PERMATA

Nasehat itu permata.

Tapi cara orang memberikan permata ini pada kita bisa berbeda-beda. Ada yang ditimpukkan ke muka, ada yang digenggamkan ke tangan, ada pula yang diam-diam diselipkan ke saku kita bersama senyuman.

Sebaliknya, memberi nasehat harus kita lakukan dengan memastikan bahwa ia telah benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, jika mungkin rahasia, baik kesannya, bermanfaat bagi penerima, dan berpahala bagi kita.

Nah, dalam menerima nasehat, penting juga kita bermuhasabah, bahwa misalnya, jika kita masih merasa sakit kala dihadiahi nasehat, barangkali memang hati kita sudah masuk tahap perlu dirawat inap.

“Takutlah kita setakut-takutnya kepada Allah, sampai tiada sisa lagi rasa takut kepada yang selain Allah, dalam urusan amanah-amanah kita, di setiap rupiah lecek yang dititipkan jiwa-jiwa ikhlas yang Allah gerakkan memberi amanah kepada kita. Merintihlah kepada Allah agar setiap keping amanah ini menjadi saksi yang mencegah kita dari dilempar ke jurang Jahannam!

Rasa takut inilah yang akan membuat Allah berkenan menolong kita. Bukan yang lain. Kalau rasa takut ini absen dari rongga dada kita, kita dalam bahaya yang sesungguhnya. Karena hal lain selain rasa takut yang ini, yang tampak di pelupuk mata kita hanyalah halusinasi dari syaithan. Jangan berhenti beramal dan menghamba kepada Allah sedetikpun! Kemenangan dunia-akhirat dari Allah sajalah harapan kita.”

✒️https://t.me/today_muhasabah

SEINDAH APAPUN

Seindah apapun dunia, biarlah ia tetap menjadi latar belakang semata. Biarlah pandangan kita menatap jauh ke tujuan kita, hingga “seakan-akan engkau melihatNya, dan jika engkau tak mampu melihatNya, yakinlah bahwa Allah selalu melihatmu.”
.
Seindah apapun dunia, ia hanya lukisan yang takkan sanggup menggambarkan sunyata surga, yang “tiada mata pernah menyaksikan keelokannya, tiada telinga pernah menyimak tutur kejelitaannya, tiada angan sanggup membayangkan pesonanya.”
.
Seindah apapun dunia, jadilah kita tetap orang asing baginya, sebab dari Allah kita berasal dan kepadaNya pula akan kembali. Asing, maka berhati-hati. Asing, maka tiada kawan sebaik Dia. Asing, maka kita perbanyak bekal dan sedikitkan beban.
.
Seindah apapun dunia, jadilah kita seperti penyeberang jalan, yang menengok ke kanan dan kiri sekedar agar selamat; yang menganggukkan sapa demi mencari sebanyak-banyak pembela dan mengurangi para penggugat. Sebab selepas penyeberangan sana yang ada adalah pengadilan.
.
“Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan taman-kebun serta tempat-tempat yang indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” (QS Ad Dukhaan: 25-29)

Ustadz Salim A Fillah

Muslimah MSR Official :
https://www.youtube.com/channel/UCef6dOdzLRA_y7TShQCYXaQ

Pinterest  :
https://pin.it/6QNgofI

oasefajar

Copas

┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈

SEDEKAH JANGAN PERHITUNGAN

Maksudnya gimana? Kan kita tetap harus mengatur keuangan? Apalagi bagi ibu rumah tangga yang sudah mempos-poskan kebutuhannya untuk dapur, listrik, biaya anak sekolah, dan lain-lain.

Tentu harus diperhitungkan juga sedekah yang akan kita keluarkan dong?

Ya betul, sedekah harus proporsional. Kebutuhan yang wajib harus ditunaikan terlebih dahulu. Termasuk jika punya utang harus dilunasi segera. Itu jadi prioritas.

Sisanya bisa kita alokasikan untuk bersedekah. Tapi sedekah juga jangan terlalu pelit. Inilah yang dimaksud dengan perhitungan dalam bersedekah.

Misal, mau sedekah saat di dalam masjid sedang di kantong baju ada uang pecahan sebanyak 50 ribu, tapi masih mikir-mikir, “ah sayang nanti buat beli bensin”, “ah segini aja soalnya buat beli cemilan”, dan berbagai alasan lain yang sebenarnya pengeluaran tersebut bukan menjadi kebutuhan kita atau belum tentu akan kita keluarkan.

Alasan itu baru tercetus saat kita mau bersedekah. Inilah kategori orang yang perhitungan dan pelit dalam bersedekah.

Ada sebuah hadits dari Asma’ bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Bersedekahlah kamu dan janganlah berhitung, karena Allah akan berhitung pula pemberian-Nya kepadamu. Dan janganlah kikir, karena Allah akan kikir pula kepadamu” (HR. Muslim)

Semoga kita terhindar dari hati yang bakhil, harta yang sia-sia, dan jiwa yang selalu khawatir dan tidak pernah puas.

KEINGINAN ISTRI


Saya pernah mendapati jama’ah yang bercerita tentang masalah rumah tangga yang akhirnya harus kandas setelah 15 tahun.
.
Padahal secara ukuran.. semua serba cukup, serba ada, serba ideal.
Rumah ada.. kendaraan dan fasilitas lengkap.
Suaminya tampan dan seorang pegawai pemerintah.
Demikian pula dengan sang istri. Tampak bersih dan merawat dirinya.
.
Begitu cerita..
Ternyata ujung dari semua masalah ini adalah,
Si wanita selama ini kurang merasa dihargai sebagai seorang Istri.
.
.
Ia tak pernah dibela saat keluarga suaminya membicarakan sesuatu yang “miring” tentang sang istri. Suaminya diam jika ada keluarganya mengatakan sesuatu yang kurang dari istrinya.
.
Si istri merasa.. bahwa suaminya tak pernah berusaha membelanya. Tidak ada di saat ia butuh perlindungan moral.
.
Suaminya tak pernah berusaha menceritakan kebaikan istri di hadapan keluarga besarnya seolah tak ada satu kebaikan pun yang pernah dilakukan istrinya.
.
Sang istri merasa bahwa ia tak punya sosok yang bersedia melindungi dan membelanya sebagai ayahnya dulu memperlakukannya.
.
.
Akhirnya saya belajar.. Dan semoga jadi pelajaran untuk kita semua. Bahwa salah satu hal yang paling didambakan oleh seorang istri dari suaminya adalah PEMBELAAN.
.
.
Sebagaimana Rasululloh shollallahu’alaihi wa sallam selalu membela bunda khadijah Radhiyallahu anha setiap ada komentar kurang baik tentang istri tercintanya itu.. bahkan sampai sepeninggalnya.
Hal ini pernah terjadi di saat bunda Aisyah Radhiallahu’anha cemburu kepada bunda Khadijah Radhiallahu’anha.
.
Seketika Rasululloh shollallahu’alaihi wa sallam membela dengan menyebutkan banyak keutamaan istri pertamanya itu.

  • Yang pertama beriman.
  • Yang membenarkan perkataan.
  • Yang mengorbankan harta.
  • Dan yang memberi keturunan.
    .
    .
    Jadilah suami yang siap membela istrinya..
    Siap meluruskan setiap kabar buruk tentang istrimu.
    Inilah sikap seorang suami..
    .
    Jika istrimu salah, jangan salahkan ia depan publik. Jaga kehormatannya.. ajak pulang dan nasihati saat berdua.
    .
    Puji istri saat melakukan kebaikan..
    Dan ceritakan di depan orang lain tentang kelebihan dan kebaikannya.
    .
    Karena setiap istri.. sejak pertama ia keluar dari rumah ayahnya, sejak hari itu, ia tak punya lagi pembela kecuali suaminya. Ia berharap mampu menjadikan suaminya sebagai pengganti dari sosok ayahnya.
    .
    .
    Klaten, 23 Februari 2023
    Salam
    Andre Raditya
    .

NasihatUntukDiri #PelajaranRahmatBerkah #Hikmah #RezekiLevel9 #AndreRaditya

SENANTIASA BERHUSNUDZAN


Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata, Aku mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiga hari sebelum wafat bersabda,
“Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.”
(HR. Muslim, 2877)

Sahabat,
Kita harus senantiasa berpikir positif dalam segala hal. Karena semua kejadian, apa pun itu, berada sepenuhnya dalam genggaman Allaah ﷻ dan terjadi karena seizin-Nya. Dengan berpikir positif, seseorang akan mampu menyikapi setiap kejadian dengan cara terbaik…

Selain itu, ia pun akan mampu menghadapi hidup dengan optimis. Betapa tidak, ia dekat dengan Allah ﷻ Dzat Penguasa yang ada. Karena itu, orang beriman tidak pernah rugi, diberi nikmat dia bersyukur. Syukur adalah kebaikan bagi dirinya, diberi ujian dia bersabar, dan sabar adalah kebaikan bagi dirinya…

Hakikatnya Allah ﷻ tidak pernah membuat jarak dengan manusia. Manusia sendiri yang membuat jarak dengan Allah ﷻ. Demikian pula, Allah tidak pernah menghambat manusia untuk sukses, tapi manusia sendiri yang menghalangi dirinya untuk sukses. Kunci dari semua itu adalah pikirannya. Manusia adalah bentukan pikirannya. Tak heran bila Norman Vincent Peale mengatakan, “You are what you think”; Anda adalah apa yang Anda pikirkan..

✒️https://t.me/today_muhasabah

PAHAMI ISTRI

Istri Multi tasking..
Suami pahami & syukuri..

Istri yg tinggal drumah tingkat stress lebih tinggi daripada istri yg pergi bekerja..

Kenapa?

Karena suami yg bekerja mendapatkan penghargaan atas dirinya dalam peran pekerjaan yg ia lakukan. Bertemu banyak orang..

eksistensi diri lebih berharga karena banyak orang yang menghargai pekerjaannya..
Interaksi sosial yg lebih luas & aktualisasi diri lebih berkembang..

Penampilan lebih fresh..
hidup terasa dinamis..
Gak melulu itu-itu aja..
Bisa punya uang sendiri & bebas mau memberi kpd siapa saja..

Sedangkan Istri yg tinggal di rumah..
Minim penghargaan..
Minim perhatian..
Ga punya uang..
Sibuknya itu – itu aja..
Padahal itu pekerjaan yg paling Mulia..

Dan kemuliaan itu memang gak mudah..
Banyak tekanannya..
Tambah lagi yg Suaminya kerja terus..
Sedikit waktu dirumah..
Kurang perhatian.
Kurang kasih sayang..
Pas sudah dirumah tetep aja gak faham gimana caranya kasih perhatian ke Istri..
Gak faham kebutuhan istri..
Sibuk aja sama Hape..
Tambah dah Istri sumpek lahir batin..

Istri yang tinggal drumah..
Setiap hari berhadapan dengan rutinitas yg sama..
Memasak menyiapkan makanan untuk keluarga..
Setelah masak & makan, cucian piring numpuk deh..

Tiap hari ketemunya cucian & setrikaan..
Tambah lagi punya anak bayi & balita..
Sering banget ganti baju..
Sedikit2 kotor atau basah kena makanan atau keringetan..

Tanpa ART..

Semua dikerjain sendiri..
Masak, mandiin anak, nyuapin makan anak, momong & mengasuh anak full time karena masih bayi…
Mengawasi anak main, didik anak..

Baru aja pegang hape..
Anak ada aja keperluannya yg harus ibu layani.. minta ini itu karena belum bisa sendiri..

Yang bikin ibu tambah stress, kalau ada suami dirumah tapi gak peka kebutuhan istrinya yg seorang perempuan..
Sampai rumah yg di buka & di lihat Hape lagi, sampai waktu tidur..

Istri butuh cerita..
Disangka nya banyak mengeluh..
Padahal cuma cerita..
Kadang ga butuh solusi juga..

DAKWAH TAK BOLEH BERHENTI

95% orang-orang salah dan menjawab tidak tahu, ketika ditanya siapa Nabi setelah Nabi Isa. Hal itu tampak di sebuah video yang cukup viral. Miris sekali ya. Itu pertanyaan yang harusnya mayoritas muslim tahu jawabannya.

Jika pertanyaan selevel itu banyak yang tak tahu jawabannya. Bagaimana kah mereka tahu seputar perkara lainnya. Tentang wajibnya menutup aurat, haramnya pacaran, ngerinya dosa riba. Atau bagaimana mereka akan faham kalau Islam punya sistem ekonomi yang mensejahterakan, sistem pergaulan yang sesuai fitrah manusia, hingga sistem pemerintahan yang pemimpinnya takut pada Allah. Jika mereka tak tahu, bagaimanakah mereka akan rindu penerapan Islam yang kaffah? 😭

Dan itulah yang diinginkan barat atau musuh-musuh Islam. Untuk menghancurkan Islam tak perlulah dengan menemb*kkan seribu meriam. Cukup jauhkan Islam dari diri generasi. Sibukkan mereka pada hal-hal yang unfaedah. Buat mereka lupa pada akhirat. Kasih mereka kesenangan yang melenakan.

Maka dakwah memang tak boleh berhenti. Harus semakin luas jangkauannya. Gunakan seluruh kemampuanmu untuk bergerak. Pakai sosmedmu untuk dakwah. Karena tugas kita masih panjang. Perjuangan kita belum selesai. Sembari terus khusu’ berdoa semoga kemenangan yang dijanjikan segera tertunaikan. 🤲🤲

Kak Oksa

**

TABARRUJ

Berjilbab Lebar Namun Bertabarruj

Tujuan disyariatkannya jilbab bagi perempuan adalah untuk menutupi perhiasan dan kecantikan mereka ketika mereka berada di luar rumah atau di hadapan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya.

Oleh karena itu, tidak diragukan lagi, wanita yang keluar rumah memakai pakaian atau jilbab yang dihiasi dengan bordiran, renda, ukiran, motif dan yang sejenisnya, ini jelas merupakan bentuk tabarruj, karena pakaian/jilbab ini menampakkan perhiasan dan keindahan yang seharusnya disembunyikan.

Maka meskipun pakaian atau jilbab tersebut dari bahan kain yang longgar dan tidak tipis, akan tetapi kalau dihiasi dengan hiasan-hiasan yang menarik perhatian atau dengan model yang justru semakin memperindah penampilan wanita yang mengenakannya maka ini jelas termasuk tabarruj.

Kemudian kalau kita tanyakan kepada wanita yang menambahkan bordiran, renda, ukiran, motif dan yang sejenisnya pada pakaian luarnya, apa tujuannya?, maka tentu dia akan menjawab: supaya indah, untuk hiasan, supaya keren, dan kalimat lain yang senada.

Maka dengan ini jelas bahwa tujuan ditambahkannya bordiran, renda, ukiran dan motif pada pakaian wanita adalah untuk hiasan dan keindahan, sedangkan syariat Islam memerintahkan bagi para wanita untuk menutupi dan tidak memperlihatkan perhiasan dan keindahan mereka kepada selain mahram atau suami mereka.

Bahkan kalau kita merujuk pada pengertian bahasa, kita dapati dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI online) bahwa motif/ renda/ bordir juga disebut sebagai hiasan.

Pakaian dan jilbab seperti ini telah disebutkan oleh para ulama sejak dahulu sampai sekarang, disertai dengan peringatan keras akan keharamannya.

Imam adz-Dzahabi berkata[Kitab “al-Kaba-ir” (hal. 134) “Termasuk perbuatan (buruk) yang menjadikan wanita dilaknat (dijauhkan dari rahmat Allah ) yaitu memperlihatkan perhiasan, emas dan mutiara (yang dipakainya) di balik penutup wajahnya, memakai wangi-wangian dengan kesturi atau parfum ketika keluar (rumah), memakai pakaian yang diberi celupan warna (yang menyolok), sutra, pakaian pendek, disertai dengan memanjangkan pakaian luar, melebarkan dan memanjangkan lengan baju, serta hiasan-hiasan lainnya ketika keluar (rumah). Semua ini termasuk tabarruj yang dibenci oleh Allah dan pelakunya dimurkai oleh-Nya di dunia dan akhirat. Oleh karena perbuatan inilah, yang telah banyak dilakukan oleh para wanita, sehingga Rasululah bersabda tentang mereka: “Aku melihat Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita”[HSR al-Bukhari (no. 3069) dan Muslim (no. 2737)

Perhatikan ucapan imam adz-Dzahabi ini, bagaimana beliau menjadikan perbuatan tabarruj yang dilakukan oleh banyak wanita adalah termasuk sebab yang menjadikan mayoritas mereka termasuk penghuni Neraka,
na’uudzu billahi min dzaalik.
[dalam kitab “Jilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 232)]

Imam Abul Fadhl al-Alusi berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya ada sesuatu yang menurutku termasuk perhiasan wanita yang dilarang untuk ditampakkan, yaitu perhiasan yang dipakai oleh kebanyakan wanita yang terbiasa hidup mewah di jaman kami di atas pakaian luar mereka dan mereka jadikan sebagai hijab waktu mereka keluar rumah. Yaitu kain penutup tenunan dari (kain) sutra yang berwarna-warni, memiliki ukiran (bordiran/sulaman berwarna) emas dan perak yang menyilaukan mata. Aku memandang bahwa para suami dan wali yang membiarkan istri-istri mereka keluar rumah dengan perhiasan tersebut, sehinga mereka berjalan di kumpulan kaum laki-laki yang bukan mahram mereka dengan perhiasan tersebut, ini termasuk (hal yang menunjukkan) lemahnya kecemburuan (dalam diri para suami dan wali mereka), dan sungguh kerusakan ini telah tersebar merata”.
[Kitab “Ruuhul ma’aani” (18/146)]

Fatwa lajnah daimah (kumpulan ulama besar ahli fatwa) di Arab Saudi, yang diketuai oleh syaikh ‘Abdl ‘Azizi Alu asy-Syaikh, beranggotakan: syaikh Shaleh al-Fauzan, syaikh Bakr Abu Zaid dan syaikh Abdullah bin Gudayyan. Fatwa no. 21352, tertanggal 9/3/1421 H, isinya sebagai berikut: “’Abayah (baju kurung/baju luar) yang disyariatkan bagi wanita adalah jilbab yang terpenuhi padanya tujuan syariat Islam (dalam mentapkan pakaian bagi wanita), yaitu menutupi (perhiasan dan kecantikan wanita) dengan sempurna dan menjauhkan (wanita) dari fitnah. Atas dasar ini, maka ‘abayah wanita harus terpenuhi padanya sifat-sifat (syarat-syarat) berikut: …Yang ke empat: ‘abayah tersebut tidak diberi hiasan-hiasan yang menarik perhatian. Oleh karena itu, ‘abayah tersebut harus polos dari gambar-gambar, hiasan (pernik-pernik), tulisan-tulisan (bordiran/sulaman) maupun simbol-simbol”.
[Fataawa al-Lajnah ad-daaimah (17/141)]

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin pernah diajukan kepada beliau pertanyaan berikut:

“Akhir-akhir ini muncul di kalangan wanita (model) ‘abayah (pakaian luar/baju kurung) yang lengannya sempit dan di sekelilingnya (dihiasi) bordir-bordir atau hiasan lainnya. Ada juga sebagian ‘abayah wanita yang bagian ujung lengannya sangat tipis, bagaimanakah nasihat Syaikh terhadap permasalahan in?”

Jawaban beliau:

“Kita mempunyai kaidah penting (dalam hal ini), yaitu (hukum asal) dalam pakaian, makanan, minuman dan (semua hal yang berhubungan dengan) mu’amalah adalah mubah/boleh dan halal. Siapapun tidak boleh mengharamkannya kecuali jika ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

Maka jika kaidah ini telah kita pahami, dan ini sesuai dengan dalil dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Allah berfirman:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً}

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian” (QS al-Baqarah: 29).

Dan Firman-Nya:

{قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ}

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat” (QS al-A’raaf: 32).

Maka segala sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dalam perkara-perkara ini berarti itu halal. Inilah (hukum) asal (dalam masalah ini), kecuali jika ada dalil dalam syariat yang mengharamkannya, seperti haramnya memakai emas dan sutra bagi laki-laki, selain dalam hal yang dikecualikan, haramnya isbal (menjulurkan kain melewati mata kaki) pada sarung, celana, gamis dan pakaian luar bagi laki-laki, dan lain-lain.

Maka apabila kita terapkan kaidah ini untuk masalah ini, yaitu (hukum memakai) ‘abayah (model) baru ini, maka kami katakan: bahwa (hukum) asal pakaian (wanita) adalah dibolehkan, akan tetapi jika pakaian tersebut menarik perhatian atau (mengundang) fitnah, karena terdapat hiasan-hiasan bordir yang menarik perhatian (bagi yang melihatnya), maka kami melarangnya, bukan karena pakaian itu sendiri, tetapi karena pakaian itu menimbulkan fitnah”.
[ Liqa-aatil baabil maftuuh (46/17)]

Di tempat lain beliau berkata: “Memakai ‘abayah (baju kurung) yang dibordir dianggap termasuk tabarruj (menampakkan) perhiasan dan ini dilarang bagi wanita, sebagaimana firman Allah :

{وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ}

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), maka tidak ada dosa atas mereka untuk menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan” (QS an-Nuur: 60).

Kalau penjelasan dalam ayat ini berlaku untuk perempuan-perempuan tua maka terlebih lagi bagi perempuan yang masih muda” [Kitab “Majmu’ul fataawa war rasa-il” (12/232)]

Syaikh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim berkata: “Yang jelas merupakan pakaian wanita yang menjadi perhiasan baginya adalah pakaian yang dibuat dari bahan yang berwarna-warni atau berukiran (bordiran/sulaman berwarna) emas dan perak yang menarik perhatian dan menyilaukan mata”[Kitab “Shahiihu fiqhis sunnah” (3/34)]

Kemudian, perlu juga kami ingatkan di sini, bahwa berdasarkan keterangan di atas, maka termasuk tabarruj yang diharamkan bagi wanita adalah membawa atau memakai beberapa perlengkapan wanita, seperti tas, dompet, sepatu, sendal, kaos kaki, dan lain-lain, jika perlengkapan tersebut memiliki bentuk, motif atau hiasan yang menarik perhatian, sehingga itu termasuk perhiasan wanita yang wajib untuk disembunyikan.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Memakai sepatu yang (berhak) tinggi (bagi wanita) tidak diperbolehkan, jika itu di luar kebiasaan (kaum wanita), membawa kepada perbuatan tabarruj, nampaknya (perhiasan) wanita dan membuatnya menarik perhatian (laki-laki), karena Allah berfirman:

{وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى}

“Dan janganlah kalian (para wanita) bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” (QS al-Ahzaab:33).

Maka segala sesuatu yang membawa wanita kepada perbuatan tabarruj, nampaknya (perhiasan)nya dan tampil bedanya seorang wanita dari para wanita lainnya dalam hal mempercantik (diri), maka ini diharamkan dan tidak boleh bagi wanita”[Majmuu’atul as-ilatin tahummul usratal muslimah (hal. 10)


Di-copas dari tulisan Ustadz Abdullah Taslim Lc., MA. yang berjudul “Tabarruj, dandanan ala jahiliyah wanita modern” di website pribadi beliau.

Read more https://muslimah.or.id/7794-pakai-jilbab-lebar-namun-masih-termasuk-tabarruj.html

fikihpakaianmuslimah

notabaruj

wanitamuslimah

saminawaathona

JANGAN MENCELA

Jangan Mencela Kejelekan & Dosa Saudaramu, Nanti Kau Juga Akan Melakukannya

Abu Musa Al Asy’ari berkata :
Jika aku melihat seorang pria menyusui domba di jalan, lalu aku mencela & mengejek perbuatannya, maka aku khawatir tidak akan mati sampai aku juga akan melakukannya (menyusuinya).

Ibrahim An Nakha’i berkata :

Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku akan melakukan hal yang sama dikemudian hari

Hasan al Bashri berkata :

Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela dan menjelekkan saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut


Ibnul Qayyim juga menjelaskan :.

ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻋُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﻬِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺃَﻥْ ﻳُﺮِﻳْﺪَ ﺑِﻪِ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺻَﺎﺋِﺮَﺓٌ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻻَ ﺑُﺪَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻬَﺎ

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.”

Pelajaran yang dapat diambil :

  1. Bila melihat maksiat, dosa, keburukan, perbuatan dan prilaku tercela yang dilakukan saudara kita, jangan pernah mencela dan menjelekkan perbuatannya tsb, tapi doakanlah dia semoga Allah beri petunjuk.
  2. Mencela dan menjelek-jelekkan perbuatan maksiat yang dilakukan orang lain, berarti merasa diri bersih dan suci, tidak pernah berbuat dosa, merasa sombong terhadap orang lain. Tentu ini merugikan diri sendiri. Orang yang berbuat maksiat, kita juga kebagian dosa.
    Sebagaimana perkataan Ibnu Qoiyim :
    ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ

“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa dan maksiat yang dilakukan saudaramu karena menghilangkan ketaatan dan merasa diri suci.

nasehatdiri

tazkiyatunnafs

jagalisanjagahati

MENGOBATI KEKECEWAAN

Serial Ta’ammulat Qur’aniyah #45
Oleh: K.H. Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc.

  • Jika kamu kehilangan sesuatu, atau gagal mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, seperti kalah tender atau peluangmu untuk mendapatkan sesuatu sangat kecil maka janganlah bersedih hati. Obatilah hatimu dengan firman Allah sebagai berikut.

عَسَىٰ رَبُّنَا أَن يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

“Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik darinya. Sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.” (al-Qalam [68]: 32)

  • Atau tenangkanlah hatimu dengan ayat-Nya yang lain.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah [2]: 216)

  • Allah memberi apa yang baik menurut-Nya, bukan apa yang kita inginkan. Apa yang diberikan Allah pasti lebih baik dari apa yang kita inginkan.