Kalau Indonesia mau jadi negara emas di tahun 2045, kita butuh generasi yang bukan cuma kuat fisiknya, tapi juga kokoh mentalnya. Tapi tenang, nggak perlu sekolah sihir atau serum super-soldier, cukup modal nasi, kasih sayang, dan strategi parenting yang ciamik!
Langkah-langkah menuju Anak Super 2045 :
1. Latihan kesabaran : antrean bakso & update game mobile.
Ajarkan anak sabar dari hal kecil, misalnya antri saat beli bakso! Atau kalau bisa tahan nggak merengek saat menunggu server update, mereka layak dapat gelar “Kesatria Sabar.”
2. Otak tajam, lidah tajam, tapi tetap sopan.
Agar lidahnya bisa jawab soal ujian dan debat PPKn. Bukan cuma buat komplain kuah mie kebanyakan micin. Asah kritis dan logikanya lewat obrolan seru, bukan ceramah satu jam non-stop.
3. Berani gagal, bukan gagal berani.
Ajari mereka bahwa gagal itu bukan akhir, tapi awal untuk cerita baru. Gagal bikin slime? Coba lagi. Gagal masuk tim basket? Coba jadi komentatornya! Semua bisa jadi ladang belajar.
4. Skill rumah tangga = skill bertahan hidup.
Kalau anak bisa lipat baju sendiri dan tahu cara mengisi galon air, dia sudah setengah jalan menuju tangguh! Jangan biarkan mereka tumbuh jadi kaum “aku nggak tahu ngepel itu pakai apa.”
5. Penuh arti, bukan cuma gadget party.
Membatasi screen time bukan buat menyiksa, tapi membuka pintu ke dunia nyata yang penuh petualangan. Siapa tahu mereka punya bakat jadi penemu alat pengusir nyamuk yang juga bisa jadi penyetrika baju.
6. Tanam empati, petik prestasi.
Ajari mereka jadi manusia sebelum jadi juara. Bantu teman, sayang hewan, hormat pada orang tua. Semua itu pondasi Indonesia yang akan berkilau di 2045.
Akhir kata : jangan cuma tangguh, tapi juga bahagia!
Anak tangguh bukan berarti anak yang nggak pernah menangis atau selalu dapat ranking satu. Anak tangguh adalah mereka yang tahu cara bangkit, tertawa di tengah tantangan, dan tetap percaya bahwa masa depan Indonesia ada di tangan mereka, yang kotor karena main tanah, tapi bersinar karena mimpi besar.
Malam itu kamu lapar. Kamu pesan KFC, paket standar: dua potong ayam, nasi, dan minuman. Harganya sekitar Rp45.000.
Kenyang? Ya. Tapi bukan cuma perutmu yang senang.
Ada satu hal yang sering luput dipikirkan: Uang itu ke mana setelah masuk ke kasir?
Langkah Pertama: Uangmu Dipecah
Dari Rp45.000 itu, uangmu terbagi:
Sekitar 60–65% untuk biaya operasional: bahan baku, gaji, sewa, listrik, pajak, biaya pengiriman, dan sebagainya.
Sekitar 15–20% untuk keuntungan bersih pihak waralaba (dalam hal ini, Yum! Brands)
Sisanya jadi bagi hasil lokal, promosi, dan re-investasi
Kita ambil angka konservatif: 20% dari Rp45.000 berarti Rp9.000 masuk sebagai keuntungan bersih Yum! Brands setiap kali kamu beli satu paket.
Langkah Kedua: Siapa Pemilik Yum!?
Yum! Brands adalah perusahaan asal Amerika Serikat. Dia pemilik merek KFC, Pizza Hut, dan Taco Bell di seluruh dunia. Dan meskipun kamu beli ayam di Indonesia, uang keuntungannya tetap mengalir ke pusat — lewat sistem royalti dan pembagian keuntungan.
Nah, siapa pemilik Yum!?
Jawabannya: para investor saham.
Dan di antara semua investor, yang paling besar kepemilikannya adalah:
The Vanguard Group – salah satu raksasa pengelola dana terbesar di dunia. Mereka punya sekitar 12% saham Yum! Brands (berdasarkan data keuangan resmi).
Artinya begini: Kalau Yum! dapat Rp9.000 dari ayam kamu, maka 12%-nya masuk ke kantong Vanguard. Alias sekitar Rp1.080 per paket ayam.
Langkah Ketiga: Uang Vanguard, Larinya Ke Mana?
Vanguard ini gak diam. Mereka bukan cuma terima uang dividen dari Yum! lalu simpan. Mereka putar lagi uang itu diinvestasikan ke banyak perusahaan global.
Beberapa di antaranya?
1. Lockheed Martin – produsen senjata canggih seperti rudal Hellfire, jet tempur F-35, sistem peluncur HIMARS. 2. Elbit Systems – perusahaan teknologi militer asal Israel, pemasok utama drone tempur dan sistem kendali senjata. 3. Northrop Grumman, Raytheon, dan sederet nama lain yang tidak asing di panggung perang dunia.
Semua ini tercatat dalam portofolio investasi resmi Vanguard. Dan banyak dari perusahaan itu dikenal aktif menyuplai senjata ke militer Israel.
Langkah Keempat: Uangmu Jadi Apa?
Oke, sekarang kita berhitung.
Kamu beli 1 paket KFC → Vanguard dapat ± Rp1.080 Sedangkan Harga peluru kaliber 5.56 mm (digunakan tentara Israel) → sekitar Rp5.000 per butir (harga pasaran internasional)
Maka, 5 bungkus ayam KFC = 1 butir peluru (5 x Rp1.080 = Rp5.400)
Atau gini:
Kamu dan 4 temanmu beli ayam. Makan kenyang di meja yang sama. Selesai makan, kalian secara tak sadar sudah “patungan” beli 1 peluru perang.
Satu peluru yang bisa menembus dada, jendela rumah, bahkan jasad anak kecil di Palestina.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Simpulkan?
Kamu memang tidak pernah niat: “Yuk, beli ayam buat biayai rudal Israel!”
Tapi rantai ekonominya berjalan seperti itu. Niatmu tidak penting bagi sistem. Yang penting: aliran uangmu.
Sistem tidak melihat apakah kamu sengaja atau tidak. Sistem hanya melihat:
“Siapa yang terima uang, siapa yang pegang saham, siapa yang belanja senjata.”
Bayangkan bro, Kamu dan 4 temanmu beli ayam. Tanpa sadar, kalian belikan peluru.
Esoknya ada anak Palestina yang tertembak. Siapa tahu itu peluru dari kita ?
KFC Bukan Satu-satunya…
Kalau kamu pikir KFC satu-satunya yang terlibat… Kamu keliru besar.
Ada ratusan perusahaan raksasa dari makanan, teknologi, keuangan, hingga militer yang jejak uangnya bercampur dengan darah rakyat Palestina.
✅ McDonald’s ✅ Starbucks ✅ HP ✅ Intel ✅ Puma ✅ AXA ✅ Caterpillar ✅ Chevron ✅ Airbnb ✅ Disney ✅ Nestlé ✅ Unilever …dan daftar ini belum selesai.
Dunia dibangun oleh kartel. Jaring-jaring modal yang saling terhubung, saling lindungi, saling isi ulang. Kamu beli burger, dia beli tank. Kamu sewa hotel, dia sewa drone.
Sudah berapa Uang yang kita donasikan ke Palestina ? Atau justru belum sama sekali.
Tapi seberapa banyak selama tiga tahun terakhir kamu beli produk Israel itu ?
ini Kesempatan Kita Dulu kita hanya bisa mengutuk. Sekarang kita bisa memukul. Bukan dengan senjata. Tapi dengan keputusan.
Dan dampaknya mulai terasa. Tak selalu masuk headline. Tapi mereka gemetar.
McDonald’s kehilangan pasar. Di Mesir, Turki, Qatar, Yordania ratusan Gerai mereka tutup. Mereka bahkan bikin iklan klarifikasi, kalau mereka tak terafiliasi dengan negara manapun, sesuatu memalukan yang jarang terjadi. Tapi publik sudah terlanjur tahu siapa itu MCdonald’s.
Starbucks lebih parah. Sahamnya jatuh, nilai perusahaannya menguap. PHK pun tak terhindarkan.
KFC juga tidak aman. Yum! Brands induknya mengalami penurunan tajam di negara-negara mayoritas Muslim. Banyak yang beralih ke brand lokal.
Ini bukan lagi wacana. Ini kenyataan. Dan itu baru permulaan.
Bukan cuma makanan. Perusahaan teknologi, logistik, dan senjata Israel juga mulai oleng.
Kita nggak sendirian, ada banyak saudara non Muslim di Afrika, Amerika, Jerman, Inggris, Jepang sama sama melakukan boikot dan protes besar besaran.
Banyak yang bilang boikot itu percuma. Tapi yang mereka takutkan justru boikot. Karena boikot adalah satu-satunya alat perang yang tak bisa mereka bombardir balik. Ia diam. Tapi merusak dari dalam.
Satu orang tak beli, mungkin tak terasa. Tapi seribu, sejuta, sepuluh juta? Itulah yang sedang mereka hadapi sekarang.
Kalau kamu tidak bisa angkat senjata… Pastikan uangmu tidak membiayai senjata musuh.
Di tengah riuh dunia maya dan cita-cita, tumbuh anak Nusantara dengan asa membara. Bukan hanya pintar, tapi juga tegar. Bukan sekadar juara, tapi tahu cara sabar.
Tangannya kotor oleh lumpur dan mimpi. Kakinya melangkah tak takut rugi. Belajar gagal, belajar bangkit. Menjadi tangguh di tengah sempit.
Bukan gadget yang jadi guru utama, tapi kasih, teladan, dan suasana keluarga. Bukan ranking yang jadi patokan nilai, tapi sikap empati, dan semangat pantang menyerah sampai akhir.
Indonesia Emas 2045 semoga bukan dongeng belaka, Ia akan tumbuh dari anak-anak yang tak suka hanya bicara. Mereka yang berani mimpi tinggi, termasuk yang di bawah atap seng,
Yang bisa berkata “Aku bisa!” meski dunia menentang.
Jadi mari rawat mereka seperti biji emas. Disiram dengan cinta, dijaga dengan cerdas. Karena anak tangguh hari ini, adalah pemimpin Indonesia di masa depan.
Kita semua menunggu dalam hening yang panjang, antrian pulang yang tak tertebak waktu datang. Tiap langkah adalah penantian, tiap nafas adalah harapan, mungkin bukan soal cepat, tapi tentang siap.
Di antara riuh dunia dan bisik waktu, kita berdiri. Kadang gugup, kadang ragu. Ada yang tersenyum, ada yang menyimpan luka dalam diam, ada yang menangis namun tetap melangkah pelan.
Tidak ada nomor urut yang bisa kita baca. Tak ada suara yang memberi aba-aba. Namun hati ini tahu; ini bukan sekedar perpisahan, ini perjalanan menuju keabadian (رحلة إلى الخلود).
Langit pun kadang menangis bersama kita. Gerimis kecil menghapus jejak air mata, karena yang hilang belum tentu benar-benar pergi. Dan yang tinggal belum tentu abadi.
Ada yang pergi di pagi yang bening, saat burung belum sempat berkicau. Ada yang pulang di malam sunyi, saat doa-doa dilangitkan sepenuh hati.
Kita semua pernah takut saat nama dipanggil, karena masih banyak yang belum selesai. Masih ada rindu yang belum dituntaskan, masih ada maaf yang belum diucapkan.
Tapi pulang tak menunggu kita rampung. Ia datang saat waktunya telah cukup. Saat Allah tahu, sudah cukup luka, sudah cukup tawa, sudah cukup cerita, sudah cukup waktu untuk beramal dan berkarya.
Maka kita menunggu bukan dengan cemas, tapi dengan belajar menjadi ikhlas. Menyayangi yang hadir, mendoakan yang telah pergi. Karena kelak, kita akan berada di posisi itu, berdiri di ujung antrian, dengan hati yang semoga bersih.
Hidup hanyalah jeda, bukan tujuan. Pulang adalah kampung yang sebenarnya. Dan di antara detik-detik yang tersisa, kita siapkan diri. Bukan agar lama, tapi agar pulang kita, pulang yang indah adanya.
Fath meletakkan ranselnya di tepi jalan setapak. Ia memandang sekelilingnya dengan senyum dikulum.
Di kaki gunung Cikuray, suasana pagi itu terasa hidup dan penuh semangat. Udara sejuk pegunungan di Desa Cilawu, Garut, Jawa Barat ini, terasa menyapu kulit, segar dengan aroma tanah basah, embun, dan daun pinus. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara matahari mulai menyelinap pelan di balik lereng, mewarnai langit dengan semburat oranye keemasan.
Tampak puluhan pendaki berkumpul. Di satu sisi, kelompok yang baru saja turun bersama Fath tadi, duduk beristirahat, wajah mereka lelah namun penuh kepuasan. Beberapa di antaranya tertawa, saling bertukar cerita seru tentang jalur yang terjal, kabut yang menutup pandangan, dan keindahan puncak yang mereka capai. Sepatu mereka kotor berlumpur, celana sedikit basah, namun semangat mereka tetap tinggi, bangga karena telah menaklukkan ketinggian.
Di sisi lain, para pendaki yang akan naik mulai bersiap. Ada yang memeriksa tali sepatu, mengencangkan carrier, dan mengecek logistik terakhir seperti air, makanan ringan, serta jaket tebal. Ada pula yang diam sejenak, menatap jalur pendakian yang menjulang ke atas dengan campuran antusias dan gugup. Beberapa dari mereka tampak baru pertama kali naik, ditemani rekan-rekan yang lebih berpengalaman.
Fath memicingkan matanya. Ia seperti melihat sosok sahabatnya. Setelah yakin, Fath datang mendekat dan mencolek pundaknya. Yang dicolek berbalik, dan terbelalak melihat Fath. Mereka lalu berpelukan sambil tertawa.
“Sejak kapan kamu di sini, Fath?”
“Aku baru turun, nih. Kamu baru mau naik, Ly?”
Lily mengiyakan. Ia lalu mengajak Fath ke sebuah tenda ungu. Suara obrolan bercampur dengan bunyi kompor portable yang menyala, disertai aroma mi instan mengepul dari tenda-tenda kecil di sekitar basecamp tersebut. Anak-anak muda tertawa, sebagian merekam vlog, sementara para porter lalu-lalang mengangkut barang dengan cekatan.
Lily mengeluarkan kotak bekal dari ranselnya.
“Kamu pasti lapar. Sini makan dulu,” ajak Lily.
Kali ini ganti Fath yang terbelalak. Nasi liwet hangat dengan sambal cikur yang pedas segar, ditemani tahu goreng dan ikan asin, semua tersaji di dalam kotak bekal beralaskan daun pisang. Aroma wangi cikur (kencur) langsung merebak.
“Kamu kok tahu sih kalau aku lagi ingin makan nasi cikur?” seru Fath. “Lagian kan, ini bekalmu, kok diberikan ke aku?”
“Tenang, aku ada satu kotak lagi, kok,” sahut Lily. “Ayo dimakan! Aku tadi sudah sarapan bareng sama teman yang lain.”
Fath langsung makan dengan lahap. Perjalanan menuruni Cikuray benar-benar telah menghabisi enerjinya. Di tengah perjalan tadi, ia sudah membayangkan menikmati nasi hangat dengan sambal cikur. Tak disangka, ia bertemu Lily dan kini sedang menikmati sambal impiannya.
Lily memperhatikan Fath, seperti sedang berpikir.
“Kenapa kamu lihatin aku gitu? Masih mau?” tanya Fath sambil menjilati sambal di sendoknya.
” Enggak. Aku itu lagi mikir, amalan apa sih yang kamu lakukan?”
“Hah? Amalan? Amalan yang mana?”
“Nah itu yang aku mau tahu. Aku heran, kenapa Allah memberi pelajaran dengan menghadirkan orang-orang kayak kamu di hidup aku.”
“Orang kayak aku gimana?” tanya Fath bingung.
“Aku belum ngerti banget, sih. Eh, kamu ingat nggak, waktu aku beri syal ke kamu? Kamu bilang apa, ‘ Iih, aku baru mau check out lho di olshop. Kok kamu tahu aku ingin syal cakep ini?’
Ibu aku juga, waktu aku pulang kampung sambil bawa hasil panen jahe dari kampus. Ibu bilang ‘Kok kamu tahu ibu lagi batuk?’
Dan satu lagi, waktu ada teman seclub aku beri pisau lipat, senangnya bukan main, karena katanya punya dia sering hilang saat mendaki.”
“Terus kenapa?” Fath berusaha membagi kosenterasi, antara mendengarkan Lily dan nikmatnya ikan asin di mulut.
” Ya, kayak gayung bersambut gitu, lho. Aku kan nggak tahu kalau barang yang aku bakalan beri, memang lagi diinginkan. Kata ibuku kayak gambaran surga, baru disebut di hati, eeh ngga lama langsung dapat yang diinginkan. Kayak misteri nggak sih?”
“Berarti kamunya kali yang soleha, Ly. Allah beri kamu kesempatan untuk bersedekah di saat yang tepat.”
“Ah, aku kan nggak soleha-soleha amat. Ya memang aku senang sih, orang yang aku beri juga senang. Padahal mereka kan nggak minta ya, kok pas banget momennya. Bagiku ini masih misteri, kenapa bisa terjadi gitu ya?”
“Ya udah, kamu pikirin aja nanti sambil mendaki. Eh, kamu sudah cukup bawa perlengkapan? Air gimana, seberapa banyak kamu bawa?”
“Secukupnya aja lah, buat minum,” Lily membereskan kembali ranselnya.
“Air untuk wudhu?” Fath berusaha mengingatkan.
“Berat dong, kan bisa tayamum ntar.”
“Kamu tahu kan dibolehkan tayamum itu dalam keadaan gimana?”
“Dalam keadaan darurat. Dan kalau tidak ada air,” jawab Lily sekenanya.
“La, kamu ini pergi emangnya dalam keadaan darurat? Untuk bersenang-senang ngisi liburan, kan? Lagian di sana ada air kok, di pos dua,” cetus Fath.
“Yah masak kita turun lagi ke pos dua untuk wudhu doang? Capek dong,” tukas Lily.
“Kamu naik bisa, kok turun nggak bisa? Makanya bawa aja air untuk berwudhu.”
” Lagian kita kan naik gunung untuk tadabbur alam, merenungi ciptaan Allah,” Lily berusaha cari alasan.
“Merenungi ciptaan, tapi nggak patuh sama penciptanya. Shalat itu nomor satu, sayang.. maka upayakan sempurna. Kamu nggak naik gunung juga nggak dosa, kok malah menomor duakan kesempurnaan shalat,” gusar Fath.
“Selalu itu aja ya pesanmu kalau lagi gini. Emang kamu yakin, setiap do’a kamu dikabulkan?” serang Lily.
“Yakin dong. Contohnya tadi ya, saat di atas, aku berdo’a minta kepada Allah agar diberi uang seratus juta.”
“Terus, dapat nggak uangnya?” Lily menggoda.
“Bisa aja kan Allah mengabulkan do’aku bukan dengan memberi rezeki berupa uang. Tapi berupa keselamatan bisa turun sampai di sini dengan aman. Mungkin saja aku ditakdirkan tadi jatuh ke jurang, misalnya. Luka dan perlu perawatan di rumah sakit yang bisa menghabiskan biaya sampai seratus juta. Karena tadi aku sudah berdo’a, bisa jadi Allah bukan tidak mengabulkan do’aku tapi menggantinya dengan sesuatu yang lain yang lebih aku butuhkan, hingga aku bisa sehat sampai sekarang.”
“Ih, pinter banget jawabnya.”
“Kan Allah nggak pernah ingkar janji. Kitanya aja yang harus cerdas mencerna bentuk kasih sayangNya,”pungkas Fath.
Lily mengangguk-angguk setuju. Tak lama terdengar suara ketua rombongan memanggil peserta untuk segera bersiap-siap. Sebelum berpisah, sekali lagi Fath dan Lily berpelukan. Saling mendo’akan, tidak hanya di suara namun juga di lubuk hati terdalam, agar sahabat tersayang selalu dalam penjagaan yang Maha Kuasa.
Suasana di kaki gunung bukan hanya tentang keberangkatan dan kepulangan, tapi juga tentang pertemuan, semangat kebersamaan, dan cinta pada penguasa alam. Di sana, semangat petualangan dan rasa syukur menyatu dalam harmoni yang hanya bisa dirasakan para pendaki.
“Ketika akan membentuk koperasi, harus ada bayangan, koperasi tersebut akan besar di tahun ke berapa, ” ujar Nevi Zuairina, anggota Komisi Xll DPR RI dari fraksi PKS, kepada rombongan Salimah DK Jakarta yang datang beraudiensi terkait rencana mendirikan koperasi di Jakarta Selatan.
Salimah diterima di ruang rapat Inbang, gedung Nusantara I, komplek parlemen Senayan, Jakarta, pada Rabu (21/05). Sebuah ruangan bernuansa putih dengan ornamen kecoklatan, disertai sebuah meja rapat besar di bagian tengah.
Nevi sangat setuju dengan ungkapan yang disampaikan ketua Pimpinan Wilayah (PW) Salimah Jakarta, dr. Yulia Andani Murti, mengenai besarnya potensi perempuan bila dapat dihimpun dalam sebuah wadah dan diberi arahan.
Nevi menceritakan bagaimana presiden PKS saat berkunjung ke partai terbesar di Turki, beliau menyatakan bahwa di partai tersebut hanya ada bidang perempuan dan bidang pemuda, tidak ada bidang bapak-bapak. Ini suatu hal yang menarik, yang bisa dicontoh untuk diterapkan di Indonesia. Dengan fokus mengembangkan perempuan dan pemuda saja, sudah bisa mengangkat partai tersebuat menjadi yang terbesar di negaranya.
” Kami di Salimah sudah punya koperasi sejak 2006. Para anggota yang merupakan UMKM binaan Salimah menyebar di berbagai daerah, bahkan ada yang pernah mendapat bantuan uang senilai seratus juta rupiah dari Bank Indonesia. Salimah juga diminta BI untuk menyiapkan UMKM sebagai penggerak produk halal,” ujar Etty Praktiknyowati, anggota DPSP (Dewan Pembina Salimah Pusat), yang turut menyertai rombongan.
Membentuk sebuah koperasi memang membutuhkan modal besar, apalagi koperasi simpan pinjam. Kendala berupa banyaknya yang ingin meminjam dana dan sulitnya saat pembayaran, membuat koperasi jenis ini rentan mengalami kebangkrutan. Padahal niat baik koperasi adalah untuk mengantisipasi masyarakat terjerat pinjaman online (pinjol) yang sarat dengan riba.
Menyikapi hal ini, salah satu koperasi Salimah yang biasa disebut Kossuma, menjalankan kiat sendiri. Walau berbentuk koperasi simpan pinjam, mereka juga turut mendukung usaha para anggota dengan menjadikan koperasi sebagai tempat berbelanja dan mengembangkan usaha. Ini berhasil membuat pembayaran pinjaman berjalan lancar sehingga koperasi terhindar dari pailit. Jadi perputaran dana tidak perlu sampai keluar, cukup di dalam koperasi saja.
“Selain dari pemerintah, bantuan untuk koperasi bisa juga didapat dari BUMN. Bukan berupa dana, tapi modal kerja seperti mesin jahit bila anggota koperasi banyak yang menekuni profesi penjahit. Atau alat masak untuk anggota yang mau membuka usaha kuliner,” jelas Nevi lebih lanjut.
Koperasi-koperasi bentukan Salimah bisa menjadi bagian dari program pemerintah : Koperasi Desa Merah Putih. Pemerintahan Kota Jakarta sendiri sedang menyiapkan 267 koperasi untuk mengikuti program ini. Cari anggota potensial di tingkat kelurahan untuk bisa menjadi pengelola program yang sedang digalakkan ini.
Dengan melakukan kajian terlebih dahulu sebelum memulai setiap langkah, baik berupa data yang lengkap, sistem yang baik, dan accountable, maka Salimah akan bisa memberdayakan koperasi semaksimal mungkin hingga lebih terasa manfaatnya bagi ummat, khususnya kaum perempuan.
Ada keyakinan yang kita peroleh secara mutlak dari Al Quran dan Hadits, dan ada keyakinan yang membutuhkan proses perenungan. Dalam belajar ilmu agama, jangan hanya sekedar memahami, namun renungkanlah. Cari hikmahnya. Seperti dalil yang menyatakan apa yang kita tidak suka, belum tentu tidak baik untuk kita. Sebagai perumpamaan, kisah tentang seorang pemuda baik yang sedang berburu bersama raja. Si pemuda karena sudah terbiasa, kerap kali mengucapkan “khulu khoir“.
Tiba-tiba jari raja putus tertusuk panah nyasar. Raja menjadi marah karena si pemuda tetap mengucapkan “khulu khoir“. Si pemuda pun diperintahkan raja untuk dijebloskan ke penjara.
Beberapa tahun kemudian kerajaan diserang suku kanibal (gemar makan daging manusia). Raja selamat karena jarinya yang putus, dianggap berpenyakit, sehingga tak layak dikonsumsi.
Raja akhirnya sadar, keburukan yang dideritanya ternyata akhirnya membawa kebaikan. Si pemuda pun dibebaskan dari penjara.
Bila sedang sakit hati dengan seseorang, jangan hanya selalu fokus dengan sifat buruknya. Tapi cobalah pandang bahwa dia juga sedang diuji dengan sifat buruknya itu. Jangan hanya kesal kepadanya, tapi kasihanilah ia juga. Langsung ingat kepada Allah yang menciptakannya, lengkap dengan sifat-sifatnya. Anggaplah kalau itu adalah cara Allah menguji kita melalui orang tersebut.
Anak pun bisa jadi adalah ujian. Jangan hanya fokus pada anaknya. Ingatlah pada yang menciptakan si anak.
Seorang istri yang diuji tentang suaminya, bisa jadi si istri terlalu mencintainya. Hingga Allah uji ia melalui suaminya. Maka selalulah posisikan Allah di ruang utama cinta kita.
Saat ada yang sakit, jangan pikir obat/dokter terlebih dahulu, tapi segera bersedekah. Walau hanya sedikit, sekedar memberi beras ke tetangga atau dengan menyiramkan air ke tanaman.
Apapun ujian yang datang, hendaknya intropeksi diri terlebih dahulu. Lihat apa PR yang Allah berikan, kalau dapat nilai bagus, hadiahnya akan luar biasa.
Ibarat kita sering menerima paket barang. Barangnya dari Allah, kurirnya berbeda-beda. Kurir itu ibarat cobaan, bisa jadi anak, pasangan, atau orang lain. Saat kita berhasil mendapatkan barang, bukankah kita bahagia membukanya?
Seorang teman menceritakan bagaimana ia pernah mengatakan tidak mengapa diberi ujian yang lalu lagi, karena ternyata setelah ia lulus ujian tersebut, ia mendapatkan hal yang membahagiakan luar biasa.
Saat diuji, katakan kalau kita ikhlas akan ujian tersebut, dan minta agar Allah mengabulkan hajat kita bila kita lulus ujian nanti. Ngga apa diuji begini ya Allah, asal nanti bisa beli rumah, misalnya.
Selanjutnya jangan pernah mengikatkan diri kepada makhluk. Ke suami yang mencari nafkah, misalnya. Rezeki kita bukan dari suami. Tapi dari Allah melalui perantara suami. Tentu semua sudah paham ini. Jadi kalau rezeki kita lagi seret, jangan bete ke suami. Memang rezeki kita hanya segitu hari ini.
Di lain sisi, apa yang diyakini, akan menarik kembali ke kita. Ingat hukum LOA (Law of Attraction), hukum tarik menarik. Ada orang yang sering mengeluh terus. Padahal kehidupannya kelihatan baik-baik saja. Anak-anaknya sehat dan suaminya setia. Namun ia sering mengeluh merasa kekurangan. Akhirnya kondisinya dibantu terus. Mindset hidupnya sudah susah, akhirnya benaran susah terus. Ia jadi bergantung kepada makhluk.
Ujian-ujian itu akan ada terus. Jadikan itu PR, yang harus kita niatkan untuk lulus, agar tidak diuji dengan hal-hal yang sama terus. Setiap dihadapi dengan masalah, pikirkan, apa nih PRnya? Apa maksud Allah memberi PR ini? Bagaimana agar aku mendapat nilai terbaik dalam mengerjakan PR ini?
Dalam berhubungan dengan manusia, tidaklah pasti kita benar 100 persen, orang lain 100 persen salah. Begitu juga sebaliknya. Masing-masing kita ada kebaikan dan keburukan. Pintarlah mencari kebaikan orang lain, dan pintarlah mencari keburukan diri. Jangan terbalik.
Setiap orang dapat dilihat sifat aslinya saat momen ditimpa masalah. Bagaimana sikap awalnya saat masalah itu datang. Apakah langsung marah, menangis meraung, atau sabar.
Di saat sedih, segera lapor ke Allah. Jangan tunda, tak perlu tunggu saat shalat baru curhat. Berkeluh kesahlah langsung kepada Allah begitu dihadapkan dengan masalah.
Hati kita bisa selalu tenang, bukan karena kondisi kita, tapi keyakinan dalam hati. Taruh diri serendah mungkin dalam pikiran, agar tak seorang pun bisa lebih merendahkan kita. Jadi bisa lebih mudah legowo.
Suatu saat ada seorang ulama baru keluar dari tempatnya berceramah. Entah ada dendam apa, tiba-tiba seseorang meludahi wajahnya. Sang ulama hanya mengusap wajah sambil berkata, “Kau tahu, aku sebenarnya lebih buruk dari yang kau duga.”
Jangan galau dengan penilaian orang lain, tapi pedulilah dengan penilaian Allah. Allah senang kita berpakaian rapi dan bersikap ramah. Jadi lakukan bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi karena Allah.
Beri 1001 alasan tentang orang lain yang menyakiti kita, agar kita tidak negative thinking terus, yang mengakibatkan kerugian pada diri kita sendiri. Kondisi mungkin tidak berubah, tapi hati kita menjadi lebih ringan.
Misalnya saat mobil kita disalip mobil lain yang mengebut. Daripada bersungut-sungut berkepanjangan, lebih baik menganggap mungkin di mobil itu ada ibu yang mau melahirkan. Atau alasan lainnya yang membuat hati kita lebih ringan untuk memaklumi.
Salah satu tips agar memiliki keyakinan Ilahiyah (hati yang selalu terpaut kepada Allah) adalah dengan sering melakukan Self Talk, yaitu berbicara sendiri di dalam hati, seolah ada dua orang yang sedang berdialog.
Aku sebel deh, sama si anu. Kenapa? Habis dia bla bla bla. Emangnya kenapa kalau dia bla bla bla? Bukankah kau bisa bla bla bla? Jadi kau akan mendapatkan bla bla bla. Oiya, daripada aku bla bla, lebih baik aku bla bla, jadi aku bisa lebih tenang.
Atau contoh lain, Aku lagi malas ibadah nih. Kenapa? Berat banget jadi ibu. Capek. Eh, itu kan pahalanya gede. Kamu akan dapat bla bla bla. Benar juga ya. Sebaiknya aku bla bla bla.
Itulah hati nurani. Tetaplah menambah ilmu agama, agar hati nurani tak salah menuntun.
Self Talk/Tafakkur ini tidak kalah pentingnya dengan amal ibadah yang berupa tindakan. Mencoba memasukkan Ilahiyah ke dalam hati.
Shalat, doa, dan dzikir, itu yang terpenting adalah bagaimana perasaan/hati kita terlibat. Bacaan shalat yang kita ucapkan adalah rukun, agar shalat menjadi sah. Namun belum tentu kita bisa melibatkan hati sepanjang shalat. Pikiran bisa kemana-mana. Maka perlu effort tambahan, agar merasakan nikmatnya shalat. Sebelum shalat, berdoalah, minta hati yang khusu’. Setelah selesai shalat, ucapkan terimakasih kepada Allah.
Dalam dunia pendidikan, tafakkur disebut dengan refleksi. Setelah guru menerangkan pelajaran, dilakukan tanya jawab agar siswa makin ingat, terakhir siswa diminta membagikan ilmunya ke orang lain. Apakah dengan bercerita ke keluarganya di rumah, atau ke teman-temannya.
Demikianlah, pemaparan tentang hati yang yang selalu terpaut kepada Allah. Selamat berlatih dan membiasakan Self Talk. Semoga Allah membantu dalam setiap upaya kita mendekatkan diri kepadaNya. Aamiin.
Alhamdulillah, bertepatan dengan Hari Ibu tahun ini, PW Salimah DK Jakarta diperkenankan bisa Silaturahmi ke Panti Werdha, Margaguna, Jakarta Selatan.
Agenda acara sebenarnya dimulai pukul 09.00, namun saat Salimah datang pukul 07.00 lebih, sayup-sayup sudah terdengar sholawatan di masjid panti. Kakek nenek begitu antusiasnya untuk bertemu setiap tamu yang datang.
Melihat nenek dan kakek langsung mengingatkan kita dengan orangtua. Ada banyak rasa bercampur. Sedih dan prihatin, namun tetap berusaha gembira supaya nenek kakek tetap bahagia.
Semoga nenek dan kakek bisa ridho dengan kehidupan yang harus diterimanya di hari tuanya. Semoga dengan banyak teman di panti tiap hari bisa membuat nenek dan kakek selalu bahagia. Semoga para pendamping selalu diberikan kesehatan, kesabaran dan keikhlasan merawat sekitar 400 nenek kakek yang ada di panti tersebut.
Mohon doanya, semoga PW Salimah Jakarta bisa terus mengagendakan hadir ke panti-panti jompo lainnya dan bisa membahagiakan nenek kakek. Aamiin.💜💜
Jakarta (2/12) – Sebagai komunitas yang baru berdiri, Komunitas Literasi Salimah (MUSLIMAH) sangat mendukung anggotanya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tentang kepenulisan.
Seperti kali ini, pengurus Salimah Jakarta, dengan penuh antusias mengikuti pelatihan menulis yang diadakan di Uno Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Ahad (1/12).
Acara dibuka dengan kata sambutan dari dr. Yulia Andani, yang menyampaikan tentang pentingnya menulis. Bagaimana para ulama terdahulu juga menuliskan pemikirannya dalam berbagai kitab, sehingga bisa kita baca sampai sekarang.
Kemudian adalah Munawar Aziz, seorang penulis yang sudah sering memberikan pelatihan, termasuk ke lembaga-lembaga pemerintahan, dalam pemaparannya menyampaikan berbagai tips teknik penulisan.
“Cobalah mulai latihan menulis dengan cara penerapan waktu. Menulislah terus tanpa henti hingga waktu yang kita tentukan sendiri, lima belas menit misalnya,” ungkap Munawir.
Lebih lanjut Munawir menjelaskan, ketika kehabisan ide, tetap saja terus menulis, walau mengulang kalimat terakhir yang sama, sampai dapat ide baru. Harus konsisten dan disiplin.
Pemateri kelihatan menguasai betul bidangnya. Apalagi suaranya terdengar jelas dari mikrofon. Suasana tempat juga sangat nyaman, cukup sejuk dan ada iringan alunan musik perlahan. Memberi rasa santai hingga bisa tetap fokus.
Peserta menikmati betul suasana pelatihan. Dan sepertinya mulai terbiasa dalam menulis. Terlihat saat diminta untuk menuliskan sesuatu, semua kelihatan lancar memainkan jemarinya di laptop atau handphone.
Awal mula praktik, peserta diminta untuk membuat tulisan tentang apa saja. Tugas kedua berupa membuat tulisan apa yang dirasakan saat mengikuti pelatihan.
Selanjutnya Munawir berkata, “Ketika dalam proses menulis, jangan dulu baca ulang tulisannya. Membaca ulang saat menulis akan menghambat ide. Baca setelah selesai menuangkan semua ide.”
“Tak perlu langsung mengedit. Abaikan tulisan yang salah ketik. Nggak usah mikir kalimatnya nyambung atau tidak. Yang penting tulis dulu, setelah selesai baru dikoreksi,” ujarnya.
Pada tugas praktik ke tiga, Munawir meminta peserta membuat tulisan tentang rasa syukur dan berterimakasih. Tugas ke empat menulis tentang ayah.
Beberapa peserta diminta membacakan karyanya. Dibaca tersendat-sendat disebabkan menahan tangis karena teringat tokoh sang ayah sendiri. Memang tulisan yang berasal dari hati, apalagi pengalaman sendiri, akan mempermudah lancarnya proses menulis dan bisa menyentuh hati pembaca.
Paradigma peserta dirubah, berbagai tips penulisan disampaikan. Bagi pemula, bisa menulis 500 kata sekali tulis, sudah bagus.
Tidak ada yang tidak bisa menulis, semua pasti bisa, tergantung niatnya. Jangan menunda, jangan khawatir berlebihan. Takut tulisan jelek, takut ditertawakan orang, takut akan malu. Perasaan ini harus disingkirkan.
Kesulitan menulis datang dari diri sendiri, karena niat yang kurang kuat, aksi kurang cepat. Lakukan latihan menulis konsisten selama 21 hari, agar kebiasaan menulis bisa terbentuk.