BISIKAN HATI
Oleh : Emy Dharmawaty
Tiriring…
Ais yang sedang mengiris gula merah, melirik ponsel di samping talenan. Sebuah notifikasi masuk di group WhatsApp.
Ais meletakkan pisau, lalu menyeka tangannya dengan celemek. Diraihnya ponsel dan mulai membuka WA. Segaris senyuman mengiringi matanya yang membaca sebuah pesan singkat.
‘Weiii… lihat statusku yaa..’
Ais menutup group pertemanan yang sudah terbentuk hampir sembilan tahun itu. Jempolnya lincah menggeser-geser layar hp. Kali ini di hadapannya terpampang foto Arin yang sedang berada di bandar udara Haneda, Tokyo.
See u in Jakarta, girls.. tulisnya.
Tiriring.. tiriring..
Dua sahabatnya yang lain memberi balasan di group. Penuh sukacita. Minta oleh-oleh dan mengingatkan rencana pertemuan mereka dua hari lagi. Ais mengetik fii amanillah ditambah emotikon peluk. Meletakkan ponselnya dan melanjutkan membuat bolu kukus gula merah.
* * *
Amboina Blue Cafe.
Tiga orang dara berhijab sedang menempati sebuah meja di kafe yang didominasi warna putih dan biru di setiap sudutnya.
“Amy mana, sih? Lama banget,” kesal Anti, sambil matanya menatap pintu masuk.
” Iya, nih. Dari satu jam lalu katanya otewe. Kok belum sampai juga? Kan rumahnya nggak jauh dari sini,” timpal Arin. Ais hanya mengangkat bahu, tersenyum kecil melihat kedua sahabatnya sambil mengaduk-aduk Blue Ocean di depannya dengan sedotan.
Terlihat jelas kerinduan di mata keduanya. Setelah melewati kebersamaan selama di pondok pesantren, lalu lanjut kuliah di kampus Islam yang sama walau berbeda jurusan. Nasib memisahkan mereka setelah wisuda. Personil A4, demikian mereka membranding diri, karena nama panggilan mereka berempat berawalan huruf A. Dua tahun berpisah, baru kali ini bersua kembali.
Tiba-tiba pintu masuk terbuka.
“Amyyy…!!!” pekik Anti dan Arin gembira. Keduanya lalu bangkit menyambut Amy dengan pelukan dan tawa. Ais menyusul dengan kalem. Ekor matanya sempat melihat wajah dua waiters yang keheranan melihat kehebohan para sahabatnya. Untung kafe masih sepi siang itu. Belum ada pengunjung lain selain mereka.
* * *
” Gimana nih ceritanya selama kamu di Tokyo?” tanya Amy sembari duduk dan meletakkan tasnya di atas meja. Ketiga sahabatnya menelan ludah melihat tas berlogo LV tersebut. Terbayang harganya yang puluhan juta. Sepertinya Amy telah super mapan hidupnya.
“Seru deh pokoknya,” jawab Arin mengalihkan pandangannya dari si tas. ” Aku terpilih bersama dua jurnalis lain dari Malaysia dan Brunei sebagai perwakilan negara Asia Tenggara, untuk menghadiri undangan dari dinas pariwisata Jepang, dalam sebuah konferensi tentang wisata halal. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Jepang merasa perlu untuk mempromosikan wisata halal yang sedang mereka giatkan kepada Indonesia.”
” Wisata religi kok ke Jepang, nggak salah, tuh?” tukas Ais sambil memberikan daftar menu kepada Amy.
” Wisata halal beda dengan wisata religi,” sahut Arin. Ketiga sahabatnya memandang penuh tanya. ” Hah? Apanya yang beda?”
” Wisata religi itu, bepergian ke suatu tempat dengan tujuan untuk beribadah. Seperti ke Mekkah untuk umroh, sekalian ke Medinah dan daerah lain di sekitarnya, yang memang bernilai pahala bila beribadah di sana. Sedangkan wisata halal, itu tempat wisata yang dilengkapi fasilitas untuk kenyamanan turis muslim. Seperti tersedianya mushalla, tempat wudhu, makanan halal, hiburan tanpa maksiat dan penginapan yang syar’i. Bahkan ada pantai yang memisahkan kawasan pria dan wanita,” jelas Arin panjang lebar.
” Kamu sendiri selama di sana, gimana makannya?” selidik Anty. Arin menghela nafas. ” Selama konferensi sih aman. Panitia betul-betul menyediakan makanan halal. Tapi setelahnya..”
” Kenapa? Kamu minum sake ya?”tuding Anti.
“Bukan. Setelah acara selesai, bos memintaku untuk tinggal selama tiga hari lagi. Aku diberi tugas meliput kantor berita di sana. Aku menginap di losmen kecil untuk menghemat biaya. Selama itu aku sering makan ramen. Aku pilih ramen yang isinya hanya mi dan sayuran. Walaupun sebenarnya aku agak ragu dengan kehalalannya.Ternyata di hari terakhir, seorang warga muslim memberitahu kalau kaldu ramennya pakai mirin sebagai penyedap.”
“Astaghfirullah..” seru Anti, Ais, dan Amy serentak.
“Sebenarnya tidak jauh dari losmen, ada supermarket yang menyediakan alat barcode untuk memeriksa suatu makanan halal atau tidak. Tapi aku terlalu malas ke sana. Aku malas bertanya. Karena kerap kutemui orang Jepang tidak paham bahasa Inggris.”
Ais mengusap-usap punggung Arin. “Ya sudah, kamu perbanyak salat taubat ya.”
Arin mengangguk sambil tersenyum kecut.
* * *
” Aku mau resign.”
Jawaban Anti terhadap pertanyaan Amy tentang pekerjaannya, membuat yang lain menghentikan suapan mereka.
” Bukannya kamu sudah betah bekerja di sana?” tukas Amy. ” Perusahaan terkenal, ruangan yang nyaman, gaji besar. Apalagi yang kurang?”
Anti menggeser piringnya ke depan, lalu berkata, “Dulu waktu baru lulus kuliah, aku masuk kerja dengan penuh semangat dan membawa idealisme tinggi. Selama ini kupegang teguh, sejak kita di pondok, bahkan sampai di kampus. Ternyata di lapangan tidak semudah yang kubayangkan. Pekerjaanku tiap hari menyiapkan laporan dan surat-surat proyek yang penuh kebohongan. Harga yang dinaikkan terlalu tinggi, menggandakan jumlah ahli fiktif untuk memenangkan tender, sampai menyuap relasi. Aku sudah nggak tahan. Aku merasa bersalah mengirimi orangtua dari hasil tak jelas begini.” Anti terisak pelan.
Suasana tiba-tiba hening.
” Maaf Amy, aku batal membeli tas darimu,” ujar Anti sambil menghapus air matanya. ” Aku nggak mau kamu turut merasakan uang haram dariku.”
Amy tertegun. Menatap ketiga sahabatnya yang sedang larut dengan pikiran masing-masing. Ragu sejenak, lalu mantap berucap, ” Aku juga punya dosa. Sebenarnya tas-tas bermerk mahal yang aku jual, tidak asli. Barang kawe alias palsu.”
Trio sahabat menatap tak percaya. Ais meraih tas Amy, lalu membolak baliknya. Kelihatan benar mewah dan elegannya. Tas itu berpindah dari tangan Ais ke tangan Arin, lalu ke Anti. Masa palsu, sih?
“Butik tempat aku bekerja, meminjamkan tas itu kepadaku. Agar orang-orang percaya dan marketingku makin lancar. Mana sanggup aku beli tas begini. Walau kawe, tapi harganya masih 15 juta an.”
“Kamu nggak merasa bersalah jual tas bajakan gitu?” tanya Arin hati-hati.
” Sama seperti kalian. Hati nurani tidak bisa dibohongi. Terasa sakit. Sakitnya itu di sini,” Amy menunjuk dadanya. Semua mengangguk mengiyakan.
* * *
“Sepertinya cuma Ais yang jalan hidupnya lurus-lurus saja.”
Semua memandang Ais, menunggu kisahnya.
“Ah, siapa bilang? Apa karena aku kerja di rumah? Tidak seperti kalian yang kerja kantoran?”
” Ya iyalah,” sahut Anty. ” Usaha kue kotak yang kau lakoni sejak dulu, sudah menampakkan hasil, kan? Usaha rumahan, pasti aman, tinggal pilih bahan-bahan kue yang halal.”
“Sebenarnya pernah juga aku melakukan hal yang kurang terpuji.
Ais memelankan suaranya, membuat yang lain menundukkan kepala sedikit, agar bisa mendengar dengan lebih jelas.
” Aku belajar aneka resep kue dari buku bajakan. Kalian tahu kan, buku-buku resep chef terkenal itu harganya selangit. Aku juga pernah sekali waktu, mendapat pesanan lemper, kue dadar isi dan cake pisang. Ternyata hasilnya masih kurang dari jumlah pesanan. Aku enggak sempat belanja bahan lagi. Akhirnya ampas kelapa untuk santan ketan lemper, aku masak untuk isian kue dadar. Pisang juga habis. Kalian tahu apa yang kulakukan untuk membuat cake pisang tambahan?”
Trio A4 menggeleng cepat, lalu terkaget sambil menutup mulut, ketika Ais menjawab, ” Aku pakai kulit pisang.”
* * *
Entah ke mana menguapnya ajaran-ajaran agamis dari para ustadzah yang mereka terima dengan penuh khidmat semasa di pondok dulu. Nilai-nilai kejujuran, bagaimana mendapatkan rezeki halal, dan senantiasa berjuang untuk istiqamah. Dunia sudah membutakan mereka. Bermula dari rasa ah tidak apa-apa, sekali ini saja, ah orang lain juga begitu, dan Allah kan Maha Pengampun.
Tak dinyana, reuni ini malah mengungkapkan sisi gelap masing-masing dari mereka. Ada hati yang berontak, rasa takut akan masa depan bila ganti haluan, juga keraguan yang menyelinap.
Para dara A4 saling menggenggam tangan. Mata masih merah akibat linangan yang tertumpah. Berjanji untuk saling mengingatkan dan menguatkan.
“Sudah, sudah. Jangan kelamaan nangisnya ah. Kita harus kuat. Pokoknya pulang dari sini kita harus segera menyusun rencana baru,” tukas Amy.
” Iya, udahan ah, lihat tuh hidungnya pada merah,” Arin menunjuk. Semua saling berpandangan, lalu tergelak tawa.
” Ganti topik yuk, sebentar lagi waktunya pulang nih. Aku masih harus belanja kotak untuk orderan besok,” kata Ais.
” Eh, Ais. Gimana kabar hubungan kamu dengan calonmu itu?” tanya Anti tiba-tiba. ” Nggak boleh lho lama-lama pacaran.”
Yang lain langsung menyimak takjim.
“Idih, siapa yang pacaran?” sangkal Ais mencubit lengan Anti. “Haram tau!”
” Apa masih harus menunggu kakaknya kawin dulu, baru kalian dapat restu?”
Ais mengangguk lemah. Ia lalu mengeluarkan ponsel yang bergetar dari dalam tas, lalu terpekik kaget membaca pesan masuk. Ketiga sahabatnya berebutan ponsel, ikut membaca, mengucap Alhamdulillah bersamaan, dan heboh memeluk Ais. Sang ponsel terletak pasrah di atas meja. Di layarnya masih terlihat jelas sebuah pesan : ‘Dik, abi dan ummi sudah merestui. Menyuruhku untuk segera menghalalkan kamu.’
Selesai.