Kita semua menunggu dalam hening yang panjang, antrian pulang yang tak tertebak waktu datang.
Tiap langkah adalah penantian, tiap nafas adalah harapan, mungkin bukan soal cepat, tapi tentang siap.
Di antara riuh dunia dan bisik waktu, kita berdiri.
Kadang gugup, kadang ragu. Ada yang tersenyum, ada yang menyimpan luka dalam diam, ada yang menangis namun tetap melangkah pelan.
Tidak ada nomor urut yang bisa kita baca. Tak ada suara yang memberi aba-aba. Namun hati ini tahu; ini bukan sekedar perpisahan, ini perjalanan menuju keabadian (رحلة إلى الخلود).
Langit pun kadang menangis bersama kita. Gerimis kecil menghapus jejak air mata, karena yang hilang belum tentu benar-benar pergi. Dan yang tinggal belum tentu abadi.
Ada yang pergi di pagi yang bening, saat burung belum sempat berkicau. Ada yang pulang di malam sunyi, saat doa-doa dilangitkan sepenuh hati.
Kita semua pernah takut saat nama dipanggil, karena masih banyak yang belum selesai. Masih ada rindu yang belum dituntaskan, masih ada maaf yang belum diucapkan.
Tapi pulang tak menunggu kita rampung. Ia datang saat waktunya telah cukup. Saat Allah tahu, sudah cukup luka, sudah cukup tawa, sudah cukup cerita, sudah cukup waktu untuk beramal dan berkarya.
Maka kita menunggu bukan dengan cemas, tapi dengan belajar menjadi ikhlas. Menyayangi yang hadir, mendoakan yang telah pergi. Karena kelak, kita akan berada di posisi itu, berdiri di ujung antrian, dengan hati yang semoga bersih.
Hidup hanyalah jeda, bukan tujuan. Pulang adalah kampung yang sebenarnya. Dan di antara detik-detik yang tersisa, kita siapkan diri. Bukan agar lama, tapi agar pulang kita, pulang yang indah adanya.
Wallahu a’lam bishshawab
#Achmad Yaman
#dakwahsalimahdki