INDAH KARENA TIADA

Seorang guru memberikan tugas kpd para siswanya utk menuliskan tujuh keajaiban dunia.
Malamnya sang guru memeriksa tugas tsb. Sebagian besar siswa menuliskan : piramida, Taj Mahal, tembok besar China, menara Pisa, kuil Angkor, menara Eiffel, dan candi Borobudur.

Lembar demi lembar memuat hal yg hampir sama. Bbrp perbedaan hanya terdapat pada urutan daftar tsb. Tapi guru terus memeriksa sampai lembaran terakhir.

Dan di lembaran terakhir, sang guru terdiam. Lembar milik seorg gadis kecil pendiam berisikan :
7 keajaiban dunia : bisa melihat, bisa mendengar, bisa menyentuh, bisa disayangi, bisa merasakan, bisa tertawa, dan bisa mencintai.

Setelah duduk terdiam bbrp saat, sang guru menutup lembaran itu, kemudian menundukkan kepalanya seraya berdoa, mengucap syukur utk gadis kecil pendiam di kelasnya, yg telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat, yaitu tdk perlu mencari sampai ke ujung bumi utk menemukan keajaiban.
Keajaiban itu ada di sekeliling kita, utk kita miliki dan tak lupa utk kita syukuri.

Apa yg kita cari dlm hidup ini?
Kita hidup di desa, kita merindukan kota. Kita hidup di kota, merindukan desa.
Kalau kemarau, kita bertanya kapan hujan. Di musim hujan kita bertanya kapan kemarau.

Diam di rumah, inginnya pergi. Setelah pergi, inginnya pulang ke rumah. Waktu tenang, cari keramaian. Waktu ramai, cari ketenangan.

Dulu ketika masih sendiri, mengeluh ingin nikah. Setelah berkeluarga, mengeluh blm pny anak. Setelah pny anak, mengeluh betapa beratnya biaya hidup dan pendidikan.

Ternyata, SESEUATU TAMPAK INDAH KARENA BELUM KITA MILIKI.

Kapankah kebahagiaan dpt kita dapatkah, kalau kita selalu mengharapkan apa yg belum ada. Tapi mengabaikan apa yg sudah kita miliki. Jadilah pribadi yg selalu bersyukur dgn rahmat yg sudah kita miliki.

Mungkinkah selembar daun yg kecil dpt menutupi bumi seluas ini? Menutupi telapak tangan saja sulit. Tapi kalau daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi dgn daun. Begitulah hati, bila pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana. Bumi ini pun akan tampak buruk. Jgn menutup hati kita dgn pikiran buruk walau hny seujung kuku.

Syukurilah apa yg sdh kita miliki, sbg modal utk memuliakanNya. Krn hidup adalah waktu yg dipinjamkan, dan harta adalah berkah yg dipercayakan. Dan semua itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Jadi, bersyukurlah atas nafas yg masih kita miliki, bersyukurlah atas keluarga yg kita miliki, bersyukurlah atas pekerjaan dan kegiatan yg kita miliki. Bersyukur dan selalu bersyukur di dlm segala hal.

Selamat Tahun Baru Hijriah.
🌿🍃🌿🍃🌿🍃

LIMA MENIT YANG SANGAT BERMANFAAT

Seringkali datang rasa malas dalam benak kita untuk melakukan amal ketaatan yang sebenarnya ringan, itulah lihainya setan dalam menggoda manusia.

Diantara tips untuk melawan kemalasan ini adalah dengan MENYEDERHANAKAN sebuah amalan, yakni menyadarkan diri bahwa amalan itu sangat ringan dan sederhana, hanya butuh LIMA MENIT saja.

Ketika Anda malas sholat sunnah 2 rekaat sebelum atau sesudah sholat wajib, maka katakan pada diri Anda dan lihatlah jam: “Hanya butuh kurang dari lima menit, masa PELIT beramal untuk diri sendiri..?!“

Ketika Anda malas membaca Qur’an, maka katakan pada diri Anda: “Cobalah membaca Qur’an, lima meniiit saja, pahala untuk selamanya lho…“

Ketika Anda malas untuk membaca dzikir-dzikir setelah sholat fardhu, katakan pada diri Anda:

  • Tidak maukah berdzikir meski hanya lima menit..?!
  • bukankah telah banyak waktu yang terbuang tanpa pahala..?!

Selamat mencoba tips ini, dan ikutilah gerakan jam untuk membuktikannya bila diinginkan dan dimungkinkan, insyaAllah akan banyak amal ibadah yang bisa Anda lakukan…

————

Bilangan “5 menit” di sini hanyalah sebagai perwakilan untuk bagian kecil dari waktu Anda, sehingga bila masih terlihat banyak, maka bisa diganti dengan 4, 3, 2, 1 menit… dan bila terlihat terlalu sedikit, bisa diganti dengan 6,7,8, dst…

Metode seperti ini juga tersirat dalam beberapa hadits, diantaranya sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-

“Ada DUA kalimat yang RINGAN di lisan, dicintai oleh Arrohman, dan berat dalam timbangan;
subhaanallohi wabihamdih, subhaanallohil azhiim..“

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA

(Dikutip dari WAG)

DUO ARAFAH

Dulu, saya juga berpikiran sama seperti sebagian besar orang. Idul Adha itu harusnya sama di seluruh dunia, karena patokannya wukuf di Arafah. Kalau jamaah haji sedang wukuf, itu berarti tanggal 9 Dzulhijjah, bagi yang tidak berhaji disunahkan puasa, namanya Puasa Arafah.

Namun, setelah saya menulis buku “Dalam Naungan Cinta Al Haramain” sepulang ibadah haji tahun 2015, saya tersadarkan bahwa ternyata saya keliru.

Sebelum menulis, saya membaca buku-buku sejarah pelaksanaan ibadah haji, salah satunya kisah penamaan hari di bulan Dzulhijjah.

Jadi, Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijah itu ada sejarahnya. Yakni, sejarah Nabi Ibrahim ketika diperintahkan mengurbankan putranya, Ismail.

Nabi Ibrahim AS diberi mimpi secara berturut-turut selama tiga malam.

Malam tanggal 8 Dzulhijjah, beliau mimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih Ismail, tapi tak langsung dilaksanakan esoknya. Beliau merenung, benarkah itu mimpi dari Allah. Maka malam 8 Dzulhijjah di sebut malam Tarwiyah (perenungan). Tanggal 8 disebut Hari Tarwiyah.

Malam tanggal 9 Dzulhijjah, beliau mimpi lagi, barulah beliau mengetahui dan memahami bahwa mimpi itu datang dari Allah, maka tanggal 9 Dzulhijah disebut Arafah (Mengetahui/meyakini).

Malam tanggal 10 Dzulhijjah, beliau bermimpi ketiga kali, akhirnya esoknya beliau menyampaikan mimpi itu kepada Ismail dan istri beliau, Hajar. Dilaksanakanlah pengurbanan (Nahar) maka tanggal 10 disebut Hari Nahar.

Hal kedua yang saya tahu, Syariat puasa Hari Arafah itu ditetapkan pada tahun 2 H ketika Nabi Muhammad SAW hijrah di Madinah, jadi sebelum Idul Adha, Rasulullah mencontohkan puasa sunah ini kepada para sahabat.

Ada pun wukuf yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy saat berhaji (haji sebagai ritual peninggalan Nabi Ibrahim AS) ternyata tidak di Padang Arafah suka-suka mereka tempatnya.

Barulah, ketika Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji yang disebut Haji Wada pada tahun 10 H, wukuf secara syariat dan kemudian diajarkan dengan manasik (tata cara) oleh beliau dilaksanakan di Padang Arafah. Jadi wukuf Arafah merujuk pada nama tempat. Di sana beliau menyampaikan khutbah wukuf atau khutbah haji.

Padang Arafah sendiri secara sejarah merupakan tempat pertemuan Nabi Adam AS dan Hawa setelah diturunkan dari surga. Arafah di sini bermakna pertemuan (kembali) atau mengenal. Maka ada duo pemaknaan Arafah di sini merujuk nama hari (waktu) dan merujuk nama tempat.

Satu lagi fakta yang menunjukkan bahwa hukum Puasa Arafah itu lebih dulu daripada Wukuf Arafah adalah hadits yang diriwayatkan istri Rasulullah SAW, Maimunah r.a:

“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Logikanya kalau Puasa Hari Arafah patokannya wukuf, nggak akan ada hadits riwayat di atas. Buat apa tengah berpanas-panas di Padang Arafah malah ada pertanyaan “Rasul puasa apa enggak ya?”
Dan kenyataannya waktu haji dulu, saya pun nggak kepikiran Puasa Hari Arafah, karena fokus pada aktivitas wukuf yang walaupun berdiam diri tapi betul-betul perlu stamina kuat, karena panasnya Padang Arafah.

Dari hadits itulah, Imam Syafii menyimpulkan para jamaah haji disunahkan tidak melaksanakan Puasa Hari Arafah. Kebalikannya yang tidak wukuf, sunah berpuasa Arafah.

Akhirnya, saya pun mengambil kesimpulan diri setelah menulis. Ya Allah betapa pentingnya orang belajar sejarah agar tidak mudah merasa benar sendiri.

Idul Adha dan ibadah Haji secara sejarah memang sama-sama berkaitan sebagai peninggalan Nabi Ibrahim AS, akan tetapi setelah datangnya Nabi Muhamammad SAW keduanya memiliki syariat masing-masing, berdiri sendiri meskipun pelaksanaanya bersamaan secara waktu.

Karena Hari Arafah merujuk waktu, maka penentuannya berdasarkan terbitnya bulan sebagai tanda pergantian hari di masing-masing tempat.

Dari laman Rumah Fiqih Indonesia (Ust. Ahmad Sarwat), saya membaca justru Fatwa resmi ulama Kerajaan Saudi Arabia yang menjelaskan, dari para fatwa ulama negeri lainnya terkait Puasa Arafah, penentuan puasa dan Idul adha diserahkan ke masing-masing negara.

Salah satu ulama besar di Saudi adalah Syeikh Al-Ustaimin rahimahullah menyampaikan petikan berikut:

“Begitu juga bila ditetapkan hasil rukyat negara itu tertinggal dari Mekkah, sehingga tanggal 9 di Mekkah menjadi tanggal 8 di negara itu, maka penduduk negara itu puasanya pada tanggal 9 menurut negara itu, walaupun itu berarti sudah tanggal sudah tanggal 10 di Mekkah. (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin).

Dari sini kesimpulannya, penentuan Puasa Arafah dan Idul Adha diserahkan kepada keputusan negara masing-masing dalam penentuan awal Dzulhijjah.

Akhirnya kita akan dikembalikan pada keyakinan yang berbasis penggunaan metode, apakah Rukyatul Hilal ataukah Hisab.

Jika dengan metode hisab meyakini hari ini tanggal 9 Dzulhijjah maka hari ini Puasa Arafah, besok Idul Adha lanjut berkurban.

Namun, kalau berdasarkan rukyatul hilal ternyata hari ini diyakini masih 8 Dzulhijjah, maka puasa hari arafahnya besok, dan sholat Id nya hari Kamis, 29 Juni 2023.

Kalau sudah yakin, istiqomahlah. Misal hari ini puasa, maka besok sholat Ied, jangan dicampur, maksudnya sholat ied-nya ikutan hari Kamis.

Wallahu ‘Alam.

Wikan Rusdi, penulis buku Dalam Naungan Cinta Al Haramain.

(dikutip dari WAG)

HIDUP UNTIK MEMILIH

Oleh: Ir Etty Praktiknyowati
Ketua Umum Salimah

Sehari ada 24 jam, sepekan tujuh hari, sebulan empat pekan. Ini merupakan waktu yang diamanahkan kepada manusia, mahluk yang diciptakan Allah SWT.

Setiap hari kita menemui berbagai macam pilihan dalam aktivitas kehidupan. Memilih untuk berbaring atau berdiri, berjalan atau berlari, ke kanan atau ke kiri, warna orange atau ungu, sendiri atau bersama. Bahkan dalam hal keyakinan, pilih ini atau itu.

Dan semuanya tidak ada paksaan. Karena itu, sebelum memilih, selayaknya kita sudah punya ilmu, pengetahuan, rasa, pengalaman, dan lain sebagainya, untuk menjadi pertimbangan kenapa kita memilih ini dan itu. Sebab, setelah itu kita harus memiliki keyakinan dengan pilihan itu. Tidak terganggu dengan hal-hal yang tidak produktif, seperti minder, tidak percaya diri, atau ragu-ragu dan was-was.

Kita perlu memastikan bahwa pilihan kita benar. Dengan begitu, kita yakin menjalaninya dan menjadi energi positif bagi sekitar. Kita bergairah memakai atau menjalaninya. Dan tentunya kita sedang bahagia lahir dan batin, serta bersyukur atas pilihan kita.

Menyenangkan sekali ketika kita mampu dan berani melakukan pilihan yang sesuai dengan keyakinan.

Ada doa yang dihadiahkan Allah SWT kepada kita yang memilih Islam sebagai pilihan keyakinan. Doa itu adalah “Ihdinashirothol mustaqiim” (QS Al Fatihah ayat 6). Artinya, tunjukilah kami jalan yang lurus.

Itu adalah doa sekaligus hadiah dari Allah SWT atas pilihan kita. Doa yang kita butuhkan untuk keselamatan dan kesuksesan dunia dan akhirat. Luar biasa!

Sebab, hidup tidak hanya di dunia saja. Ada kehidupan setelah di dunia yang harus kita jalani. Itu adalah hidup kekal yang tentunya kita ingin selamat.

Dengan daya jangkau terbatas dan minimnya pengetahuan serta untuk efektifitas serta efisiensi kehidupan, maka kita hanya berharap petunjuk Allah SWT atas pilihan yang harus kita jalani bersama keluarga, sahabat, dan masyarakat, sehingga memberikan dampak dan manfaat yang lebih luas dan lebih banyak.

Kita berharap, setiap pilihan akan membawa keberkahan yang melimpah.

PERINGATAN HARI LANSIA NASIONAL SALIMAH

PERINGATAN HARI LANSIA NASIONAL BERSAMA SALIMAH

Sekitar 350 orang lanjut usia (lansia) berkumpul di halaman Jakarta Islamic Center (JIC), Jakarta Utara, pada Minggu (9/7/2023).

Para lansia mengikuti beberapa rangkaian acara, yaitu : senam bersama, pemberian nutrisi sehat, dan penilaian kemandirian lansia.

Gerakan senam yang dilakukan adalah senam jantung sehat dan senam pernapasan.

Seorang lansia yang mengikuti kegiatan adalah Misniani (64), warga Jakarta Utara.
Di usia senjanya, ia terlihat ceria dan bersemangat mengikuti kegiatan ini.

“Sejak pensiun, saya sudah mengikuti kegiatan Salimah. Pengajian dan juga senam. Daripada di rumah saja, lebih baik berkumpul, bertemu teman-teman,” ujarnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Salimah, Ir. Etty Pratiknyowati menjelaskan bahwa kegiatan Peringatan Hari Lansia ini dilakukan secara nasional, dilaksanakan serentak di seluruh tanah air.
“Salimah mencoba mendampingi para lansia agar bisa hidup bahagia, sehat dan mandiri.

Muhammad Alwi, selaku kepala badan Kesra walikota Jakarta Utara, mengatakan, “Usia muda itu menjadi tantangan untuk memperbaiki diri menghadapi usia tua. Kita perlu belajar kepada para lansia. Bagaimana bisa hidup sehat dan bahagia.”

Beliau juga memberikan saweran untuk para lansia yang kemarin telah menyelesaikan bacaan Qur’an 1 juz.

Turut hadir pula, H. Yunus Burhan, S.Sos, MaP, Kepala Suku Badan Kesbangpol DKI Jakarta. “Anak-anak hendaknya sering mendampingi orang tua, karena akan memberikan rasa bahagia yang bisa memperpanjang usia. Diharapkan Salimah bersinergi dengan pemerintah dalam program sosial untuk lansia,” ujarnya.

Dalam tausyiahnya, Dra. Wirianingsih, M.Si, menyampaikan agar para lansia tetap semangat menjalani hidup. Jadikan istighfar sebagai penolong untuk mendapatkan solusi.

Semoga kegiatan ini bisa memberikan hikmah, baik kepada para lansia maupun generasi sesudahnya. Dan diharapkan kesediaan semua komunitas yang hadir untuk mendorong anggotanya mengikuti Sekolah Lansia Salimah (Salsa).

Bersama Salimah, lansia sehat, lansia bahagia, lansia mandiri.

GELAR SILATURAHMI AKBAR, SALIMAH DKI JALIN KONSOLIDASI DAN KOORDINASI

Jakarta(11/6/23)

Walau bulan Syawal telah berlalu, Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (PW Salimah) DKI Jakarta tetap menggelar kegiatan halal bi halal yang bertempat di mesjid Al Amin, komplek DPR, Jakarta Selatan.

Acara yang bertemakan Memperluas Kebaikan Untuk Keberkahan Bangsa ini, diikuti oleh seluruh jajaran pengurus, mulai dari tingkat pimpinan wilayah hingga pimpinan ranting.

Turut hadir para petinggi Salimah Pusat, yaitu ibu ketua Salimah Pimpinan Pusat, Ir. Etty Praktiknyowaty, dan ustadzah Sinta Santi, Lc.

Dalam sambutannya, ketua PW Salimah DKI Jakarta, dr. Yulia Andani Murti, M.K.K.K menyampaikan, ketika seorang istri menggapai cinta suami, itu adalah sebuah perjuangan. Demikian juga dalam menggapai cinta Allah, dibutuhkan keikhlasan yang luar biasa. Karena begitu banyak ujian cinta dariNya. Dan nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk itu. Dampak kerja dari keikhlasan nabi Ibrahim kita rasakan hingga sekarang. Maka bersama Salimah kita bisa mengasah keikhlasan. Sebab bila sendirian, akan terasa sulit berkembangnya rasa manfaat terasa lebih luas. Disebutkan pula ke depannya akan ada launching Pimpinan Daerah Kepulauan Seribu.

dr. Yulia Andani Murti, M.K.K.K

Selanjutnya Ir. Etty Praktiknyowati selaku ketua PP Salimah menyampaikan ajakan untuk memanfaatkan Salimah agar mendapatkan surga Allah. Potensi kebaikan sudah ada di mana-mana. Utamakan ukhuwah, perbaiki hubungan, saling silaturahmi, saling tolong menolong dan saling mendoakan. Agar program Salimah menjadi nyata.

Disampaikan pula tentang program Pendamping Halal Salimah. Sebuah kegiatan yang digerakkan oleh HSC (Halal Salimah Center) dan program untuk lansia.

Ir. Etty Pratiknyowaty

Sementara itu, dalam tausyiahnya ustadzah Sinta Santi, Lc, menyampaikan bahwa silaturahmi bukan hanya antar pengurus. Bagaimana sistem koordinasi dan kolaborasi harus ditingkatkan dalam setiap kegiatan. Optimalkan seluruh potensi yg dimiliki.

Ustadzah Sinta Santi, Lc

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan kelompok marawis dari PD Jakarta Utara, pembagian dorprise, penyerahan hadiah dan sertifikat kepada peserta program Khatamqu Ramadhan, pemberian bingkisan berupa vacuum cleaner dari ketua PW untuk PD pengirim peserta terbanyak, bazar dan syuting video Gerakan Dua Ribu (Gardu).

Kelompok Marawis PD Jakarta Utara

Terimakasih kepada Yakesma dan RZI yang sudah mensponsori acara ini. Semoga dengan digelarnya acara ini, makin memperkokoh rasa persaudaraan dan semangat kerja kita semua.

APA SIH SAKINAH ITU?

Saat ini banyak terpampang di media sosial, baik tulisan atau video, tentang suami kekinian yang jadi idaman para wanita. Sang suami digambarkan tidak hanya getol mencari nafkah tapi juga piawai mengerjakan urusan rumah tangga. Dengan ungkapan kalau istri bukanlah pembantu, istri tidak wajib memasak, bukan tugas istri untuk beberes di rumah, dan sebagainya.

Hingga seorang pria bertanya, “Apa gunanya peran istri? Jika suami jaman sekarang dituntut untuk harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dan tetap harus mencari nafkah juga.”

Peran istri itu untuk membuat suami tenang. Merasa SAKINAH.

Sakinah itu artinya tentram, damai, dan nyaman di dekat istrinya.

Setiap rumah tangga berbeda keadaannya. Beda kulturnya, beda ekonominya. Ada yang saling berbicara dengan keras, ada yang tidak. Ada yang kekurangan, ada yang tajir melintir.

Karena itulah, takaran sakinah pada tiap pasangan tidak bisa disamakan. Ada suami yang membiarkan istrinya bekerja. Karena kalau di rumah saja, istrinya malah bisa stress, karena biasa aktif di luar sejak dulu. Merasa tidak tertantang secara intelektual, misalnya. Selama suaminya ridho, senang, nggak apa-apa kalau suami pulang nggak dipijitin karena istri sudah capek juga, malah rebahan bareng di lantai depan TV. Selama mereka bahagia, itu SAKINAH. Tak perlu diberi nasihat, “Istana istri adalah di rumah suaminya. Bla.. bla.. bla..”

Ada istri yang sukanya di rumah saja. Senangnya masak, bebenah, main sama anak, membuat rumah terasa nyaman bagi semua penghuninya. Suami pulang kerja dielus-elus sampai ketiduran. Biarkan saja, mereka berdua bahagia. Itu namanya SAKINAH. Jangan diceramahin tentang perempuan harus mandiri, punya karir, kesetaraan gender, bla..bla..bla..

Tidak semua istri ingin pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh suaminya. Ada yang mau mengerjakan sendiri, ada yang mau pakai asisten, atau mau beli peralatan canggih agar cepat selesai.

Tidak ada yang menuntut suami harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Wajibnya suami itu, memastikan pekerjaan di rumah kelar dengan baik. Bisa bayar asisten atau sesuai permintaan istri. Yang tidak boleh, memaksa istri membereskan semuanya dan bilang itu tugas istri. Tugas istri itu membantu suami memastikan semua berjalan dengan baik.

Tidak ada juga yang memaksa seorang suami mencari nafkah. Itu perintah Allah SWT. Dzalim dia kalau tidak dilaksanakan. Tapi kalau suami butuh bantuan istri dan anak-anak, dan mereka mau atas dasar cinta dan ridho Allah, maka mereka sudah SAKINAH.

Kalau mereka jadi bertengkar karena termakan nasihat yang tidak tepat sasaran, lalu menjadi tidak sakinah lagi, maka niat baik bisa menjadi dosa. Bila suami istri sudah tidak sepakat dalam banyak urusan, yang menyebabkan salah satu pihak tidak ridho, maka solusinya adalah menaikkan atau menurunkan standar, bila dirasa perlu. Itulah sebabnya mengapa mencari pasangan disuruh yang sekufu. Biar setiap bahasan dirundingkan berdua, ada kesepakatan. Bila mereka senang, maka yang lain harus diam.

Kasih sayang itu sifatnya timbal balik. Ketika istri ingin membuat masakan untuk suaminya, maka suami memberinya uang untuk belanja. Bisa menemaninya pergi ke pasar atau sampai mencuci piring selepas istri selesai masak. Dasarnya adalah kasih sayang dan ingin saling menyenangkan.

Di luaran orang bisa berteori apa pun tentang peran suami istri. Selama pasangan itu ridho, tercukupi, bahagia, akhirnya SAKINAH.

Pasangan menikah untuk membuat surga mereka sendiri di dunia, agar keterusan sampai akhirat.

RAKORWIL

H-1 Ramadhan pengurus Salimah PW DKI Jakarta masih semangat mengikuti kegiatan Rakorwil.
Kegiatan dilaksanakan di Kagaku Cafe, Depok.

Kegiatan yang juga mengundang pengurus dari lima Pimpinan Daerah yang ada di kawasan DKI ini, membahas tentang materi yang disampaikan saat Rakornas, rencana kegiatan selama Ramadhan, dsb.

Semoga dengan kegiatan ini, makin menguatkan koordinasi antara Pimpinan Wilayah dan struktur di bawahnya.

Pelatihan Canva

Alhamdulillah telah selesai pelatihan desain Canva yang dilaksanakan selama enam hari (27 Februari – 4 Maret 2023) oleh dept. Humas. Peserta berjumlah 40 orang dari berbagai daerah di tanah air. Coach Aprina Santeka memberikan materi berupa pengenalan tools Canva, cara membuat quotes yang menarik dan digital painting. Bahkan di akhir sesi, coach memberikan bonus berupa pelatihan cara membuat desain stiker.

Para peserta sangat antusias karena biaya yang dikenakan sangat terjangkau dan waktunya fleksibel. Apalagi coach sangat sabar dalam membimbing dan mengoreksi setiap karya peserta.

Semoga proses hari ini menjadi awal kesuksesan baru. Sampai jumpa di pelatihan berikutnya.

Halal Life Style

BISIKAN HATI
Oleh : Emy Dharmawaty

Tiriring…
Ais yang sedang mengiris gula merah, melirik ponsel di samping talenan. Sebuah notifikasi masuk di group WhatsApp.

Ais meletakkan pisau, lalu menyeka tangannya dengan celemek. Diraihnya ponsel dan mulai membuka WA. Segaris senyuman mengiringi matanya yang membaca sebuah pesan singkat.
‘Weiii… lihat statusku yaa..’

Ais menutup group pertemanan yang sudah terbentuk hampir sembilan tahun itu. Jempolnya lincah menggeser-geser layar hp. Kali ini di hadapannya terpampang foto Arin yang sedang berada di bandar udara Haneda, Tokyo.
See u in Jakarta, girls.. tulisnya.

Tiriring.. tiriring..
Dua sahabatnya yang lain memberi balasan di group. Penuh sukacita. Minta oleh-oleh dan mengingatkan rencana pertemuan mereka dua hari lagi. Ais mengetik fii amanillah ditambah emotikon peluk. Meletakkan ponselnya dan melanjutkan membuat bolu kukus gula merah.

                              *  *  *

Amboina Blue Cafe.
Tiga orang dara berhijab sedang menempati sebuah meja di kafe yang didominasi warna putih dan biru di setiap sudutnya.
“Amy mana, sih? Lama banget,” kesal Anti, sambil matanya menatap pintu masuk.
” Iya, nih. Dari satu jam lalu katanya otewe. Kok belum sampai juga? Kan rumahnya nggak jauh dari sini,” timpal Arin. Ais hanya mengangkat bahu, tersenyum kecil melihat kedua sahabatnya sambil mengaduk-aduk Blue Ocean di depannya dengan sedotan.

Terlihat jelas kerinduan di mata keduanya. Setelah melewati kebersamaan selama di pondok pesantren, lalu lanjut kuliah di kampus Islam yang sama walau berbeda jurusan. Nasib memisahkan mereka setelah wisuda. Personil A4, demikian mereka membranding diri, karena nama panggilan mereka berempat berawalan huruf A. Dua tahun berpisah, baru kali ini bersua kembali.

Tiba-tiba pintu masuk terbuka.
“Amyyy…!!!” pekik Anti dan Arin gembira. Keduanya lalu bangkit menyambut Amy dengan pelukan dan tawa. Ais menyusul dengan kalem. Ekor matanya sempat melihat wajah dua waiters yang keheranan melihat kehebohan para sahabatnya. Untung kafe masih sepi siang itu. Belum ada pengunjung lain selain mereka.

                               * * *

” Gimana nih ceritanya selama kamu di Tokyo?” tanya Amy sembari duduk dan meletakkan tasnya di atas meja. Ketiga sahabatnya menelan ludah melihat tas berlogo LV tersebut. Terbayang harganya yang puluhan juta. Sepertinya Amy telah super mapan hidupnya.
“Seru deh pokoknya,” jawab Arin mengalihkan pandangannya dari si tas. ” Aku terpilih bersama dua jurnalis lain dari Malaysia dan Brunei sebagai perwakilan negara Asia Tenggara, untuk menghadiri undangan dari dinas pariwisata Jepang, dalam sebuah konferensi tentang wisata halal. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Jepang merasa perlu untuk mempromosikan wisata halal yang sedang mereka giatkan kepada Indonesia.”
” Wisata religi kok ke Jepang, nggak salah, tuh?” tukas Ais sambil memberikan daftar menu kepada Amy.
” Wisata halal beda dengan wisata religi,” sahut Arin. Ketiga sahabatnya memandang penuh tanya. ” Hah? Apanya yang beda?”
” Wisata religi itu, bepergian ke suatu tempat dengan tujuan untuk beribadah. Seperti ke Mekkah untuk umroh, sekalian ke Medinah dan daerah lain di sekitarnya, yang memang bernilai pahala bila beribadah di sana. Sedangkan wisata halal, itu tempat wisata yang dilengkapi fasilitas untuk kenyamanan turis muslim. Seperti tersedianya mushalla, tempat wudhu, makanan halal, hiburan tanpa maksiat dan penginapan yang syar’i. Bahkan ada pantai yang memisahkan kawasan pria dan wanita,” jelas Arin panjang lebar.
” Kamu sendiri selama di sana, gimana makannya?” selidik Anty. Arin menghela nafas. ” Selama konferensi sih aman. Panitia betul-betul menyediakan makanan halal. Tapi setelahnya..”
” Kenapa? Kamu minum sake ya?”tuding Anti.
“Bukan. Setelah acara selesai, bos memintaku untuk tinggal selama tiga hari lagi. Aku diberi tugas meliput kantor berita di sana. Aku menginap di losmen kecil untuk menghemat biaya. Selama itu aku sering makan ramen. Aku pilih ramen yang isinya hanya mi dan sayuran. Walaupun sebenarnya aku agak ragu dengan kehalalannya.Ternyata di hari terakhir, seorang warga muslim memberitahu kalau kaldu ramennya pakai mirin sebagai penyedap.”
“Astaghfirullah..” seru Anti, Ais, dan Amy serentak.
“Sebenarnya tidak jauh dari losmen, ada supermarket yang menyediakan alat barcode untuk memeriksa suatu makanan halal atau tidak. Tapi aku terlalu malas ke sana. Aku malas bertanya. Karena kerap kutemui orang Jepang tidak paham bahasa Inggris.”
Ais mengusap-usap punggung Arin. “Ya sudah, kamu perbanyak salat taubat ya.”
Arin mengangguk sambil tersenyum kecut.

                                 * * *

” Aku mau resign.”
Jawaban Anti terhadap pertanyaan Amy tentang pekerjaannya, membuat yang lain menghentikan suapan mereka.
” Bukannya kamu sudah betah  bekerja di sana?” tukas Amy. ” Perusahaan terkenal, ruangan yang nyaman, gaji besar. Apalagi yang kurang?”
Anti menggeser piringnya ke depan, lalu berkata, “Dulu waktu baru lulus kuliah, aku masuk kerja dengan penuh semangat dan membawa idealisme tinggi. Selama ini kupegang teguh, sejak kita di pondok, bahkan sampai di kampus. Ternyata di lapangan tidak semudah yang kubayangkan. Pekerjaanku tiap hari menyiapkan laporan dan surat-surat proyek yang penuh kebohongan. Harga yang dinaikkan terlalu tinggi,  menggandakan jumlah ahli fiktif untuk memenangkan tender, sampai menyuap relasi. Aku sudah nggak tahan. Aku merasa bersalah mengirimi orangtua dari hasil tak jelas begini.” Anti terisak pelan.

Suasana tiba-tiba hening.
” Maaf Amy, aku batal membeli tas darimu,” ujar Anti sambil menghapus air matanya. ” Aku nggak mau kamu turut merasakan uang haram dariku.”
Amy tertegun. Menatap ketiga sahabatnya yang sedang larut dengan pikiran masing-masing. Ragu sejenak, lalu mantap berucap, ” Aku juga punya dosa. Sebenarnya tas-tas bermerk mahal yang aku jual, tidak asli. Barang kawe alias palsu.”
Trio sahabat menatap tak percaya. Ais meraih tas Amy, lalu membolak baliknya. Kelihatan benar mewah dan elegannya.  Tas itu berpindah dari tangan Ais ke tangan Arin, lalu ke Anti. Masa palsu, sih?

“Butik tempat aku bekerja, meminjamkan tas itu kepadaku. Agar orang-orang percaya dan marketingku makin lancar. Mana sanggup aku beli tas begini. Walau kawe, tapi harganya masih 15 juta an.”
“Kamu nggak merasa bersalah jual tas bajakan gitu?” tanya Arin hati-hati.
” Sama seperti kalian. Hati nurani tidak bisa dibohongi. Terasa sakit. Sakitnya itu di sini,” Amy menunjuk dadanya. Semua mengangguk mengiyakan.

                               * * *

“Sepertinya cuma Ais yang jalan hidupnya lurus-lurus saja.”
Semua memandang Ais, menunggu kisahnya.
“Ah, siapa bilang? Apa karena aku kerja di rumah? Tidak seperti kalian yang kerja kantoran?”
” Ya iyalah,” sahut Anty. ” Usaha kue kotak yang kau lakoni sejak dulu, sudah menampakkan hasil, kan? Usaha rumahan, pasti aman, tinggal pilih bahan-bahan kue yang halal.”
“Sebenarnya pernah juga aku melakukan hal yang kurang terpuji.
Ais memelankan suaranya, membuat yang lain menundukkan kepala sedikit, agar bisa mendengar dengan lebih jelas.
” Aku belajar aneka resep kue dari buku bajakan. Kalian tahu kan, buku-buku resep chef terkenal itu harganya selangit. Aku juga pernah sekali waktu, mendapat pesanan lemper, kue dadar isi dan cake pisang. Ternyata hasilnya masih kurang dari jumlah pesanan. Aku enggak sempat belanja bahan lagi. Akhirnya ampas kelapa untuk santan ketan lemper, aku masak untuk isian kue dadar. Pisang juga habis. Kalian tahu apa yang kulakukan untuk membuat cake pisang tambahan?”
Trio A4 menggeleng cepat, lalu terkaget sambil menutup mulut, ketika Ais menjawab, ” Aku pakai kulit pisang.”

                                * * *

Entah ke mana menguapnya ajaran-ajaran agamis dari para ustadzah yang mereka terima dengan penuh khidmat semasa di pondok dulu. Nilai-nilai kejujuran, bagaimana mendapatkan rezeki halal, dan senantiasa berjuang untuk istiqamah. Dunia sudah membutakan mereka. Bermula dari rasa ah tidak apa-apa, sekali ini saja, ah orang lain juga begitu, dan Allah kan Maha Pengampun.
Tak dinyana, reuni ini malah mengungkapkan sisi gelap masing-masing dari mereka. Ada hati yang berontak, rasa takut akan masa depan bila ganti haluan, juga keraguan yang menyelinap.

Para dara A4 saling menggenggam tangan. Mata masih merah akibat linangan yang tertumpah. Berjanji untuk saling mengingatkan dan menguatkan.

“Sudah, sudah. Jangan kelamaan nangisnya ah. Kita harus kuat. Pokoknya pulang dari sini kita harus segera menyusun rencana baru,” tukas Amy.
” Iya, udahan ah, lihat tuh hidungnya pada merah,” Arin menunjuk. Semua saling berpandangan, lalu tergelak tawa.
” Ganti topik yuk, sebentar lagi waktunya pulang nih. Aku masih harus belanja kotak untuk orderan besok,” kata Ais.
” Eh, Ais. Gimana kabar hubungan kamu dengan calonmu itu?” tanya Anti tiba-tiba. ” Nggak boleh lho lama-lama pacaran.”
Yang lain langsung menyimak takjim.
“Idih, siapa yang pacaran?” sangkal Ais mencubit lengan Anti. “Haram tau!”
” Apa masih harus menunggu kakaknya kawin dulu, baru kalian dapat restu?”
Ais mengangguk lemah. Ia lalu mengeluarkan ponsel yang bergetar dari dalam tas, lalu terpekik kaget membaca pesan masuk. Ketiga sahabatnya berebutan ponsel, ikut membaca, mengucap Alhamdulillah bersamaan, dan heboh memeluk Ais. Sang ponsel terletak pasrah di atas meja. Di layarnya masih terlihat jelas sebuah pesan : ‘Dik, abi dan ummi sudah merestui. Menyuruhku untuk segera menghalalkan kamu.’
                             
Selesai.