus tingkat wilayah dan lima daerah seJakarta dengan mengundang tim dari departemen Pengembangan Wilayah (Bangwil) dan SDM Pimpinan Pusat (PP) Salimah.ย ย ย 


” Kegiatan ini bertujuan untuk neningkatkan kapasitas pengurus agar bisa menjalankan roda organisasi lebih baik lagi. Agar kita bisa berkontrubusi lebih banyak untuk Jakarta. Jangan lupa, minta selalu tambahan kekuatan dari Allaah agar bisa mengemban amanah,” ujar Yulia dalam kata sambutannya.

Sementara itu Unggul Hidayati, Ketua Bangwil PP menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Situasional. Unggul mengatakan kalau Rasullullah juga menerapkan sistem kepemimpinan yang bervariasi tergantung situasi yang dihadapi.

“Tidak ada gaya kepemimpinan terbaik. Gaya memimpin yang benar itu disesuaikan dengan kondisi anggota tim,” ujar Unggul.

Lebih lanjut Unggul menguraikan tentang berbagai perilaku anggota tim dan bagaimana sebaiknya seorang pemimpin menghadapinya.


Ketika seorang peserta bertanya, bagaimana bila pemimpinnya yang bermasalah, apa yang harus dilakukan?
Unggul menjawab seandainya ketua departemen yang bermasalah, tim bisa mengkonsultasikannya dengan ketua wilayah. Bisa juga memberitahu langsug atau memberi masukan bagi si ketua.

Setelah ice breacking dan coffee breack, sesi berikutnya diisi oleh dr. Ainun Mardiyah, dari Bangwil PP juga. Ainun memaparkan tentang Teknik Mengambil Keputusan, yang dirinci lagi dengan proses pengambilan keputusan, penghalang proses pengambilan keputusan, dan cara mengambil keputusan.

“Seperti seorang dokter yang harus mengindentifikasi penyakit pasien, maka seorang pemimpin harus tahu betul apa akar masalah yang sedang dihadapi,” ungkap Ainun.



Ada tiga cara dalam mengambil keputusan, yaitu analisis akar masalah, dimana setiap jawaban dari mengapa yang kita ajukan, disambung lagi dengan mengapa berikutnya, hingga mendapat jawaban yang betul-betul akurat.

Cara kedua adalah dengan menetapkan kriteria dan bobot penilaian. Sebagai contoh, langkah ini dapat diterapkan dalam menentukan Pimpinan Daerah (PD) Teladan, misalnya.

Dan terakhir, adalah dengan menggunakan metode enam topi berpikir, yaitu mencoba melihat suatu masalah dari sudut pandang berbeda.

Sesi edukasi ini diakhiri dengan pembagian peserta menjadi tiga kelompok dan diberikan studi kasus berbeda. Setiap kelompok harus memecahkan masalah yang diberikan sesuai arahan materi yang sudah disampaikan.

Acara juga dimeriahkan dengan pembagian bingkisan berupa paket Al Qur’an kepada semua departemen dakwah PD, hadiah kepada tiga PD pembawa peserta terbanyak, hadiah untuk Humas PD teraktif, hadiah untuk peserta yang bertanya.

Acara yang disponsori oleh para donatur, Rumah Zakat, dan Akademi Trainer ini ditutup dengan foto bersama dan pembagian hadiah doorprise voucher Akademi Trainer.



(Emy-Humas PW Jakarta)

Ciptakan Keluarga Berkualitas, Salimah Jakarta Ikuti Sosialisasi Bangga Kencana

Jakarta (20/9/24) – Keluarga sebagai institusi terkecil dalam suatu negara, harus memiliki visi yang benar. Setiap keluarga harus memiliki perencanaan mengenai aspek nilai-nilai agama, pengetahuan, ekonomi, dan sebagainya.

Karena itulah Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (PW Salimah) Jakarta, merasa penting untuk menghadiri undangan dari Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI), yang menggelar acara Sosialisasi dan KIE Programan Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja, pada Kamis (19/9), bertempat di aula komplek DPR, Kalibata, Jakarta Selatan.

Kegiatan diikuti oleh 200an peserta dari 35 organisasi muslimah anggota BMIWI. Dengan mengandeng Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), acara dibuka oleh Nurul Hidayati,SS,MBA, selaku Ketua BMIWI, yang menyampaikan komitmen dan keperdulian BMIWI mengenai isu terhadap keluarga.

Turut hadir utusan dari Komisi IX DPR RI, Netty Prasetyani Heriawan, mengulas bagaimana pentingnya setiap keluarga harus memiliki daya imunitas ketahanan berupa ketahanan pengasuhan, emosional, dan komunikasi.

“Jangan sampai anak-anak yang kita lahirkan dalam keadaan baik, berubah gendernya ketika dewasa, karena kita tidak memiliki ketahanan pengasuhan yang semestinya,” ujar Netty.

Demikian juga bila di rumah ada lansia, perlu ketahanan emosional dan komunikasi dalam merawatnya. Saat ini Sekolah Lansia sangat diminati. Ada tujuh sekolah lansia di Jakarta dengan kurikulum dari BKKBN.

Dengan jargon “Go Lantang” ( Go Lansia Tangguh), Bina Keluarga Lansia (BKL) BKKBN , memberikan pelatihan kepada keluarga tentang bagaimana mendampingi lansia untuk jangka panjang.

Adapun Darwoto, selaku Kepala Suku Dinas BKKBN Jakarta Selatan, menceritakan tentang sejarah Keluarga Berencana (KB), lalu disambung dengan penjelasan jenis-jenis alat kontrasepsi.

” Dulu BKKBN membuat tagline KB itu dengan ‘Dua Anak Cukup’, lalu diubah menjadi ‘Dua Anak Lebih Baik’, dan sekarang diubah lagi menjadi ‘ Dua Anak Lebih Sehat’, papar Darwoto.

BKKBN sangat senang bisa mensosialisasikan Bangga Kencana, yaitu Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana, di hadapan ibu-ibu pengurus dari berbagai organisasi. Diharapkan semua peserta bisa menyampaikan kembali wawasan yang didapat kepada anggota organisasi, keluarga, dan lingkungan.

Sementara itu, Ade Anwar, petugas dari BKKBN, menyampaikan terkait pernikahan dan kelahiran.
“Di BKKBN ada angka sakral, yaitu 2125. Angka 21 adalah minimal usia ideal seorang perempuan untuk menikah, dan angka 25 untuk pria,” jelas Ade.

BKKBN juga menggalakkan “Jangan 3T”, yaitu jangan terlalu muda, jangan terlalu tua (untuk kehamilan), dan jangan terlalu dekat (untuk jarak kelahiran).

Lebih lanjut dipaparkan mengenai Kepres no.72 tentang percepatan penurunan stunting (kekurangan asupan gizi). Ada tiga sasaran utama tujuan penanganan penurunan stunting tersebut, yaitu remaja calon pengantin, ibu hamil, dan anak usia di bawah dua tahun.

“BKKBN sangat mendukung pembangunan dan tumbuh kembang keluarga. Salah satunya adalah dengan pencegahan stunting sedini mungkin,” kata Ade.

Lebih lanjut Ade menguraikan cara untuk mencegah stunting. Mengawasi tumbuh kembang anak, menciptakan hubungan yang baik penuh kasih sayang antar orang tua, memberikan pola asuh yang baik, memastikan anak mendapat asupan makan yang cukup dan bergizi, serta membiasakan perilaku hidup sehat dan bersih, adalah upaya yang harus dijalani setiap keluarga. Stunting hilang, masa depan cemerlang.

(Emy-Humas Salimah Jakarta)

Salsa Jaksel Bahas Konsep Zikrullah yang Baik dan Benar


Jakarta Selatan (14/9)-Setelah launching perdana Sekolah Lansia Salimah (Salsa) pada Juli lalu, Pimpinan Daerah (PD) Salimah Jakarta Selatan, kembali menggelar kelas untuk yang kedua kalinya pada Sabtu (14/9) di kantor kesekretariatan, Mampang Prapatan.


Kelas diisi oleh Sri Lestari, selaku Ketua PD Salimah Jakarta Selatan, dengan mengangkat tema tentang dzikir. Sebuah ucapan yang begitu mudah di lidah, namun berat di timbangan yaumil akhir.

Dalam sesi pembelajaran mengenai makna dzikrullaah , Tari mengingatkan tentangย  dahsyatnya efek dzikir. Karena itu ia mengajak peserta untuk memperbanyakย  mengingat Allaah dengan sering memuji dan mengagungkan namaNya. Seketika hati menjadi tenang, karena hanya dengan mengingat Allaah, hati menjadi lapang.

“Kalau ibu-ibu dalam keadaan marah, ucapkanlah ‘Astaghfirullah ‘Adzhiim Wa Atuubu Ilaiih’. Ucapkan berulang-ulang hingga ketenangan itu datang. Karena ada Allaah dan para malaikatNya yang pasti mendengar,” ujar Tari.

Tari juga memaparkan mengenai konsep dzikrullaah yang baik dan benar. Yakni dengan menghadirkan hatiย  secara khusyuk pada kalimat-kalimat yang kita ucapkan. Hingga kita merasakan ketenangan, karena merasakan kehadiran Allaah bersama kita.

“Bahkan meski dosa kitaย  sebanyak buih di lautan, Allaah akan mengampuni kita. Asalkan kita mau bersungguh-sungguh bertobat kepadaNya. Dan yang turut menentukan kita di surga atau neraka kelak adalah bagaimana akhir kehidupan kita,”imbuhnya.

Lebih lanjut Tari menghimbau agarย  mengisi sisa hidup dengan banyak menebar kebajikan. Setiap ada kesempatan untuk berbuat baik ada di depan mata, bersegeralah untuk melakukannya. Banyaklah menghadiri majelis ilmu, karena di dalamnya terdapatย  taman surga.

“Perbaiki lingkar pertemanan dan komunitas kita, karena perkumpulan yang baik, akan mendatangkan rahmat dan ridha Allaah, melalui malaikat -malaikatNya yg turut hadir dalam majelis ilmu tempat kita belajar dan mencari pahala,” pungkas Tari.

Pada kesempatan yang dihadiri 35 orang warga dan anggota majelis taklim tersebut, Tari juga melantik pengurus Pimpinan Ranting Salimah Tegal Parang.

(Mamay-Humas PD Jaksel)

Berkiprah di Luar, Tetap Ingat yang di Dalam



Jakarta (7/9/24) – Pada kegiatan kunjungan kerja pengurus Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (PW Salimah) Jakarta ke Pimpinan Daerah (PD) Salimah Jakarta Barat, dr. Yulia Andani Murti, selaku ketua PW Salimah Jakarta menyampaikan bahwa saat ini institusi keluarga semakin diremehkan. Mengapa? Karena perempuan merasa tidak menghasilkan kalau hanya di rumah. Sehingga keinginan untuk keluar dari rumah begitu tinggi. Sementara di rumah, ada anak-anak yang sedang butuh perhatian lebih.

Lebih lanjut, Yulia menambahkan agar ibu memperhatikan akidah anak-anaknya. Pengaruh media sosial sangat mempengaruhi pola pikir anak zaman sekarang.

“Perlu bagi seorang perempuan untuk mengaktualitaskan dirinya, namun harus diseimbangkan dengan tanggungjawab sebagai seorang ibu,” pungkas Yulia.

Meningkatkan Engagement Sosial Media


Dalam menjalankan sosial media organisasi tidaklah semudah menjalankan sosial media akun pribadi. Jangankan untuk mendapatkan subscribers atau followers dan like, untuk mendapatkan viewers saja, itu susah sekali.


Karena media sosial itu sifatnya suatu keterikatan secara emosi, dimana penonton hanya mau melihat apa yang sesuai minatnya. Maka ketika ia menimbang-nimbang untuk melihat keseluruhan konten, di saat itulah mulai proses filterisasi penonton.


Salimah sebagai organisasi yang memfokuskan diri kepada isu-isu perempuan, anak, keluarga dan dunia islam, tidak perlu berkecil hati, bila penontonnya tidak sebanyak konten-konten hiburan misalnya. Justru konsistensi di bidang tersebut bisa dijadikan kekuatan, memperlihatkan kita ahli di bidang tersebut.


Karena itu perlu sekali seorang humas mengetahui visi misi organisasi agar bisa membuat ragam konten sesuai karakteristik masing-masing media sosial. Kita perlu langkah-langkah khusus untuk meng-create konten untuk menterjemahkan visi misi organisasi. Humas memiliki tantangan bagaimana menjadikan teknologi bisa menjawab kebutuhan media sosial kita.


Ada empat prinsip utama dari media sosial, yaitu keterbukaan, kolaborasi, sharing, acting globally. Bagaimana kita melihat, sebenarnya evaluasi  tampilan media, itu lebih penting. Apakah media sosial yang kita miliki sudah bisa dimanfaatkan dengan baik oleh anggota-anggotanya untuk kemudian di-share  ke  jejaringnya sendiri.


Platform WhatsApp bisa dimanfaatkan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. WhatsApp menawarkan potensi untuk menciptakan interaksi dan memperkuat ikatan emosional. Satu poin utama, kita tahu target kita itu siapa. Ketika ini sudah kita tahu maka kita akan mendapatkan langkah-langkah lain.


Prinsip dasar media sosial salah satunya adalah kolaborasi, artinya kita bekerjasama /bermitra dengan lembaga-lembaga sosial, misalnya. Kita bisa membuat konten bersama, seperti Live Streaming. Ini dapat meningkatkan user engagement dengan melakukan siaran langsung terkait kegiatan yang sedang dilaksanakan.


Penyusunan jadwal dengan menggunakan kalender konten, merupakan alat yang efektif untuk mengkoordinasikan pembuatan konten.
Manfaat kalender konten diantaranya untuk menjaga kinerja organisasi, membuat jadwal konten yang konsisten, dan memusatkan perencanaan konten.


Untuk meningkatkan engagement media sosial, selain harus mengenali target audiens, buat konten yang tidak hanya menarik (sudah banyak juga akun yang  menggunakan AI untuk kreasi kontennya), tapi juga bernilai, dan konsisten memposting konten. Jangan lupa gunakan berbagai format konten.


Berinteraksi jugalah dengan para pengikut. Bisa dengan mengadakan sesi tanya jawab, memberikan kuis berhadiah, mengisi polling, atau meminta komentar. Dapatkan masukan dan saran dari audiens secara real-time untuk membantu peningkatan brand.


Terakhir, gunakan hashtag yang relevan. Sejatinya, tidak ada aturan pasti mengenai berapa banyak hashtag yang disertakan dalam postingan. Dari sisi audiens, penggunaan hashtag memungkinkan pengguna menemukan konten dengan topik tertentu sesuai keinginannya. Dari sisi organisasi atau perusahaan, penggunaan hashtag memungkinkan konten mereka mudah ditemukan.


Platform media sosial masih menjadi wadah untuk dukungan terhadap gerakan sosial dan isu tertentu. Penggunaan media sosial sebagai alat aktivisme dan advokasi diprediksi akan terus berkembang. Organisasi perlu mempertimbangkan dampak sosial dan moral dari keputusan penggunaan teknologi, serta memastikan keberlanjutan yang bertanggungjawab.


(Emy, Humas Salimah PW Jakarta)

Hari Kemerdekaan

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ ARTI KEMERDEKAAN
BAGI SEORANG IBU ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Kemerdekaan Indonesia sudah semestinya membawa hikmah yang mendalam bagi seorang ibu. Karena ia tidak hanya menikmati kebebasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat memberikan masa depan yang lebih baik untuk anak-anaknya.

Dengan kemerdekaan, ibu memiliki kesempatan untuk memastikan bahwa anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak, hidup dalam lingkungan yang aman, dan berkembang tanpa tertekan oleh penjajahan atau penindasan.

Selain itu, kemerdekaan memungkinkan ibu untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat, turut serta dalam menentukan arah politik dan sosial negara, demi kesejahteraan keluarga dan generasi mendatang.

Sebagai penjaga utama keluarga, ibu merasakan langsung manfaat dari hak-hak yang diperoleh melalui kemerdekaan, sehingga dapat menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air kepada anak-anaknya dengan penuh keyakinan.

Dirgahayu Indonesia ke 79 tahun ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

#salimah
#persaudaraanmuslimah
#salimahjakarta
#harimerdeka
#indonesiaraya
#ibumerdeka