Merepet = Ngomel
Mengapa saya pakai judul sebelumnya Wajar Donk Aku Merepet, karena yang ngomong dari sisi istri. Dan sekarang yang ini judulnya Wajar Dia Merepet, karena yang ngomong dari sisi suami.
Kelihatan bedanya ?
Atau sama aja menurut Anda ?
Sangat berbeda kawan.
Perintah Allah kepada seorang istri, hormat, patuh dan taat sama suami. Diam saat suami bicara. Menjaga harga diri suami. Maka, ketika istri ngomong Wajar Donk Aku Merepet, aku tuh lelah tau. Aku capek.
Maka, dimana peluang menjalankan perintah sabar kalau tidak ada cobaan begitu. Dimana ada kesempatan untuk hormat, patuh dan taat, serta diam saat suami bicara yang tidak sesuai kehendak istri. Jika tidak ada pernikahan, jika tidak ada suami yang mentiko, alias gak tahu diri. Udah gak kasih nafkah dan skincare, sok paten pulak. Suami model begitulah yang jadi ladang amal untuk sabar.
MEREPET SYAR’I
Wajar Donk aku Merepet.
Ok,. Boleh merepet. Bukan gak boleh.
Ada kok merepet yang syariah, yaaa.
Caranya :
- Jangan di depan suami. Karena itu dilarang.
- Merepetlah dalam hati, biar gak kedengaran sama suami.
- Narasi repeten yang syar’i :
Ya Allah, begini amat lah cobaan untuk ku sebagai istri. Jika ini karena dosa dosa ku dimasa lalu. Maka, jadikanlah sabarku sebagai ladang amal untuk penghapus dosa. Jika ini bukan karena dosa dosaku. Maka jadikanlah kesabaranku menjadi kebaikan, agar Engkau merubah prilaku suamiku agar taat padamu. Jadikan kesabaranku menjadi pendorong rezeki agar kami bisa beli Merci dan Jalan Jalan Keluar Negeri 3x dalam setahun.
PERINTAH UNTUK SUAMI
Perintah Allah kepada seorang suami terhadap istrinya, menyayanginya, menafkahinya, berlaku lemah lembut, membimbingnya, membantu urusan rumah tangga.
Maka, ketika istrinya merepet, suami yang baik budi, tapi tidak rajin menabung, karena duitnya telah habis demi beli skincare istrinya.
Melihat istrinya capek, lelah, dan merepet sambil kerja atau didepannya, lalu dalam hatinya suami berkata : Wajarlah dia merepet.
Akhirnya si suami bisa lebih sabar menghadapi istrinya. Peluang untuk mematuhi perintah Allah agar berlaku lemah lembut dan sayang terhadap istrinya bisa dijalani dengan ringan. Suami jadi mau cuci piring, cuci baju, dan lainnya. Bukan karena disuruh istrinya. Tapi, kesadarannya sendiri.
Sehingga istri model begitu menjadi ladang amal bagi suami. Makanya disebut pernikahan itu ibadah seumur hidup bagi suami dan istri.
Ketika dapat suami yang tahu diri seperti itu. Harusnya istri membalasnya juga dengan bersikap tahu diri. Udah, mas. Adek aja yang cuci piringnya. Mas, cari duit saja sana banyak banyak. Biar bisa gaji pembantu, atau bisa menafkahi “adik baru” nanti untuk saya. 😁 Waah..ini istri dan suami sholeh/ah banget lah. TOP BGT. Hanya ada di Metaverse.
DALIL JANGAN DI BALIK
Kalau suami pakai ayat : kamu istri harus hormat sama saya, bahkan istri itu hampir diperintahkan sujud sama suami. Maka, wajar aku marah kalau kau merepet.
Kalau suami pakai dalil ini, akan mudah naik tensi suami, dan mukulin istrinya. Ayat tadi dijadikan pembenaran atas prilaku kasarnya suami.
Ketika dipersidangan KDRT, ditanya kenapa mukul istri. Wajar aku pukul, asik merepet aja muncungnya tiap hari. Gak tau apa aku capek pulang dari kantor. Sampe rumah, bukannya dapat sambutan hangat. Malah, repetan.
Kalo suami kek gitu. Itu namanya pembenaran. Akibat ketidak mampuan suami berlaku lemah lembut terhadap istrinya. Gak mampu sabar menghadapi istrinya. Gak mampu mendidik istrinya. Gak mampu menafkahi istrinya dengan cukup.
KISAH UMAR & ISTRI FIR’AUN
Kisah Umar yang begitu garangnya di Medan perang. Sampai iblis aja takut dengan Umar. Ketika pulang istrinya merepet. Bisa tetap sabar.
Kisah Umar ini. Sering dipakai para istri istri untuk jadi pembenaran atas sikapnya yang tidak bisa menahan repetan sama suami. Lihat nih, Umar aja bisa sabar sama istrinya. Kamu, masa gak sabar sama saya. Baru merepet sikit.
Harusnya, istri istri pakai kisahnya Istri Firaun. Yang tetap bisa ramah, hormat, menjadi istri Sholehah walau suaminya, bejatnya sampai di laknat Allah. Suami kita kan gak sampai di laknat Allah. Jadi, masih kecil lah ujian anda sebagai istri dibandingkan istri fir’aun.
Kalau para suami ngomong begini.
Mengapa istri istri tidak pakai kisahnya Istri Firaun ?? Karena gak mau di salahkan kan ?? Gak mau mengakui kalau salah ?? Ego mau menang sendiri, merasa benar sendiri kan ??
Kisah Umar tersebut nasehat untuk para Suami, walaupun suami punya potensi untuk memukul istri, tetap bisa lemah lembut dengan istri yang merepet. Dengan meneladani sikap Umar. Suami bisa lebih sabar.
Kalau para istri ngomong begini.
Mengapa suami suami tidak pakai kisahnya Umar ?? Karena gak mau di salahkan kan ?? Gak mau mengakui kalau salah ??
Akhirnya tidak terjadi saling memahami dalam rumah tangga. Karena masing masing punya dalil. Masing masing pegang ayat. Pegang alasan. Masing masing punya pembenaran. Kapan akurnya ?? Kalau tidak ada kesadaran mengkoreksi diri masing masing.
KESIMPULAN
Kelen pahami dulu ayat, dalil, kisah kisah, quote, kata kata bijak. Kalau hal itu bisa membuat prilaku kalian menjadi LEBIH BAIK. Pegang itu sebagai landasan bertindak.
Kalau ayat, dalil, kisah, kata kata bijak tersebut. Membuat kalian merasa benar, tidak mau mengakui kesalahan. Menjadi pembenaran. Makin berulang prilaku salahnya. Berarti salah pakai. Berarti salah paham. Bukan untuk kalian ayat ayat itu.
Karena setiap dalil, ayat, kisah, kata kata bijak. Itu ada peruntukannya. Untuk siapa ditujukan, maka dialah yang mengamalkannya.
Setiap ayat, dalil, ada himbauannya. Hai orang orang beriman..berarti himbauan untuk yang beriman saja. Hendakla para istri, bla bla… Berarti untuk istri. Hendaklah para suami, bla bla..Berarti untuk suami.
Kalau gak ada narasi himbauannya, gimana Solver..? Pakailah akalmu untuk menganalisa dan memahami narasinya. Itulah gunanya akal dalam beragama. Gak paham juga setelah pakai akal sendiri. Tanya Ulama.
By : Solver Ferri Azwar